0
News
    Home Amerika Serikat Berita Denmark Dunia Internasional Featured Spesial

    Waspadalah Trump! Militer Denmark Terapkan 'Tembak Dulu, Tanya Belakangan' Jika AS Invasi Greenland - Tribunnews

    6 min read

     

    Waspadalah Trump! Militer Denmark Terapkan 'Tembak Dulu, Tanya Belakangan' Jika AS Invasi Greenland - Tribunnews.com

    Penulis: Hasiolan E.P.G
    Tangkap Layar KI/Kredit Foto:Sean Gallup/Getty
    PASUKAN DENMARK - Seorang prajurit Angkatan Bersenjata Denmark berdiri di atas tanknya selama Ajang Tank Challenge Internasional Angkatan Darat AS di Eropa dan Afrika pada 11 Februari 2025, di Grafenwoehr, Jerman. Denmark akan menerapkan aturan menembak dulu, bertanya belakangan terhadap agresor di Greenland. 

    Waspadalah Trump! Militer Denmark 'Tembak Dulu, Tanya Belakangan' Jika AS Invasi Greenland

    Ringkasan Berita:
    • Denmark masih memiliki perintah tahun 1952 untuk menembak pasukan penyerang di tempat.
    • Doktrin militer dan perintah menembak tanpa perlu menunggu perintah itu berlaku untuk Greenland
    • Aturan ini muncul kembali ketika Donald Trump memperbarui ancamannya untuk merebut pulau itu dengan kekuatan militer. 

    TRIBUNNEWS.COM - Tentara Denmark, di bawah aturan militer yang telah berlaku selama beberapa dekade, akan menerapkan doktrin "tembak dulu, bertanya belakangan" jika Amerika Serikat (AS) mencoba merebut Greenland dengan kekerasan dan kekuatan militer. 

    Ini bukan pernyataan yang dibuat oleh Denmark; ini berasal dari aturan tahun 1952 yang mengharuskan tentara untuk menyerang pasukan penyerang "segera" tanpa menunggu perintah apa pun.

    Kementerian Pertahanan Denmark, pada Rabu (7/1/2026), mengkonfirmasi kepada surat kabar Denmark Berlingske kalau peraturan tersebut "tetap berlaku".

    Laporan dan publikasi media di Denmark tersebut melaporkan kalau jika terjadi invasi, aturan tersebut menetapkan kalau "pasukan yang diserang harus segera memulai pertempuran tanpa menunggu atau mencari perintah, bahkan jika komandan yang bersangkutan tidak mengetahui deklarasi perang atau keadaan perang".

    Mengkonfirmasi keberlanjutan aturan tersebut, Kementerian Pertahanan Denmark mengatakan, "Perintah tentang tindakan pencegahan untuk pertahanan militer jika terjadi serangan terhadap negara dan selama perang, tetap berlaku".

    AS Siap Membeli, Semua Opsi Tetap Terbuka

    Beberapa hari terakhir, Trump mengancam akan mengambil alih Greenland, baik melalui cara halus, rayuan untuk membeli wilayah itu, maupun lewat cara militer.

    Presiden AS mengklaim bahwa Amerika Serikat "membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional". 

    Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt telah mengkonfirmasi kalau kemungkinan tawaran AS untuk membeli wilayah yang berpemerintahan sendiri itu "saat ini sedang aktif dibahas oleh presiden dan tim keamanan nasionalnya,".

    Meski begitu, pemerintahan Trump belum mengesampingkan penggunaan kekuatan militer.

    "Semua opsi selalu terbuka bagi Presiden Trump saat ia mempertimbangkan apa yang terbaik bagi kepentingan AS… tetapi opsi pertama presiden, selalu, adalah diplomasi," komentar Leavitt.

    REBUTAN GREENLAND. - Foto merupakan tangkap layar dari YouTube Global News yang diambil pada Selasa (11/2/2025), menunjukkan Greenland diselimuti salju. Presiden AS Donald Trump telah mengintensifkan retorikanya mengenai Greenland, sebuah wilayah yang secara resmi merupakan bagian dari Denmark.
    REBUTAN GREENLAND. - Foto merupakan tangkap layar dari YouTube Global News yang diambil pada Selasa (11/2/2025), menunjukkan Greenland diselimuti salju. Presiden AS Donald Trump telah mengintensifkan retorikanya mengenai Greenland, sebuah wilayah yang secara resmi merupakan bagian dari Denmark. (Tangkap layar dari YouTube Global News)

    Eropa Siap Pertahankan "Integritas Teritorial" Greenland

    Pada Selasa (6/1/2028), tujuh pemimpin Eropa, dari Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Denmark, dalam sebuah pernyataan bersama menyatakan bahwa mereka tidak akan berhenti "membela dan mempertahankan" Greenland

    Hal ini justru membuat Trump marah, yang di Truth Social mengecam sekutu NATO AS dan mengingatkan mereka bahwa "sebagian besar tidak membayar tagihan mereka".

    Berikut ungkapan kemarahan Trump di platform media sosial tersebut:

    "Ingat, untuk semua penggemar NATO yang fanatik itu, mereka hanya menyumbang 2 persen dari PDB, dan sebagian besar tidak membayar tagihan mereka, SAMPAI SAYA DATANG. AS, dengan bodohnya, membayar untuk mereka! Saya, dengan hormat, berhasil meningkatkan kontribusi mereka menjadi 5?ri PDB, DAN MEREKA MEMBAYAR, SEGERA," katanya sekali lagi mengklaim bahwa dia "sendirian MENGAKHIRI 8 PERANG".

    Polisi di Osaka Jepang Terseret 700 Meter di Kap Mobil, Pengemudi Buron
    Internasional
    Komentar
    Additional JS