Kanada yang Rapuh dan Nafsu Amerika Mencaplok Greenland: China Sudah Mengintip di Swedia - SINDOnews
Kanada yang Rapuh dan Nafsu Amerika Mencaplok Greenland: China Sudah Mengintip di Swedia
Verner menyebut, fasilitas penelitian Tiongkok di Svalbard, Swedia utara, dan Islandia telah mengubah persepsi ancaman AS.
Kanada yang Rapuh dan Nafsu Amerika Mencaplok Greenland: China Sudah Mengintip di Swedia
Ringkasan Berita:
- Niat AS mengontrol Greenland dipandang sebagai manajemen risiko dalam negeri yang didorong rapuhnya celah kutub yang melintasi Greenland dan wilayah utara Kanada.
- AS memperlakukan Amerika Utara sebagai satu sistem pertahanan tunggal.
- Kanada dianggap AS sebagai negara pasif atas kerentanan yang terjadi di titik yang sangat vital.
TRIBUNNEWS.COM - Joe Varner, peneliti senior di Institut Macdonald-Laurier dan Pusat Kemakmuran dan Keamanan Amerika Utara di Washington DC memberi ulasan dari sisi Amerika Serikat (AS) soal mengapa Presiden Donald Trump begitu ngotot menguasai Greenland.
Varner yang juga wakil direktur Konferensi Asosiasi Pertahanan di AS menyebut, sikap agresif Washington terhadap Greenland bukanlah ambisi semata.
"Itu (keinginan AS menguasai Greenald) adalah manajemen risiko dan risiko yang dikelolanya terkait langsung dengan wilayah Arktik yang membentang di Kanada," kata Varner dalam tulisannya di national security journal, dikutip Rabu (21/1/2026).
"Keinginan Amerika mengontrol Greenland bukanlah tentang fantasi akuisisi; ini tentang kerentanan Amerika terhadap ancaman nyata," tambahnya menepiskan kekhawatiran Denmark dan Eropa atas akuisisi pulau tersebut.
Baca juga: Lapisan Rahasia Sedalam 300 Meter di Bawah Es Bisa Bikin Trump Mikir 2 Kali Buat Caplok Greenland
Rapuhnya Celah di Kanada
Terlepas dari nature AS yang ekspansionis, strategi Keamanan Nasional AS memang secara eksplisit menyatakan kalau pertahanan tanah air Amerika saat ini, dimulai jauh dari wilayah perbatasannya.
"Karena itu, tidak ada musuh yang dapat dibiarkan membahayakan AS melalui serangan rudal, serangan siber, atau paksaan melalui geografi," ujar Varner.
Dia menjelaskan, di tengah konstalasi persaingan dunia yang cepat saat ini, Greenland telah menjadi cara tercepat bagi Washington untuk menutup celah yang menurutnya tidak lagi dapat dibiarkan terbuka.
Celah yang dimaksud adalah titik lemah, area titik potensial yang menurut AS bisa menjadi akses bagi musuh untuk menyerang.
"Celah-celah itu juga membentang tepat melalui Arktik Kanada," kata Verner.
Perlu dipahami, dari perspektif AS, Amerika Utara adalah satu sistem pertahanan tunggal.
Segala macam potensi serangan baik rudal, pesawat pengebom, kapal selam, dan operasi serangan siber, bisa terjadi tanpa perlu melintasi perbatasan.
'Mereka (potensi serangan) memanfaatkan ruang, kecepatan, dan celah. Celah paling berbahaya (bagi AS) terletak di sepanjang jalur masuk kutub, melalui Greenland dan di atas wilayah udara dan maritim utara Kanada yang luas. Ketika peringatan terlambat atau liputan minim, AS tidak menunggu konsensus untuk mengatasi ancaman. AS bertindak," kata Verner.

Faktor China
Urgensi akan Greenland tersebut semakin meningkat.
Verner menyebut, fasilitas penelitian Tiongkok di Svalbard, Swedia utara, dan Islandia telah mengubah persepsi ancaman AS.
Kehadiran China di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran AS tentang kehadiran saingan yang semakin meluas dan akses penggunaan ganda di wilayah yang dulunya dianggap aman.
Dalam konteks itu, Greenland berubah status dari wilayah geografis terpencil menjadi wilayah strategis yang sangat penting.
Pun, AS sudah memiliki berbagai fasilitas penangkal ancaman seperti Pangkalan Luar Angkasa Pituffik yang telah menjadi landasan peringatan rudal, kontrol domain ruang angkasa, dan komando serta kendali dengan cara yang segera mengurangi risiko,
"Namun, kehadiran Amerika di pangkalan dan di seluruh pulau masih belum cukup untuk mengatasi spektrum penuh ancaman yang muncul di Kutub Utara," kata Verner.

