0
News
    Home Donald Trump Dunia Internasional Featured Greenland Spesial

    Trump Tak Gubris Desakan NATO, Tetap Kejar Kendali Greenland Meski Negara Eropa Kirim Pasukan - Tribunnews

    10 min read

     

    Trump Tak Gubris Desakan NATO, Tetap Kejar Kendali Greenland Meski Negara Eropa Kirim Pasukan

    Trump tetap membidik Greenland meski NATO dan negara Eropa kirim pasukan. Ambisi keamanan dan mineral strategis AS picu ketegangan baru di Arktik.



    Ringkasan Berita:
    • AS menegaskan pengerahan pasukan Eropa dan desakan NATO tidak mengubah ambisi Trump menguasai Greenland demi kepentingan keamanan dan pencegahan pengaruh China–Rusia.
    • Greenland dinilai vital bagi pertahanan AS di Arktik serta kaya mineral strategis, termasuk tanah jarang, yang penting untuk industri teknologi dan militer AS.
    • Greenland menolak keras rencana AS karena melanggar kedaulatan, sementara negara-negara NATO mengirim pasukan terbatas ke Greenland untuk latihan dan keamanan Arktik.

    TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pengerahan pasukan Eropa ke Greenland tidak akan menghalangi ambisi Washington untuk mengambil alih kendali atas Greenland.

    Pernyataan itu disampaikan Trump diwakili Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt di tengah meningkatnya kehadiran militer negara-negara NATO di kawasan Arktik, yang dipandang sebagai respons atas eskalasi ketegangan geopolitik.

    “Saya rasa kehadiran pasukan Eropa tidak mempengaruhi proses pengambilan keputusan presiden, dan juga tidak memengaruhi tujuannya untuk mengakuisisi Greenland sama sekali,” kata Leavitt dalam konferensi pers, Kamis (15/1/2026).

    Trump juga beralasan bahwa tanpa keterlibatan Amerika Serikat yang lebih besar, kawasan Greenland berpotensi menjadi sasaran pengaruh Rusia dan China.

    Karena itu, pemerintah AS menilai penguatan kendali atas Greenland sebagai langkah pencegahan untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan kekuatan global.

    “Amerika Serikat membutuhkan Greenland untuk tujuan Keamanan Nasional. Ini sangat penting untuk Golden Dome yang sedang kita bangun. NATO harus memimpin jalan bagi kita untuk mendapatkannya,” tulis Trump di Truth Social.

    Selain faktor keamanan, Washington memandang Greenland sebagai kawasan kaya sumber daya mineral strategis, termasuk mineral tanah jarang yang dibutuhkan industri teknologi dan pertahanan.

    Trump menilai penguasaan wilayah tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan Amerika Serikat terhadap pasokan mineral dari China.

    Rencana Trump Dikecam

    Namun upaya Trump dikecam keras oleh pemerintah Greenland, menurutnya pengambilalihan secara paksa dianggap melanggar kedaulatan dan tidak dapat diterima dalam kondisi apapun.

    Baca juga: Cuma Rusia yang Bisa Menghentikan AS, Ejekan Moskow ke Eropa-Denmark Soal Niat Trump di Greenland

    Ini karena Greenland merupakan wilayah otonom Denmark, yang memiliki hak untuk mengatur urusan internalnya, termasuk pertahanan dan pengelolaan sumber daya alam.

    Kepemilikan AS akan menghapus kontrol Greenland atas keputusan strategis dan politiknya sendiri, termasuk program pembangunan, eksplorasi mineral, serta pengelolaan sumber daya energi dan lingkungan Arktik.

    “Amerika Serikat sekali lagi menegaskan keinginannya untuk mengambil alih Greenland. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diterima oleh koalisi pemerintahan di Greenland dalam keadaan apapun,” kata pernyataan resmi pemerintah wilayah otonom itu.

    Partai-partai politik lokal pun menekankan sikap serupa, menolak berada di bawah kendali Washington dan menegaskan akan mempertahankan kedaulatan pulau tersebut.

    Pemerintah Greenland menegaskan, meski AS menilai pulau kaya mineral itu strategis, pengambilalihan secara paksa dianggap melanggar kedaulatan dan tidak dapat diterima dalam kondisi apapun.

    Untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, dua pesawat angkut pasukan Denmark mendarat di Greenland.

    Selain itu, Inggris, Prancis, Jerman, Finlandia, Belanda, Norwegia, dan Swedia mengumumkan pengerahan personel militer ke ibu kota Greenland, Nuuk, dalam rangka latihan gabungan bertajuk “Arctic Endurance” yang digelar Denmark bersama sekutu NATO.

    Sumber pertahanan Eropa menegaskan bahwa penguatan militer ini bersifat terbatas dan difokuskan pada persiapan latihan jangka panjang di wilayah Arktik. Sebagai contoh, Jerman hanya mengirim 13 personel militer sebagai bagian dari misi pengintaian.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa tim militer Prancis telah tiba di Greenland dan akan diperkuat dengan aset darat, udara, dan maritim dalam beberapa hari ke depan.

    Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jerman menyebut pengerahan tersebut bertujuan untuk menjajaki kemungkinan kontribusi militer guna mendukung Denmark dalam menjaga keamanan kawasan.

    Denmark dan Greenland Dorong Diplomasi

    Namun di tengah meningkatnya ketegangan, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menekankan bahwa dialog dan diplomasi tetap menjadi jalan terbaik ke depan.

    Ia menyambut baik dimulainya komunikasi intensif antara pihak-pihak terkait.

    Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan bahwa Denmark dan Amerika Serikat sepakat membentuk kelompok kerja untuk membahas peningkatan keamanan Arktik. Namun, ia mengakui perbedaan pandangan mendasar masih tetap ada.

    “Ambisi Amerika untuk mengambil alih Greenland tetap utuh,” kata Frederiksen. Meski demikian, ia menegaskan terdapat konsensus di dalam NATO bahwa penguatan kehadiran di Arktik penting bagi keamanan Eropa dan Amerika Utara.

    Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa jika Amerika Serikat tidak bertindak, China atau Rusia berpotensi menguasai Greenland.

    Ia bahkan mengejek upaya Denmark dalam menjaga keamanan wilayah tersebut, dengan menyebutnya tidak lebih dari “dua kereta luncur anjing”.

    Denmark mengungkapkan telah menginvestasikan hampir 14 miliar dolar AS untuk memperkuat keamanan kawasan Arktik.

    Meski dialog terus berjalan, ketegangan seputar masa depan Greenland menunjukkan bahwa kawasan Arktik kini menjadi medan persaingan geopolitik baru, di mana kepentingan keamanan, ekonomi, dan kedaulatan saling beririsan.

    (Tribunnews.com / Namira)


    Komentar
    Additional JS