6 Alasan Kuat Mojtaba Khamenei Dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran - Beritasatu
6 Alasan Kuat Mojtaba Khamenei Dipilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Jakarta, Beritasatu.com - Konflik antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat memicu perubahan besar dalam struktur kekuasaan di Teheran.
Setelah pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan pada awal konflik, para elite politik dan ulama Iran bergerak cepat menentukan penggantinya.
Beberapa hari kemudian, Majelis Ahli Iran (Assembly of Experts) secara resmi memilih putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru pada Maret 2026.
Pemilihan tersebut langsung memicu perhatian global. Banyak pihak menilai keputusan itu bukan sekadar suksesi keluarga, melainkan bagian dari strategi politik Iran dalam menghadapi perang dan tekanan internasional.
Alasan Mojtaba Khamenei Dipilih Jadi Pemimimpin Tertinggi
Lalu, apa saja alasan Mojtaba Khamenei dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran? Berikut ulasan lengkapnya:
1. Terpilih oleh Majelis Ahli Iran
Dalam sistem politik Iran, pemimpin tertinggi tidak dipilih melalui pemilu umum, melainkan oleh Majelis Ahli, lembaga ulama yang beranggotakan puluhan tokoh agama dengan kewenangan memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi.
Setelah kematian Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, lembaga tersebut menggelar pemungutan suara dan akhirnya memilih Mojtaba Khamenei sebagai pengganti ayahnya.
Media internasional melaporkan keputusan itu diambil secara cepat untuk menjaga stabilitas negara di tengah situasi perang.
Menurut laporan Reuters, para pemimpin Iran ingin memastikan kesinambungan kepemimpinan selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
2. Memiliki jaringan kuat pada militer dan Garda Revolusi Iran
Salah satu faktor utama yang membuat Mojtaba Khamenei dipilih adalah pengaruhnya yang kuat di kalangan aparat keamanan, terutama Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai figur berpengaruh di lingkaran kekuasaan ayahnya dan memiliki hubungan erat dengan jaringan keamanan Iran.
Al Jazeera menyebut Mojtaba sebagai sosok yang memiliki basis kekuatan di kalangan aparat keamanan.
Selain itu, sejumlah laporan media internasional juga menyebut ia memiliki koneksi kuat dengan IRGC dan milisi Basij yang selama ini menjadi tulang punggung kekuatan politik Iran.
Koneksi tersebut membuatnya dianggap mampu menjaga stabilitas negara dan mempertahankan sistem politik Republik Islam.
3. Figur kontinuitas kebijakan Ali Khamenei
Alasan lain yang sering disebut para analis adalah bahwa Mojtaba dipandang sebagai kandidat yang mampu menjaga kesinambungan sistem politik Iran.
Banyak elite Iran menginginkan pemimpin yang tetap mempertahankan garis ideologi revolusi Islam serta kebijakan luar negeri yang keras terhadap Barat.
Sebuah analisis keamanan menyebut penunjukan Mojtaba kemungkinan bertujuan “memastikan kesatuan elite dan keberlanjutan kebijakan negara” di tengah krisis.
Dengan kata lain, memilih putra pemimpin sebelumnya dianggap sebagai cara paling cepat untuk menjaga stabilitas politik dan ideologi negara.
4. Berpengalaman di lingkaran kekuasaan selama bertahun-tahun
Meskipun tidak pernah memegang jabatan publik besar, Mojtaba Khamenei telah lama berperan di balik layar dalam politik Iran.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di kantor kepemimpinan ayahnya yang sering disebut sebagai Bayt-e Rahbari, pusat kekuasaan politik dan keamanan Iran.
Para analis menilai pengaruhnya telah terbentuk selama puluhan tahun.
Media-media internasional menggambarkannya sebagai sosok berpengaruh meskipun tidak memegang jabatan resmi di kalangan elit ulama dan politik Iran. Pengalaman ini membuatnya dipandang sebagai kandidat yang memahami sistem pemerintahan Iran dari dalam.
5. Dukungan elite politik dan ulama konservatif
Pemilihan Mojtaba juga didorong oleh dukungan dari kelompok ulama konservatif dan elite politik garis keras.
Banyak dari kelompok tersebut menganggap Mojtaba sebagai sosok yang dapat mempertahankan ideologi Republik Islam serta melanjutkan kebijakan perlawanan terhadap Barat.
Menurut laporan analis internasional, keputusan tersebut menunjukkan bahwa faksi garis keras masih mendominasi struktur kekuasaan Iran.
Hal ini juga menandakan kemungkinan kecil terjadinya perubahan besar dalam kebijakan Iran terhadap Amerika Serikat maupun Israel dalam waktu dekat.
6. Dipilih sebagai simbol perlawanan terhadap AS dan Israel
Pemilihan Mojtaba Khamenei juga memiliki pesan politik yang kuat di tengah konflik regional. Sejumlah laporan menyebut keputusan tersebut sebagai bentuk penolakan Iran terhadap tekanan Barat.
Reuters melaporkan bahwa penunjukan Mojtaba dianggap sebagai langkah yang menunjukkan Iran memilih konfrontasi daripada kompromi dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.
“Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya,” ujar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara terbuka menentang kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin Iran.
Namun penolakan tersebut justru memperkuat dukungan internal Iran terhadap pemilihan Mojtaba sebagai simbol perlawanan terhadap Barat.
Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran tidak terjadi secara kebetulan. Keputusan tersebut merupakan hasil kombinasi berbagai faktor politik dan strategis, mulai dari dukungan elite konservatif hingga kebutuhan menjaga stabilitas negara di tengah perang.
Dengan faktor-faktor tersebut, kepemimpinan Mojtaba Khamenei diperkirakan akan mempertahankan arah politik Iran yang keras terhadap Barat dan berpotensi memperpanjang dinamika konflik di kawasan Timur Tengah.