0
News
    Home Berita China Featured Rusia Spesial

    Rusia Bantu Modernisasi Militer China, Kini Justru Jadi Pesaing Global - Tribunnews

    13 min read

     

    Rusia Bantu Modernisasi Militer China, Kini Justru Jadi Pesaing Global

    Rusia selama puluhan tahun membantu mempersenjatai China melalui penjualan pesawat, kapal, dan sistem pertahanan

    Ringkasan Berita:
    • Rusia selama puluhan tahun membantu mempersenjatai China melalui penjualan pesawat, kapal, dan sistem pertahanan.
    • China belajar cepat dengan meniru teknologi Rusia hingga kini semakin mandiri dan mendekati status kekuatan super.
    • Hubungan kedua negara berubah asimetris, dengan Rusia kehilangan daya tawar sementara China memperkuat dominasi regional.


    TRIBUNNEWS.COM - Rusia telah membantu mempersenjatai militer China selama beberapa dekade.

    Bahkan hingga saat ini, banyak desain persenjataan China menunjukkan garis keturunan teknologi Rusia.

    Kini, seiring meningkatnya kekuatan China, menurunnya kekuatan Rusia, serta kembalinya persaingan kekuatan besar, muncul pertanyaan, "Apakah Rusia menciptakan pesaingnya sendiri di masa depan?".

    Harrison Kass, seorang mantan trainee pilot Angkatan Udara AS sekaligus editor senior bidang pertahanan di 19FortyFive, memberikan analisisnya.

    Sejarah Kerja Sama Rusia dan China

    Pada 1990-an dan awal 2000-an, Rusia membutuhkan mata uang asing dan pembeli yang stabil.

    Sementara itu, China membutuhkan modernisasi cepat untuk menutup kesenjangan kemampuan dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Taiwan.

    Rusia dan China memiliki kepentingan bersama dalam menyeimbangkan kekuatan Amerika Serikat.

    Kerja sama tersebut masuk akal pada masa itu.

    Rusia menjual berbagai pesawat tempur kepada China.

    Pesawat Su-27 versi dasar dijual ke China dengan lisensi dan hak perakitan.

    Hal ini menghasilkan pesawat tempur turunan buatan China sendiri, yakni keluarga J-11.

    Jet Su-27 Rusia yang menabrak drone Amerika Serikat MQ-9 di Laut Hitam pada Selasa (14/3/2023).
    PESAWAT TEMPUR - Jet Su-27 Rusia yang menabrak drone Amerika Serikat MQ-9 di Laut Hitam pada Selasa (14/3/2023). (Vadim Savitsky/Press Office of the Defence Ministry of the Russian Federation/TASS)

    Baca juga: Modernisasi Angkatan Laut China 2026, Tantang Dominasi AS di Pasifik

    Rusia juga menjual varian Su-30, sehingga membantu memperkenalkan industri kedirgantaraan China pada konsep pesawat multiperan, integrasi avionik, dan penggunaan berbagai jenis senjata.

    Kemudian muncul Su-35 Flanker.

    Penjualan pesawat ini lebih kecil dan bersifat simbolis.

    Namun, pada saat itu, China sudah memiliki proyek domestik yang relatif canggih.

    Transfer teknologi yang paling penting dapat dikatakan berasal dari mesin turbofan dan turboshaft Rusia.

    China kesulitan memproduksi mesin turbofan yang andal.

    Mesin AL-31 yang digunakan pada lini Flanker menjadi sumber utama pengaruh Rusia terhadap China selama bertahun-tahun.

    Pengembangan awal sistem pertahanan udara China juga sangat bergantung pada Rusia.

    Penjualan sistem rudal permukaan-ke-udara S-300 menjadi faktor penting.

    Penjualan S-400 selanjutnya memiliki signifikansi politik dan makna taktis, meskipun tidak mewakili lompatan besar dalam kemampuan China.

    Namun, transfer tersebut memungkinkan China meningkatkan kepercayaan diri mereka.

    Di sektor angkatan laut, Rusia menjual kapal selam kelas Kilo dan kapal perusak kelas Sovremenny.

    Kapal selam tersebut dikenal senyap, sementara kapal perusak menawarkan kemampuan serangan permukaan yang siap pakai.

    Pembelian ini memungkinkan China mempercepat pengembangan sejumlah aspek doktrin angkatan lautnya.

    Apakah Rusia Melakukan Kesalahan?

    China belajar dengan cepat melalui peniruan dan rekayasa balik terhadap banyak teknologi Rusia, sehingga ketergantungannya perlahan berkurang.

    Rusia dapat dikatakan membantu mempercepat kemunculan pesaing masa depan yang kini menantang posisi Rusia di pasar ekspor pihak ketiga.