Kanada dan AS, Antara Benci dan Cinta
Langkah Amerika Serikat di Greenland akan menjadi kurang menguntungkan bagi Kanada.
Bukan apa-apa, AS akan lebih agresif dalam teritorial negara tersebut, meskipun mereka bersekutu.
"Hal ini mencerminkan keyakinan AS yang kian kuat kalau jalur akses di kawasan utara masih kurang diawasi, dipertahankan, dan diperkuat, dan waktu tidak lagi berpihak pada Amerika Utara. Inilah mengapa pilihan pertahanan (di bagian teritorial) Kanada jauh lebih penting daripada yang mungkin disadari Ottawa," katanya.
Varner kemudian merujuk pada pembelian jet tempur siluman F-35 oleh Kanada, satu di antara sedikit negara yang diizinkan AS untuk memiliki persawat tempur canggih tersebut.
"Pembelian F-35 bukan sekadar penggantian pesawat tempur. Di mata AS, ini adalah ujian apakah Kanada bermaksud untuk tetap relevan secara operasional dalam lingkungan pertahanan udara dan rudal yang paling menantang di planet ini," ulas Vanner
Nilai pesawat ini, papar dia, terletak pada penginderaan, jaringan, dan pengoperasian di dalam wilayah udara yang diperebutkan, persis seperti yang dibutuhkan pertahanan kontinental saat ini.
"Jika diintegrasikan dengan benar ke dalam operasi NORAD dan Arktik, F-35 akan menutup celah. Namun, jika diperlakukan sebagai platform prestise tanpa infrastruktur pendukung dan kesiapan, pesawat ini tidak akan efektif," kata Vanner menunjuk sikap AS yang 'sebal' terhadap Kanada.
Hal yang sama berlaku untuk rencana Kanada untuk mengakuisisi kapal selam baru.
Menurutnya, peperangan bawah laut bukan lagi masalah kecil.
Aktivitas kapal selam Rusia dan kemungkinan juga Tiongkok, merupakan inti dari bagaimana musuh mengancam AS di bawah ambang batas perang.
"Armada Kanada yang sudah tua telah meninggalkan wilayah maritim utara yang luas dengan pengawasan yang minim. Kapal selam baru akan secara langsung mengurangi kerentanan AS. Penundaan hanya akan mendorong Washington untuk melakukan kompensasi di tempat lain. Kemudian ada pertahanan rudal, yang semakin sering digambarkan sebagai Kubah Emas," katanya soal rencana pertahanan AS di masa mendatang.
Faktir ini menjawab mengapa AS cenderung galak dan kritis terhadap Kanada.
"Ini bukan sekadar formalitas opsional dalam perencanaan AS. Ini mencerminkan penilaian kalau pencegahan sekarang bergantung pada penolakan kepercayaan musuh AS kalau mereka dapat menyerang AS secara telak.
Varner mengatakan, ambiguitas Kanada yang sudah lama ada mengenai partisipasi pertahanan rudal sangat berbeda di Washington saat ini.
Dia menjelaskan, "Di dunia yang dipenuhi rudal hipersonik dan rudal jelajah, ambiguitas tampak kurang seperti kehati-hatian dan lebih seperti kerentanan".
Namun, sikap galak AS ke Kanada ini tidak mencerminkan permusuhan Amerika terhadap Kanada. Justru sebaliknya, pertahanan AS di sisi utara akan sangat tergantung pada Kanada.
"AS berasumsi bahwa Kanada akan tetap menjadi mitra terdekatnya. Hanya, AS tidak lagi bisa mengandalkan niat baik saja untuk mengamankan jalur akses utara," kata dia.
Kanada masih memiliki pilihan soal sikap AS yang cenderung mengobok-obok negara mereka saat ini:
- Sepenuhnya mengintegrasikan F-35
- Mewujudkan kepemilikan kapal selam
- Memperkuat pengawasan Arktik,
- Membuat keputusan yang jelas tentang Golden Dome
Semua pilihan itu akan dipandang AS sebagai bentuk keseriusan sehingga Kanada akan lebih punya ruang sebagai sebuah negara mandiri.
"Jika Kanada menunda-nunda, Washington akan menutup jalur masuk utara melalui Greenland dan sekitarnya; jika itu terjadi, kedaulatan Kanada di Arktik akan memudar bukan karena paksaan, tetapi hanya karena kelalaian," kata Varner memprediksi kalau AS juga akan "menguasai sebagian wilayah Kanada di masa mendatang.
(oln/*)
:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/donald-trump-dan-Ali-Khamenei-iran.jpg)