Turki Sebut Serangan AS terhadap Iran Tak Akan Bisa Gulingkan Rezim Berkuasa - Inews
ANKARA, iNews.id - Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Hakan Fidan menegaskan serangan udara terhadap Iran tidak akan bisa meruntuhkan rezim yang berkuasa saat ini. Komentarnya itu disampaikan di tengah ancaman bertubi-tubi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan menyerang Iran jika negara itu terkait program nuklir.
“Tidak, pemerintah tidak akan runtuh. Saya tidak ingin berspekulasi mengenai skenario tertentu di Iran, tapi rezim tidak akan berubah melalui serangan udara atau cara lain. Itu hanya khayalan,” kata Fidan, kepada CNN Turki, saat ditanya apakah pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei akan runtuh jika serangan dilakukan.
Dia menambahkan, serangan mungkin hanya melemahkan pemerintahan Iran, tidak menghancurkannya. Dampak dari melemahnya pemerintahan, layanan terhadap rakyat menjadi berkurang.
"Kemudian, rezim yang ada mungkin memilih untuk mengambil keputusan jauh lebih radikal atau mungkin berusaha untuk memperbaiki situasi. Negara itu bisa berubah," tuturnya.
Pernyataan Fidan tersebut disampaikan saat Iran dan AS bersiap melanjutkan putaran negosiasi nuklir berikut setelah pertemuan pada Jumat pekan lalu.
Fidan menegaskan, isu Iran sangat mendominasi agenda internasional memicu kekhawatiran memengaruhi situasi di Timur Tengah. Fidan menegaskan kawasan tersebut tidak boleh menjadi medan perang baru.
"Presiden kami (Recep Tayyip Erdogan) juga menunjukkan kepekaan maksimal terhadap isu ini," ujarnya, seraya menegaskan Turki akan menggunakan semua cara yang bisa untuk mencegah kemungkinan perang.
Fidan melanjutkan, mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, telah memberi pengarahan mengenai hasil negosiasi pada Jumat. Selain itu pemerintahannya juga juga telah berhubungan dengan AS.
Dia menyebut ketegangan antara kedua negara saat ini sulit diselesaikan dengan cepat.
Fidan menyerukan solusi yang lebih kreatif. Namun dia memastikan untuk saat ini tampaknya tak ada ancaman serangan terhadap Iran dari AS.
"Saat ini, tampaknya tidak ada ancaman perang segera," kata Fidan, seraya menegaskan pintu untuk negosiasi telah dibuka.