0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Analis: AS Klaim Negosiasi Jalan, Iran Tegas Membantah, Siapa Mainkan Narasi di Balik Perang? - Tribunnews

    7 min read

     

    Analis: AS Klaim Negosiasi Jalan, Iran Tegas Membantah, Siapa Mainkan Narasi di Balik Perang? - Tribunnews.com

    Ringkasan Berita:
    • AS mengklaim negosiasi dengan Iran sedang berlangsung, namun Teheran membantah keras.
    • Analis menilai perbedaan pernyataan ini bagian dari strategi masing-masing pihak.
    • Narasi yang saling bertolak belakang dipicu kepentingan politik, militer, dan ekonomi.

    TRIBUNNEWS.COM - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran yang meletus pada Sabtu (28/2/2026) kemarin, sampai hari ini masih berlangsung.

    Presiden AS, Donald Trump mengklaim negosiasi “produktif” sedang berlangsung dengan Iran untuk mengakhiri perang yang dimulai bersama Israel hampir sebulan lalu.

    Klaim tersebut langsung dibantah oleh pejabat tinggi Iran.

    Al Jazeera melaporkan, perbedaan pernyataan ini memunculkan pertanyaan besar tentang siapa yang sebenarnya mengatakan kebenaran di tengah konflik.

    Duel Narasi AS dan Iran

    Trump menyebut telah terjadi pembicaraan “sangat baik” dengan tokoh penting Iran yang tidak disebutkan namanya.

    Ia juga mengklaim ada “poin-poin kesepakatan utama” yang tengah dibahas untuk mengakhiri perang.

    Di sisi lain, pejabat Iran berulang kali menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan Amerika Serikat.

    Baca juga: Iran Izinkan Kapal Non-Musuh Lewat Selat Hormuz, Sinyal Deeskalasi Perang Mulai Terlihat

    Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menyebut klaim tersebut sebagai berita palsu.

    Ia menilai narasi negosiasi sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak global.

    Diduga Taktik Redam Pasar

    Analis menilai pernyataan Trump soal negosiasi tidak lepas dari kepentingan ekonomi.

    Al Jazeera melaporkan, klaim itu muncul di tengah fluktuasi harga minyak yang sempat menyentuh sekitar 120 dolar AS per barel.

    Sejumlah pengamat menilai pernyataan tersebut bisa menjadi upaya untuk menenangkan pasar.

    Selain itu, narasi negosiasi juga dinilai memberi waktu bagi Amerika Serikat untuk memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.

    Jika diperlukan, langkah ini bisa membuka opsi operasi militer lanjutan.

    Kepentingan Politik di AS

    Di dalam negeri, perang ini mulai menjadi beban politik bagi Trump.

    Harga energi yang meningkat berdampak langsung pada konsumen Amerika.

    Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi dukungan publik menjelang pemilu kongres.

    Trump kini dihadapkan pada dua pilihan sulit.

    Melanjutkan perang dengan risiko ekonomi dan politik yang besar, atau mengakhirinya dengan konsekuensi dianggap gagal.

    Baca juga: Iran Tegaskan Pertahankan Kendali Selat Hormuz, AS Kirim Rencana 15 Poin Akhiri Perang Timur Tengah

    Iran Juga Punya Kepentingan

    Di sisi lain, Iran juga memiliki kepentingan dalam membentuk narasi.

    Teheran dinilai tidak ingin memberi ruang bagi AS untuk meredakan tekanan ekonomi global melalui isu negosiasi.

    Iran justru berkepentingan agar dampak ekonomi perang tetap dirasakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

    Strategi ini diharapkan dapat mencegah serangan lanjutan di masa depan.

    Perang dan Perhitungan Strategis

    Sejak perang dimulai, Iran menunjukkan perubahan strategi dengan tidak lagi menahan diri seperti sebelumnya.

    Konflik yang meluas ke kawasan Teluk, termasuk Selat Hormuz, menjadi bagian dari tekanan terhadap AS.

    Di sisi lain, perang juga membawa kerugian besar bagi Iran.

    Lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas dan infrastruktur mengalami kerusakan parah.

    Namun, sebagian kalangan di Iran menilai tekanan militer saat ini justru membuka peluang untuk mendapatkan posisi tawar yang lebih kuat.

    Peluang Negosiasi Tetap Ada

    Meski saling membantah, peluang negosiasi tetap terbuka.

    Sejumlah pihak di Iran diyakini melihat perlunya kesepakatan untuk mencegah situasi memburuk.

    Kesepakatan itu bisa mencakup jaminan tidak ada serangan lanjutan atau penguatan posisi Iran di kawasan.

    Baca juga: Ambisi Trump untuk Damai dengan Iran Disambut Sinis Israel, Netanyahu Tingkatkan Kewaspadaan

    Selama kedua pihak masih memainkan narasi berbeda di ruang publik, kepastian soal negosiasi tetap sulit dipastikan.

    Konflik ini pada akhirnya tidak hanya menjadi perang militer, tetapi juga perang informasi yang memengaruhi pasar global dan opini publik.

    (Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

    Komentar
    Additional JS