Warga Afghanistan yang Kembali ke Tanah Air, Berjuang Saat Ramadhan Dimulai - Arrahmah.id
KABUL (Arrahmah.id) - Sejumlah migran yang baru saja kembali ke kamp pengungsi Kabul mengkritik Pakistan karena mendeportasi mereka selama bulan Ramadhan dan menyerukan peningkatan bantuan selama Ramadhan.
Pada hari pertama bulan suci Ramadhan, saat kota Kabul perlahan-lahan memasuki suasana puasa, kamp pengungsi di pinggiran kota menyaksikan kehadiran besar orang-orang yang baru saja kembali dari Pakistan. Di salah satu sudut kamp, Wali Jan duduk bersama anak-anaknya. Seorang pria yang keluarganya pergi ke Pakistan 45 tahun yang lalu kini telah kembali, pada hari pertama Ramadhan, bersama ketiga anaknya ke tanah yang ia sebut rumah. Kekhawatiran terlihat di wajahnya, sementara anak-anaknya melihat sekeliling dengan mata bertanya-tanya. Wali Jan menggambarkan hari pertamanya di Ramadan di tanah airnya, lansir Tolo News (19/2/2026).
Wali Jan mengatakan kepada Tolo News: “Kami diterima dengan baik di sini. Mereka datang membangunkan kami untuk sahur dan membawakan kami makanan.”
Para pengungsi yang kembali, sambil mengkritik Pakistan karena mendeportasi mereka selama Ramadhan, mengungkapkan kekhawatiran tentang kurangnya tempat tinggal dan sarana keuangan untuk menyiapkan makanan sahur dan buka puasa.
Tasil Khan, seorang pengungsi yang kembali, mengatakan: “Ramadhan telah tiba, dan kami khawatir tentang bagaimana kami akan menghabiskannya. Kami tidak punya apa-apa. Kami meminta agar seseorang membantu kami.”
Dastgir, pengungsi lain yang kembali, mengatakan: “Kami memohon kepada mereka untuk mengizinkan kami tinggal dan menjalankan Ramadhan di sana, tetapi mereka tidak mengizinkannya. Mereka menghancurkan rumah kami, dan kami terpaksa pergi.”
Bersama dengan Imarah Islam Afghanistan, para pengungsi yang kembali juga menyerukan kepada komunitas bisnis negara itu untuk mengulurkan tangan selama Ramadhan dan membantu menyediakan tempat tinggal dan pasokan makanan.
Wakil, yang baru-baru ini kembali dari Pakistan, mengatakan: “Jika hanya Imarah Islam saja, tidak bisa bertanggung jawab untuk membantu semua orang secara langsung. Permintaan kami kepada para pedagang dan investor adalah bahwa ini adalah bulan yang penuh berkah. Kami baru saja kembali ke tanah air kami dan tidak memiliki pekerjaan. Selama satu atau dua bulan, sampai kami menemukan pekerjaan, mereka harus mendukung kami.”
Hal ini terjadi setelah Imarah Islam Afghanistan sebelumnya berulang kali menyerukan pencegahan deportasi paksa migran Afghanistan oleh negara-negara tuan rumah. Namun kini, di tengah lantunan doa yang tenang dan gumaman anak-anak, sebuah pertanyaan yang sama terpendam di mata mereka: Akankah Ramadhan ini menandai awal stabilitas bagi para pengungsi yang kembali, atau kelanjutan dari cobaan yang sulit? Jawabannya tidak hanya terletak pada lembaga-lembaga yang bertanggung jawab, tetapi juga pada solidaritas orang-orang yang dapat membawa kehangatan rumah ke tenda-tenda ini. (haninmazaya/arrahmah.id)