Sedang Perang Melawan Rusia, 200.000 Tentara Ukraina Malah Kabur - SindoNews
Sedang Perang Melawan Rusia, 200.000 Tentara Ukraina Malah Kabur
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Jum'at, 16 Januari 2026 - 13:21 WIB
Presiden Volodymyr Zelensky saat menemui tentara Ukraina yang berperang melawan Rusia. Kyiv akui sekitar 200.000 tentaranya menghilang dari tugas saat perang sedang berlangsung. Foto/Kantor Pers Kepresidenan Ukraina
KYIV - Sekitar 200.000 tentara telah desersi atau kabur tanpa izin resmi ketika negara itu sedang berperang melawan invasi Rusia. Data jumlah tentara yang "menghilang" itu diungkap Menteri Pertahanan Ukraina Mykhailo Fedorov.
Berbicara di hadapan Verkhovna Rada (Parlemen Ukraina) pada hari Rabu, Fedorov juga mengungkapkan bahwa sekitar 2 juta warga Ukraina terdaftar sebagai "buronan" karena menghindari wajib militer dan kewajiban mobilisasi.
Ini menandai salah satu pengakuan paling mengejutkan namun jujur dari seorang pejabat senior Ukraina di tengah perang skala penuh melawan Rusia, sebagaimana dikutip dari EurAsian Times, Jumat (16/1/2026).
Baca Juga: Sekutu Putin: Jika Rusia Nyaris Kalah, Senjata Nuklir Digunakan dan Eropa Hancur!
Pengungkapan ini muncul di tengah laporan tentang moral yang rendah, kelelahan, dan masalah mobilisasi, meskipun angka dari Fedorov merupakan pertama kalinya skala masalah tersebut didokumentasikan.
Desas-desus tentang rendahnya moral dan tingginya angka desersi di kalangan tentara Ukraina telah beredar sejak lama, tetapi komentar Fedorov menandai pertama kalinya seorang pejabat Kyiv mengungkapkan skala masalah tersebut.
Berdasarkan hukum Ukraina, semua pria berusia antara 18 hingga 60 tahun harus mendaftar ke militer, meskipun hanya mereka yang berusia 25 hingga 60 tahun yang wajib dimobilisasi.
Hukum darurat militer Ukraina melarang semua pria berusia 23 hingga 60 tahun yang memenuhi syarat untuk dinas militer meninggalkan negara yang dilanda perang tersebut, tetapi ribuan orang telah melarikan diri.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa "perubahan yang lebih luas" diperlukan dalam proses mobilisasi.
EurAsian Times sebelumnya melaporkan bahwa negara itu telah mengalami lebih dari 250.000 kasus tentara "menghilang" sejak perang dimulai pada tahun 2022. Angka-angka ini, yang dikutip dari Kantor Jaksa Agung, termasuk AWOL (Absent Without Leave/Ketidakhadiran Tanpa Izin Resmi).
Terdapat hampir 7.000 kasus AWOL pada tahun 2022, 17.658 pada tahun 2023, 67.840 pada tahun 2024, dan 105.500 dari Januari hingga Juli 2025. Untuk desersi, terdapat sekitar 3.400 kasus pada tahun 2022, 7.900 pada tahun 2023, 23.300 pada tahun 2024, dan 15.400 dari Januari hingga Juli 2025.
Secara keseluruhan, Ukraina mencatat hampir 10.400 desersi (termasuk AWOL) pada tahun 2022, 25.558 pada tahun 2023, 91.140 pada tahun 2024, dan 120.900 pada tujuh bulan pertama tahun 2025.
Tren ini menyoroti meningkatnya tekanan pada angkatan bersenjata Ukraina di tengah konflik berkepanjangan dengan Rusia.
Pada tahun 2022, tahun pertama invasi skala penuh Rusia, rata-rata hampir 29 tentara desersi setiap hari.
Angka tersebut meningkat tajam menjadi hampir 70 per hari pada tahun 2023, kemudian melonjak lebih jauh menjadi sekitar 250 per hari pada tahun 2024. Pada tujuh bulan pertama tahun 2025, angka harian telah meroket menjadi hampir 576 tentara yang meninggalkan unit mereka tanpa izin.
Meskipun beberapa kasus melibatkan tentara yang meminta transfer atau absen singkat sebelum kembali, skala keseluruhan menggarisbawahi krisis tenaga kerja kritis yang telah dijanjikan Fedorov untuk diatasi melalui reformasi, termasuk dukungan garis depan yang lebih baik, pengurangan birokrasi, dan integrasi teknologi canggih yang lebih besar.
Panglima Militer Letnan Jenderal Oleksandr Syrsky juga mengakui kekurangan personel akut sebelumnya, yang memaksa Kyiv untuk mengirim staf pemeliharaan ke garis depan.
“Sayangnya, kemampuan mobilisasi tidak mencukupi kebutuhan,” kata Syrsky. “Oleh karena itu, kami mengambil langkah-langkah untuk mengurangi komponen logistik, komponen pendukung, dan komponen yang terlibat dalam pemeliharaan, dalam batas yang wajar.”
Sementara itu, Rusia mengatakan bahwa Ukraina kehabisan pilihan untuk mencapai kesepakatan.
“Situasi semakin memburuk dari hari ke hari bagi rezim Kyiv,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, menambahkan bahwa “koridor pengambilan keputusan” Kyiv “semakin menyempit”.
“Sudah saatnya Zelensky mengambil tanggung jawab dan membuat keputusan yang tepat,” kata Peskov, tampaknya mendesak Kyiv untuk menyetujui persyaratan keras Moskow.
Presiden AS Donald Trump telah menyatakan kekecewaannya terhadap kedua belah pihak, tanpa adanya terobosan untuk mengakhiri perang. Negosiator Ukraina, AS, dan Eropa telah menyepakati kerangka kerja 20 poin untuk mengakhiri perang, kata Zelensky, sebuah penyesuaian terhadap proposal 28 poin yang awalnya diajukan oleh Washington yang “menguntungkan” Moskow.
Peskov mengatakan bahwa dialog dengan Amerika Serikat terus berlanjut.
Dia mengatakan bahwa pihak Eropa telah melakukan banyak pembicaraan dengan pihak Amerika, dan bahwa "penting bagi pihak Rusia untuk juga menyampaikan pendapatnya mengenai diskusi-diskusi ini."
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina