0
News
    Home Amerika Serikat Arab Saudi Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial UEA

    Arab Saudi dan UEA Disebut Makin Dekat Gabung AS dalam Perang Melawan Iran - Pikiran Rakyat

    3 min read

     

    Arab Saudi dan UEA Disebut Makin Dekat Gabung AS dalam Perang Melawan Iran


    Arab Saudi dan UEA disebut semakin dekat terlibat aksi militer aktif lawan Iran akibat gangguan ekonomi dan blokade Selat Hormuz. /Fayez Nureldine/AFP

    PIKIRAN RAKYAT - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan semakin mendekati keterlibatan militer aktif dalam konflik melawan Iran.

    Langkah ini diambil setelah rentetan serangan Iran mulai melumpuhkan sektor ekonomi vital di kawasan Teluk. Melansir laporan Wall Street Journal, Selasa (24/3/2026), negara-negara Teluk kini bergerak 'selangkah demi selangkah' menuju peran tempur yang lebih agresif.

    Riyadh bahkan dikabarkan telah memberikan izin kepada pasukan Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pangkalan udara di wilayah kedaulatan mereka.

    Kesabaran Riyadh Mencapai Batas

    Seorang sumber internal mengungkapkan bahwa keterlibatan penuh Arab Saudi dalam perang hanyalah 'masalah waktu'. Hal ini diperkuat pernyataan Menlu Arab, Pangeran Faisal, pekan lalu yang menegaskan kesabaran kerajaan terhadap agresi Iran 'tidaklah tak terbatas'.

    Baca Juga: Jepang Lepas Cadangan Minyak Terbesar dan Australia Mulai Kehabisan BBM, Dampak Perang Makin Terasa

    Padahal, pada awal konflik, Riyadh bersikap netral dan melarang penggunaan wilayah udaranya oleh Washington. Namun, sikap ini berubah setelah Iran tetap meluncurkan rudal ke wilayah kerajaan pasca-serangan balasan Israel dan AS pada 28 Februari lalu.

    Saat ini, para pejabat senior dari berbagai ibu kota negara Teluk mendesak AS untuk terus melemahkan kekuatan militer Iran. Tujuannya jelas: memastikan Teheran tidak lagi menjadi ancaman bagi keamanan regional di masa depan.

    Dilema Hubungan dengan Washington dan Israel

    Meski memiliki musuh yang sama, negara-negara Teluk dilaporkan geram terhadap inkonsistensi kebijakan luar negeri AS di bawah pemerintahan Donald Trump. Mereka merasa investasi diplomatik besar ke Washington tak berpengaruh kuat dalam pengambilan keputusan perang.

    Israel sendiri menegaskan kampanye militer ini bertujuan melumpuhkan program nuklir, rudal balistik, dan dukungan proksi Iran, sembari menciptakan momentum bagi rakyat Iran untuk menggulingkan rezim saat ini.***


    Komentar
    Additional JS