0
News
    Home Berita Featured NATO Rusia Spesial Vladimir Putin

    5 Negara NATO: Rusia Habisi Musuh Putin, Alexey Navalny, dengan Racun Katak Ganas - SINDOnews

    6 min read

     

    5 Negara NATO: Rusia Habisi Musuh Putin, Alexey Navalny, dengan Racun Katak Ganas


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.


    Minggu, 15 Februari 2026 - 05:47 WIB


    Lima negara NATO Eropa tuduh Rusia membunuh musuh politik Presiden Vladimir Putin, Alexey Navalny (kanan), dengan racun katak panah. Foto/Sky News

    MUNICH - Lima negara NATO Eropa—Inggris Raya, Prancis, Jerman, Swedia, dan Belanda—menuduh Rusia membunuh musuh politik Presiden Vladimir Putin, Alexey Navalny, dengan racun katak panah yang terkenal ganas pada tahun 2024. Tuduhan ini berdasarkan hasil laboratorium dari sampel yang diambil dari tubuh pemimpin oposisi Rusia tersebut.

    Kelima pemerintah itu mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu (14/2/2026) bahwa sampel jaringan secara meyakinkan mengonfirmasi racun mematikan epibatidine. Racun itu ditemukan pada katak panah liar dari Amerika Selatan, dan dilaporkan 200 kali lebih kuat daripada morfin.

    Baca Juga: Berani Menentang, Nyawa Melayang: Ini 10 Musuh Putin yang Terbunuh

    “Inggris, Swedia, Prancis, Jerman, dan Belanda yakin bahwa Alexey Navalny diracuni dengan racun mematikan,” bunyi pernyataan yang dikeluarkan kelima negara NATO itu selama Konferensi Keamanan Munich.

    "Rusia memiliki sarana, motif, dan kesempatan untuk memberikan racun ini," imbuh Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris dalam sebuah pernyataan.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan kepada kantor berita RIA Novosti bahwa dia akan berkomentar setelah hasil tes dipublikasikan—sesuatu yang dia catat belum dilakukan.

    Kelima negara NATO itu mengatakan bahwa mereka melaporkan Rusia ke Organisasi Pelarangan Senjata Kimia atas pelanggaran Konvensi Senjata Kimia. Tidak ada komentar langsung dari organisasi tersebut.

    Navalny, yang memperjuangkan anti-korupsi pejabat dan menggelar protes anti-Kremlin sebagai musuh terberat Presiden Vladimir Putin, meninggal di koloni penjara Arktik pada 16 Februari 2024. Dia meninggal saat menjalani hukuman 19 tahun penjara yang dia sebut bermotivasi politik.

    Epibatidin ditemukan secara alami pada katak panah dan juga dapat diproduksi di laboratorium, sesuatu yang dicurigai oleh para ilmuwan Eropa sebagai penyebab dugaan keracunan Navalny.

    Racun tersebut bekerja dengan menyebabkan sesak napas, kejang, dan detak jantung melambat, serta dapat membunuh seketika.

    Kelima negara itu mengatakan Rusia perlu dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran berulang terhadap Konvensi Senjata Kimia.

    Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper telah bertemu dengan janda Navalny, Yulia Navalnaya, di Konferensi Keamanan Munich. Dia mengatakan temuan baru tersebut menyoroti rencana biadab Kremlin untuk membungkam suara Navalny.

    Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menulis di X bahwa dugaan keracunan tersebut menunjukkan Vladimir Putin siap menggunakan senjata biologis terhadap rakyatnya sendiri untuk tetap berkuasa.

    Pemerintah Rusia telah berulang kali membantah keterlibatannya dalam kematian Navalny. Pihak berwenang mengatakan dia jatuh sakit setelah berjalan-jalan dan meninggal karena sebab alami.

    “Setelah ada hasil tes—setelah ada formula untuk zat-zat tersebut—akan ada komentar. Tanpa ini, semua pembicaraan dan pernyataan hanyalah kebocoran informasi yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari masalah mendesak Barat,” kata Zakharova.

    Tidak jelas bagaimana sampel dari tubuh Navalny diperoleh atau di mana sampel tersebut dinilai. Cooper mengatakan kepada wartawan, “Para ilmuwan Inggris bekerja sama dengan mitra Eropa kami untuk mencari kebenaran tentang kematian Navalny."

    Navalnaya mengatakan bahwa pembunuhan suaminya kini merupakan fakta yang terbukti secara ilmiah.

    “Dua tahun lalu, saya naik ke panggung di sini dan mengatakan bahwa Vladimir Putin-lah yang membunuh suami saya,” kata Navalnaya di sela-sela Konferensi Keamanan Munich.

    “Tentu saja, saya yakin itu adalah pembunuhan, tetapi saat itu, itu hanya kata-kata. Tetapi hari ini kata-kata ini telah menjadi fakta yang terbukti secara ilmiah,” imbuh Navalnaya.

    Navalny sebelumnya menjadi target serangan racun saraf pada tahun 2020 yang dia tuduh dilakukan oleh Kremlin.

    Dia diterbangkan ke Jerman untuk perawatan, dan ketika kembali ke Rusia lima bulan kemudian, dia langsung ditangkap dan dipenjara selama tiga tahun sisa hidupnya.

    Inggris juga membuka penyelidikan publik atas keracunan agen ganda Rusia, Sergey Skripal, di Inggris pada tahun 2018. Penyelidikan tersebut menyimpulkan tahun lalu bahwa Putin secara pasti telah memerintahkan serangan racun saraf Novichok. Kremlin membantah keterlibatannya.

    Rusia juga membantah meracuni Alexander Litvinenko, mantan agen Rusia yang kemudian menjadi kritikus Kremlin yang meninggal di London pada tahun 2006 setelah menelan isotop radioaktif polonium-210. Penyelidikan Inggris menyimpulkan bahwa dua agen Rusia membunuh Litvinenko.

    (mas)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Infografis

    8 Negara dengan Aturan...

    8 Negara dengan Aturan Berpakaian Paling Ketat, Ada yang Melarang Sandal Jepit

    Komentar
    Additional JS