0
News
    Home Amerika Amerika Serikat Berita Donald Trump Greenland NATO

    Olok-olok Donald Trump ke NATO Saat AS Sesumbar Segera Punya Akses Penuh Tanpa Batas di Greenland - Tribunnews

    8 min read

     

    Olok-olok Donald Trump ke NATO Saat AS Sesumbar Segera Punya Akses Penuh Tanpa Batas di Greenland

    olok-olok Trump ke NATO yang terkenal selalu mendengungkan pertahanan kolektif namun cenderung diam saja saat AS 'diserbu' imigran.



    Olok-olok Trump ke NATO Saat AS Sesumbar Segera Punya Akses Penuh ke Greenland

    TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim sudah menyusun kerangka kerja kesepakatan antara AS dan Eropa yang diwakili NATO terkait kontrol ke Greenland, pulau yang diklaim menjadi wilayah Denmark.

    Seusai berbicara dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO, Mark Rutte, Rabu kemarin di sela agenda Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Trump memiliki keyakinan kalau kesepakatan sudah di depan mata.

    Baca juga: Kanada yang Rapuh dan Nafsu Amerika Mencaplok Greenland: China Sudah Mengintip di Swedia

    Namun, klaim Trump soal itu banyak diragukan, terutama karena belum ada persetujuan jelas dari Denmark dan dari rakyat Greenland itu sendiri.

    Adapun gelagat Trump, juga menyiratkan kalau masih ada pertentangan di dalam NATO soal usulan kesepakatan AS ini.

    Pada Jumat (23/1/2026), Trump mengisyaratkan kalau dia akan "menguji" NATO dengan mengaktifkan Pasal 5 aliansi tersebut untuk menegakkan perlindungan perbatasan selatan AS dari "invasi migran".

    Hal ini dianggap sebagai olok-olok Trump ke NATO yang terkenal selalu mendengungkan pertahanan kolektif namun cenderung diam saja saat AS 'diserbu' imigran.

    Sebagai catatan, Trump yang menggalakkan program anti-imigran di negaranya, menilai kalau banyaknya orang-orang dari luar AS yang tinggal dan menetap di neara tersebut merupakan 'serbuan' dan dia nilai sebagai 'ancaman' bagi keamanan AS itu sendiri.

    Menyindir NATO dengan pasal 5 aliansi tersebut, Trump seperti ingin mengatakan kalau AS, bagian dan tulang punggung NATO, tengah dalam serangan namun negara lain yang menjadi anggota justru adem-ayem.

    Soal ini, Trump kemudian menulis dalam sebuah pernyataan kontroversial:

    "Seharusnya kita mengaktifkan Pasal 5, dan memaksa NATO untuk datang ke sini untuk melindungi perbatasan selatan kita, sehingga membebaskan sejumlah besar agen Patroli Perbatasan (AS) untuk tugas-tugas lain."

    Usulan tersebut muncul di tengah diskusi di Forum Ekonomi Dunia di Davos, di mana Trump mempromosikan inisiatif keamanannya seperti "Dewan Perdamaian," meskipun ada perbedaan pendapat dengan sekutu seperti Kanada.

    Pasal 5 perjanjian NATO menetapkan pertahanan kolektif otomatis jika suatu negara anggota diserang.

    Namun, Trump mengaitkannya dengan imigrasi ilegal dan menyebutnya sebagai "invasi" yang memerlukan intervensi internasional.

    Presiden AS itu juga membuat marah negara-negara Eropa sekutunya dengan mengklaim pasukan NATO 'berada agak jauh' dari garis depan di Afghanistan.

    DEWAN PERDAMAIAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, secara resmi menunjukkan dokumen atau piagam yang menjadi dasar pembentukan Dewan Perdamaian, Kamis (22/1/2026). Penandatanganan itu dilakukan dalam sebuah upacara resmi di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
    DEWAN PERDAMAIAN - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, secara resmi menunjukkan dokumen atau piagam yang menjadi dasar pembentukan Dewan Perdamaian, Kamis (22/1/2026). Penandatanganan itu dilakukan dalam sebuah upacara resmi di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. (Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni)

    Akses Penuh Tanpa Batas AS di Greenland 

    Donald Trump mengatakan kesepakatan yang diklaimnya telah tercapai mengenai Greenland akan memberi AS akses "total" dan tanpa batas ke wilayah Denmark tersebut.

    Berbicara kepada wartawan dalam perjalanan pulang dari Davos, Trump mengatakan kesepakatan itu akan "jauh lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat, jauh lebih menguntungkan,".

    Namun, Trump menghindari pertanyaan tentang kedaulatan wilayah tersebut.

    Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menyambut baik keputusan Trump awal pekan ini untuk mengenyampingkan aksi militer.

    Meski begitu, dia mengatakan, “Saya tidak tahu apa isi perjanjian atau kesepakatan itu tentang negara saya.”

    Anggota parlemen Greenland telah menyampaikan kekhawatiran kalau NATO dan AS sedang menegosiasikan kesepakatan tanpa masukan dari mereka.

    Mereka juga mengatakan kalau Greenland harus dilibatkan dalam pembicaraan apa pun mengenai masa depannya .

    Sementara itu, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen tiba di pulau itu pada Jumat untuk berbicara dengan pemimpin Greenland Jens-Frederik Nielsen, setelah mengunjungi Keir Starmer di Inggris pada hari Kamis.

    Para pemimpin Eropa menyambut baik meredanya ketegangan dengan Washington terkait Greenland, tetapi masih terguncang pada hari Jumat setelah Donald Trump meragukan komitmen NATO kepada AS, dengan mengklaim bahwa pasukan sekutu yang datang membantu Amerika setelah peristiwa 9/11 tetap berada "di luar garis depan" di Afghanistan.

     

    (oln/khbrn/indpndt/*)


    Komentar
    Additional JS