0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Spesial

    Sinyal Perang AS–Iran Kian Nyata, Washington Minta Kapal Amerika Menjauh dari Perairan Iran - Tribunnews

    7 min read

     

    Sinyal Perang AS–Iran Kian Nyata, Washington Minta Kapal Amerika Menjauh dari Perairan Iran

    Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dan memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka. 


    Ringkasan Berita:
    • Terbaru, Washington mengeluarkan peringatan resmi kepada seluruh kapal berbendera AS agar menjauh dari perairan teritorial Iran saat melintasi Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.
    • Pedoman itu dirilis Administrasi Maritim Amerika Serikat (MARAD), Senin (9/2/2026) (waktu setempat), menyusul meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk.
    • Pemerintah AS juga secara tegas meminta kapten kapal Amerika tidak mengizinkan pasukan Iran menaiki kapal mereka, dalam situasi apa pun.

     

    SERAMBINEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dan memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka. 

    Terbaru, Washington mengeluarkan peringatan resmi kepada seluruh kapal berbendera AS agar menjauh dari perairan teritorial Iran saat melintasi Selat Hormuz—jalur pelayaran minyak terpenting di dunia.

    Pedoman itu dirilis Administrasi Maritim Amerika Serikat (MARAD), Senin (9/2/2026) (waktu setempat), menyusul meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk.

    Pemerintah AS juga secara tegas meminta kapten kapal Amerika tidak mengizinkan pasukan Iran menaiki kapal mereka, dalam situasi apa pun.

    SELAT HORMUZ - Peta Selat Hormuz. Amerika Serikat menyerukan China agar mencegah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital 20 persen pasokan minyak dunia. Ketegangan meningkat usai serangan udara AS ke Iran.
    SELAT HORMUZ - Peta Selat Hormuz. Amerika Serikat menyerukan China agar mencegah Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital 20 persen pasokan minyak dunia. Ketegangan meningkat usai serangan udara AS ke Iran. (Tangkapan layar)

    “Jika pasukan Iran menaiki kapal komersial berbendera AS, awak kapal tidak boleh melakukan perlawanan secara paksa. Menahan diri dari perlawanan tidak berarti persetujuan atas tindakan boarding tersebut,” demikian bunyi pedoman resmi MARAD dikutip dari Al Jazeera.

    Dalam panduan itu, kapal-kapal Amerika yang melintasi Selat Hormuz disarankan tetap berada sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran, selama tidak membahayakan keselamatan navigasi.

    Baca juga: Netanyahu “Tekan” Trump Agar Tetap Menyerang Iran, Khawatir Negosiasi AS–Iran Berujung Damai

     Kapal yang bergerak ke arah timur bahkan dianjurkan melintas lebih dekat ke perairan Oman.

    Diplomasi Jalan, Ancaman Tetap Menggantung

    Peringatan ini muncul hanya beberapa hari setelah AS dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman, Jumat lalu.

    Meski dialog diplomatik masih berlangsung, retorika keras dan ancaman militer dari kedua pihak justru terus meningkat, membawa Washington dan Teheran ke ambang konfrontasi.

    Selat Hormuz, Titik Api Lama Konflik Global

    Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa.

    Pemerintah AS menyebutnya sebagai “chokepoint minyak terpenting di dunia”, karena menjadi pintu keluar utama energi dari kawasan Teluk menuju pasar global.

    Sejarah mencatat, jalur ini kerap menjadi arena konflik.

    Pada era Perang Iran–Irak 1980-an, kapal-kapal dagang menjadi sasaran serangan dalam konflik yang dikenal sebagai Perang Tanker.

    Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman juga datang dari kelompok Houthi di Yaman yang menyerang kapal-kapal terkait Israel di Laut Merah, sebagai respons atas perang di Gaza.

    Ketegangan kembali memuncak ketika Israel mengebom Iran pada Juni tahun lalu.

    Seorang anggota parlemen Iran bahkan sempat menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz bisa menjadi opsi jika perang meluas.

    Militer Bergerak, Drone Ditembak Jatuh

    Akhir Januari lalu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menggelar latihan angkatan laut di Selat Hormuz. Militer AS merespons dengan memperingatkan Teheran agar menghentikan tindakan yang disebut “tidak aman dan tidak profesional”.

    Tak lama berselang, militer AS mengklaim telah menembak jatuh drone Iran yang mendekati salah satu kapal induknya di kawasan tersebut.

    Washington juga tercatat beberapa kali menyita kapal tanker minyak Iran sebagai bagian dari kampanye sanksi “tekanan maksimum”.

    Bayang-bayang Perang Nuklir

    Di tengah eskalasi militer, isu nuklir kembali menjadi titik panas. Presiden AS Donald Trump pada Desember lalu mengancam akan menyerang Iran jika negara itu kembali mengembangkan program nuklir dan rudalnya.

    Selama perang Juni 2025 yang dipicu Israel AS bahkan dilaporkan membombardir tiga fasilitas nuklir utama Iran.

    Teheran menegaskan bahwa perundingan saat ini hanya membahas isu nuklir.

    Namun pemerintahan Trump ingin memperluas agenda, termasuk soal rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok non-negara seperti Hizbullah dan Hamas.

    Salah satu ganjalan terbesar adalah tuntutan AS agar Iran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Iran menolak, dengan alasan pengayaan merupakan hak kedaulatan dan tidak melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

    AS: Garis Merah di Tangan Trump

    Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Presiden Trump memegang penuh kendali atas arah negosiasi dan kemungkinan besar tidak akan membuka seluruh tuntutan Washington ke publik.

    “Presiden berusaha sangat keras untuk mencapai kesepakatan konstruktif yang baik bagi Amerika Serikat,” kata Vance.

    “Namun seluruh pemerintahan sepakat, jika Iran cukup cerdas untuk menyepakatinya, itu juga akan menguntungkan mereka.”

    Di tengah diplomasi yang rapuh dan pergerakan militer yang makin agresif, satu hal menjadi jelas: Selat Hormuz kembali menjadi titik api dunia dan perang kini terasa lebih dekat dari sebelumnya.(*)


    Komentar
    Additional JS