0
News
    Home Berita Dunia Internasional Featured Iran IRGC Spesial

    Ledakan di Iran Tewaskan 1 Orang, Media Berafiliasi IRGC Bantah Ada Serangan - Tribunnews

    8 min read

     

    Ledakan di Iran Tewaskan 1 Orang, Media Berafiliasi IRGC Bantah Ada Serangan

    Ledakan di Bandar Abbas menewaskan seorang anak dan melukai 14 orang, diduga disebabkan oleh kebocoran gas.

    Ringkasan Berita:
    • Ledakan di Bandar Abbas menewaskan seorang anak dan melukai 14 orang.
    • Tasnim News Agency menyebut penyebabnya kebocoran gas dan membantah adanya serangan terhadap komandan IRGC.
    • Negosiasi Iran dan Amerika Serikat berlangsung di tengah protes besar dan latihan militer di Selat Hormuz.


    TRIBUNNEWS.COM – Sebuah ledakan dahsyat mengguncang sebuah gedung apartemen di kota pelabuhan Bandar Abbas, Iran, menewaskan seorang gadis berusia 4 tahun.

    Mengutip The Canadian Press, ledakan itu terjadi pada Sabtu (31/1/2026), sehari sebelum latihan angkatan laut yang direncanakan Iran di Selat Hormuz.

    Sebanyak 14 orang lainnya dilaporkan terluka dalam insiden tersebut.

    Kantor Berita Tasnim, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), mengutip pernyataan pihak pemadam kebakaran yang menyebut ledakan itu disebabkan oleh kebocoran gas.

    Kantor berita tersebut membantah klaim bahwa seorang komandan angkatan laut Garda Revolusi menjadi sasaran.

    Mereka menyatakan rumor tersebut sepenuhnya salah dan merupakan bagian dari operasi psikologis kelompok-kelompok anti-Iran.

    Secara terpisah, empat orang juga dilaporkan tewas dalam ledakan gas lainnya di sebuah gedung perumahan di kota Ahvaz, barat daya Iran.

    Protes berskala besar yang terjadi sejak akhir Desember 2025 telah menyebabkan banyak korban jiwa di Iran.

    Presiden AS Donald Trump berulang kali menekan Iran agar melakukan negosiasi mengenai program nuklirnya.

    Dalam pernyataan terbaru pada Sabtu (31/1/2026), pejabat keamanan tertinggi Iran mengatakan ada kemajuan dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, meskipun kepala militer Republik Islam memperingatkan AS agar tidak melancarkan serangan militer.

    Donald Trump mengonfirmasi bahwa kedua pihak sedang berdialog, sambil tetap memprioritaskan ancaman serangan.

    “Iran sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu. Jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi. Kita memiliki armada besar yang menuju ke sana,” katanya kepada Fox News.

    Baca juga: Araghchi: Jika Mau Negosiasi, AS Harus Berhenti Ancam Iran

    “Mereka sedang bernegosiasi.”

    Amerika Serikat telah mengerahkan kapal perang yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln di lepas pantai Iran, setelah Trump mengancam akan campur tangan terhadap aksi protes di negara tersebut.

    “Bertentangan dengan gembar-gembor perang media yang dibuat-buat, pengaturan struktural untuk negosiasi sedang berjalan,” kata Ali Larijani, kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

    Mengutip CNA, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan konflik yang lebih luas akan merugikan Iran dan AS.

    “Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan, dan sama sekali tidak menginginkan, perang dan sangat yakin bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan ini,” katanya dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, menurut kepresidenan Iran, Sabtu.

    Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, mengadakan pembicaraan di Teheran dengan Larijani pada Sabtu untuk mencoba meredakan ketegangan di kawasan tersebut.

    Latihan Angkatan Laut Iran

    Sebelumnya pada Jumat (30/1/2026), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) akan melakukan latihan angkatan laut dengan tembakan langsung selama dua hari di Selat Hormuz, pusat transit utama pasokan energi global.

    CENTCOM memperingatkan IRGC terhadap perilaku yang tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS.

    Peringatan itu dibalas tanggapan keras dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

    “Militer AS sekarang mencoba mendikte bagaimana Angkatan Bersenjata kami yang perkasa harus melakukan latihan menembak di wilayah mereka sendiri,” tulis Araghchi di X.

    AS menetapkan IRGC sebagai organisasi teroris pada 2019, sebuah langkah yang kemudian diikuti Uni Eropa pada Kamis (29/1/2026) lalu, yang memicu reaksi keras dari Iran.

    Protes di Iran

    Protes nasional terhadap kenaikan biaya hidup meletus pada 28 Desember, sebelum berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang lebih luas dan mencapai puncaknya pada 8 dan 9 Januari.

    Pihak berwenang menyebut aksi meletus menjadi kerusuhan dan menyalahkan jatuhnya korban jiwa kepada AS dan Israel.

    Jumlah korban tewas resmi menurut pihak berwenang mencapai 3.117 jiwa.

    Namun, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS menyatakan telah mengonfirmasi 6.713 kematian, termasuk 137 anak-anak.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)


    Komentar
    Additional JS