AS Ultimatum Iran Usai Perundingan, Perang Makin Sulit Dihindari - CNBC Indonesia
AS Ultimatum Iran Usai Perundingan, Perang Makin Sulit Dihindari
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan peringatan terbuka agar Teheran segera mencapai kesepakatan dengan Presiden Donald Trump, di tengah sinyal berulang mengenai kemungkinan opsi militer dan pengerahan tambahan kekuatan di Timur Tengah.
Peringatan tersebut disampaikan Rabu (18/2/2026) waktu setempat, hanya sehari setelah Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan putaran kedua perundingan tidak langsung yang dimediasi Oman di Jenewa. Jalur diplomasi itu kembali dibuka setelah sebelumnya runtuh akibat eskalasi militer tahun lalu.
"Iran akan sangat bijaksana jika membuat kesepakatan dengan Presiden Trump dan dengan pemerintahannya," kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, dilansir AFP.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Donald Trump kembali mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap Iran melalui unggahan di platform Truth Social miliknya, di tengah pengerahan militer AS yang terus diperkuat di kawasan.
Dalam unggahan tersebut, Trump juga memperingatkan Inggris agar tidak melepaskan kedaulatan atas Kepulauan Chagos di Samudra Hindia. Ia menyebut pangkalan udara Diego Garcia di kepulauan itu mungkin diperlukan jika Iran tidak menyetujui kesepakatan, "untuk melenyapkan potensi serangan dari rezim yang sangat tidak stabil dan berbahaya."
Adapun upaya negosiasi sebelumnya gagal ketika Israel melancarkan serangan mendadak terhadap Iran pada Juni tahun lalu, memicu perang selama 12 hari yang kemudian sempat diikuti Washington dengan membombardir sejumlah fasilitas nuklir Iran.
Sikap Iran
Di Teheran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak menginginkan perang, namun juga tidak akan tunduk pada tekanan AS.
"Kami tidak menginginkan perang," ujar Pezeshkian pada Rabu.
"Sejak hari pertama saya menjabat, saya percaya bahwa perang harus disingkirkan. Tetapi jika mereka mencoba memaksakan kehendak kepada kami, mempermalukan kami dan menuntut agar kami menundukkan kepala dengan harga berapa pun, haruskah kami menerima itu?"
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negaranya sedang "menyusun" kerangka kerja untuk pembicaraan lanjutan dengan AS. Araghchi menyatakan Teheran telah menyepakati "prinsip-prinsip panduan" dengan Washington.
Namun Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran belum mengakui seluruh "garis merah" yang ditetapkan AS.
Pada Rabu pagi, Araghchi juga melakukan pembicaraan telepon dengan Rafael Grossi, kepala badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA).
Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran disebutkan bahwa Araghchi "menegaskan fokus Republik Islam Iran pada penyusunan kerangka awal yang koheren untuk memajukan pembicaraan di masa depan".
Hubungan Teheran dengan IAEA memang sedang tegang. Iran menangguhkan sebagian kerja sama dan membatasi akses inspektur ke lokasi yang dibom Israel dan AS, dengan menuduh badan PBB tersebut bersikap bias dan gagal mengecam serangan tersebut.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan Washington akan mencegah Iran memperoleh senjata nuklir "dengan cara apapun."
"Mereka sudah sangat jelas tentang apa yang akan mereka lakukan dengan senjata nuklir. Itu sepenuhnya tidak dapat diterima," ujar Wright di Paris, di sela-sela pertemuan International Energy Agency.
Unjuk Kekuatan Militer
Pada saat diplomasi berlangsung, AS terus memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran.
Washington telah memerintahkan pengiriman kapal induk kedua ke kawasan tersebut. Kapal induk pertama, USS Abraham Lincoln, bersama hampir 80 pesawatnya, pada Minggu terpantau berada sekitar 700 kilometer dari pantai Iran berdasarkan citra satelit.
Iran pun menunjukkan kesiapan militernya. Garda Revolusi Iran memulai serangkaian latihan perang sejak Senin di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dan gas dunia.
Para politisi Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut, yang menjadi salah satu jalur utama energi global. Pada Selasa, televisi pemerintah melaporkan bahwa Teheran akan menutup sebagian perairan itu untuk alasan keselamatan selama latihan militer berlangsung.
(luc/luc)