China Kehilangan Pengaruh di Amerika Latin Usai Putusan Mahkamah Agung Panama - Viva
China Kehilangan Pengaruh di Amerika Latin Usai Putusan Mahkamah Agung Panama
VIVA – Mahkamah Agung Panama pada akhir Januari membatalkan kontrak yang selama ini memberi izin kepada Panama Ports Company — anak perusahaan firma CK Hutchison berbasis di Hong Kong — untuk mengoperasikan dua pelabuhan di Terusan Panama sejak 1997.
Putusan tersebut menyatakan bahwa undang-undang yang menjadi dasar operasi perusahaan itu bersifat "tidak konstitusional". Keputusan ini muncul sekitar satu tahun setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih kendali kanal guna membatasi pengaruh China atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Beijing merespons keras putusan itu dengan menyebutnya "absurd, memalukan, dan menyedihkan", serta memperingatkan bahwa pemerintah Panama akan membayar " harga politik dan ekonomi yang mahal" karena mengeluarkan perusahaan tersebut dari pelabuhan. Banyak pihak menilai keputusan ini sebagai sinyal terbaru bahwa ambisi China di kawasan Amerika Latin mulai kehilangan momentum.
Pengaruh China di Amerika Latin sendiri tergolong fenomena baru. Sejak 1823, ketika Presiden AS James Monroe menyatakan belahan bumi barat tertutup bagi kolonisasi Eropa, Washington secara historis mempertahankan pengaruh kuat di kawasan tersebut. Namun setelah berakhirnya Perang Dingin pada 1991, berkurangnya fokus AS membuka ruang bagi kekuatan baru seperti China untuk memperluas pengaruh ekonomi dan politiknya.
Saat ini, China telah menjadi mitra dagang utama bagi Amerika Selatan dan mitra dagang terbesar bagi Amerika Latin secara keseluruhan. Selain itu, Beijing juga menjadi sumber besar investasi langsung dan pinjaman infrastruktur di kawasan.
Meningkatnya pengaruh China di wilayah yang selama ini dianggap sebagai "halaman belakang" AS memicu kekhawatiran pemerintahan Trump. Setelah operasi penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro pada Januari, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, "Ini adalah belahan bumi barat. Di sinilah kita tinggal – dan kita tidak akan membiarkan belahan bumi barat menjadi basis operasi bagi musuh, pesaing, dan saingan Amerika Serikat."
Di Washington, pengusiran Panama Ports Company diperkirakan akan dipandang sebagai kemenangan geopolitik. Namun, insiden ini juga berpotensi mendorong negara-negara Amerika Latin untuk meninjau kembali ketergantungan ekonomi mereka pada China.
Selama dua dekade terakhir, Beijing mengucurkan pinjaman besar ke Amerika Latin dan Karibia. Berbeda dengan pinjaman dari Bank Dunia atau IMF yang mensyaratkan reformasi struktural, pinjaman China umumnya memiliki sedikit persyaratan, tetapi sering meminta jaminan pembayaran melalui ekspor komoditas seperti minyak di masa depan.
Di sisi lain, sejumlah kritik menyoroti standar lingkungan dan ketenagakerjaan dalam investasi China. Analisis Komite PBB tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya pada 2023 terhadap 14 proyek China di Amerika Latin menemukan pola pelanggaran serius, termasuk terhadap hak masyarakat adat serta hak atas kesehatan, lingkungan yang sehat, air, makanan, dan perumahan.
Investasi China juga kerap terfokus pada sektor infrastruktur strategis. Beijing menguasai saham mayoritas di pelabuhan Chancay di Peru dan perusahaan-perusahaan China mengendalikan sekitar dua pertiga distribusi energi di Chili. Kondisi ini membuat sebagian negara di kawasan mulai mempertimbangkan langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Beijing.
Pada Februari 2025, Panama menjadi negara pertama di kawasan yang menarik diri dari Inisiatif Sabuk dan Jalan — proyek investasi global unggulan China. Keputusan tersebut muncul setelah kunjungan Marco Rubio, yang dikritik pejabat China sebagai upaya AS untuk “dengan sengaja menabur perselisihan” antara Beijing dan Panama.
Presiden Panama José Raúl Mulino bahkan mempertanyakan manfaat nyata proyek tersebut dengan mengatakan, “Saya tidak tahu apa niat mereka yang menandatangani perjanjian ini dengan China. Apa yang telah diberikan kepada Panama selama bertahun-tahun ini? Apa hal-hal hebat yang telah dibawa oleh Inisiatif Sabuk dan Jalan ini bagi negara ini?”
Pilihan China
Di sisi lain, China sendiri tampaknya mulai mengurangi prioritas investasi di Amerika Latin. Pertumbuhan ekonomi kawasan yang relatif lambat serta meningkatnya risiko keterlambatan pembayaran pinjaman membuat Beijing mengurangi pembiayaan negara sejak 2020 dan menahan proyek infrastruktur besar dalam beberapa tahun terakhir.
Penangkapan Nicolás Maduro oleh AS juga menunjukkan kesiapan pemerintahan Trump untuk mendorong perubahan politik besar di kawasan, yang berpotensi mengancam kemampuan China menagih utang yang belum dibayar.
Sebagai contoh, analis memperkirakan pemerintah Venezuela yang baru dapat menantang legitimasi utang sekitar US$10 miliar kepada China dengan menggunakan doktrin “utang yang tidak sah” (odious debt), yakni klaim bahwa utang rezim sebelumnya tidak menguntungkan negara sehingga tidak wajib dilunasi.
Sementara itu, masa depan kepemilikan dua pelabuhan di Terusan Panama masih belum jelas. Panama Ports Company telah mengumumkan akan menempuh proses arbitrase internasional terhadap Panama, sebuah proses yang kemungkinan berlangsung lama. Namun banyak pengamat menilai keputusan ini menandai perubahan besar — dan mungkin akhir dari masa dominasi ekonomi China yang begitu kuat di Amerika Latin. (theconversation)