    Penjualan senjata tersebut, meningkatkan kemampuan China dalam memperebutkan dominasi regional.

    Seiring waktu, hubungan itu menjadi semakin asimetris, di mana China memperoleh teknologi, sementara Rusia memperoleh uang tunai tetapi kehilangan daya tawar.

    Pilihan Rusia sangat terbatas pada 1990-an, dan industri pertahanannya membutuhkan pesanan luar negeri untuk bertahan hidup.

    Rusia tidak memiliki kemewahan untuk memilih-milih, dan China menjadi pelanggan besar serta dapat diandalkan.

    Perdagangan senjata memberi Rusia pengaruh politik dan keselarasan strategis, setidaknya pada tahap awal, dengan kekuatan global yang sedang bangkit.

    Namun, sejauh mana Rusia memfasilitasi pematangan kekuatan China kemungkinan besar dilebih-lebihkan.

    China kemungkinan tetap akan melakukan modernisasi, bahkan tanpa bantuan Rusia, dengan memperoleh teknologi, talenta, dan desain dari berbagai sumber lain, menurut Kass.

    Bagi Rusia, negara itu masih mempertahankan mekanisme pencegah utama berupa senjata nuklir dan sistem pertahanan dalam negeri yang kuat, sehingga penjualan senjata tidak dianggap membahayakan keamanan domestiknya.

    Ke depan, Rusia diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menjual teknologi mutakhir kepada China.

    Sementara itu, China akan berfokus pada pengembangan sistem dalam negeri dan hanya membeli secara selektif pada bidang yang masih memiliki celah kemampuan.

    Dalam jangka panjang, hubungan kedua negara kemungkinan akan menampilkan Rusia sebagai pemasok sumber daya secara selektif, sementara China mengambil peran manufaktur yang semakin dominan.

    Bisnis Tiru-meniru yang Didukung Pemerintah

    Mengutip US Naval Institute News, praktik peniruan yang dilakukan China tidak lagi terbatas pada daerah-daerah terpencil yang minim penegakan hukum.

    Bisnis ini telah memasuki arus utama dan bahkan dirangkul oleh pejabat pemerintah yang tampaknya bersedia membiarkan negara lain mengembangkan produk dan teknologi, yang kemudian dapat mereka peroleh secara sah melalui lisensi maupun secara tidak sah.

    Pendekatan tersebut, memungkinkan China tetap kompetitif di panggung global sekaligus menghemat waktu dan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk mengembangkan produk mereka sendiri.

    Berikut daftar sejumlah jet tempur dan persenjataan pertahanan lainnya yang diduga ditiru oleh China.

    TEKNOLOGI MILITER CHINA - Kolase tangkap layar US Naval Institute News, memperlihatkan perbandingan pesawat militer China dan pesawat militer dari negara lain.
    TEKNOLOGI MILITER CHINA - Kolase tangkap layar US Naval Institute News, memperlihatkan perbandingan pesawat militer China dan pesawat militer dari negara lain. (tangkapan layar)

    Pesawat

    • Pesawat tempur Shenyang J-15 Flying Shark buatan China didasarkan pada pesawat tempur Sukhoi Su-33 Rusia.
    • Shenyang J-31, yang diperkenalkan pada akhir 2014, memiliki bentuk yang mirip dengan Lockheed Martin F-35B Lightning II dari Amerika Serikat.
    • Pesawat latih supersonik Hongdu L-15 Falcon berbasis pada Yakovlev Yak-130 Rusia.
    • Shenyang J-11 didasarkan pada pesawat tempur Sukhoi Su-27 Rusia.
    • Pesawat angkut Shaanxi Y-9 buatan China mirip dengan pesawat angkut Antonov An-12 Cub (Rusia).

    Kendaraan Tanpa Awak

    • UCAV (pesawat tempur tanpa awak) Lijian buatan China mirip dengan Northrop Grumman X-47B dari Amerika Serikat.
    • Helikopter tanpa awak SVU-200 Flying Tiger buatan China mirip dengan helikopter tanpa awak Northrop Grumman MQ-8 Fire Scout (AS).
    • Pesawat nirawak (UAV) Chengdu Wing Loong “Pterodactyl” mirip dengan pesawat nirawak General Atomics MQ-1 Predator (AS).

    Kendaraan Darat

    • Howitzer swa-gerak PLZ-05 buatan China mirip dengan howitzer swa-gerak 2S19 Msta-S (Rusia).
    • Peluncur roket multi-laras PHL03 buatan China mirip dengan peluncur roket ganda BM-30 Smerch “Whirlwind” (Rusia).

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)


    Komentar
    Additional JS