Harta Karun Greenland Tak Mudah Digali, Ambisi Trump Terganjal Realita Alam Arktik - SindoNews
3 min read
Harta Karun Greenland Tak Mudah Digali, Ambisi Trump Terganjal Realita Alam Arktik
Senin, 12 Januari 2026 - 08:30 WIB
Proyek The White Mountain (Qaqortorsuaq) adalah tambang anortosit kaya kalsium yang sedang dikembangkan di Greenland. FOTO/Mining Technology
A
A
A
KOPENHAGEN - Tambang Qaqortorsuaq milik Lumina Sustainable Materials menjadi satu-satunya operasi pertambangan aktif di Greenland. Meski berada di wilayah Arktik yang kaya mineral dan kini menjadi sorotan global seiring dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai kawasan tersebut, tambang ini hingga kini belum mencatatkan keuntungan.
Berada di perairan terpencil Arktik, tambang Qaqortorsuaq hanya dapat diakses dengan kapal atau helikopter, sekitar 80 kilometer di sebelah barat Kangerlussuaq, tanpa akses jalan darat. Tambang ini menambang anortosit, mineral industri yang digunakan untuk serat kaca dan bahan bangunan, dengan tantangan logistik tinggi karena pengiriman suku cadang peralatan bisa memakan waktu satu hingga dua minggu.
"Kami harus memikirkan segalanya karena tidak bisa langsung telepon dan harap suku cadang datang pagi harinya," ujar Direktur Pelaksana Lumina, Bent Olsvig Jensen, saat dikunjungi Business Insider pada Juni lalu, dikutip Minggu (11/1/2026).
Baca Juga: AS Akan Beli Greenland, Setiap Warganya Diimingi Rp1,6 Miliar
Produksi di tambang ini dimulai pada 2008 setelah melalui 11 tahun eksplorasi dan beroperasi 24 jam sepanjang tahun. Target produksi ditetapkan mencapai 400.000 ton pada 2026. Namun, meski mendapat dukungan dana ekuitas swasta dari Kanada dan Swiss melalui Cordiant Capital serta Apex, tambang tersebut belum mencapai titik impas, kata Ketua Kehormatan Cordiant Capital James Kiernan.
Berada di perairan terpencil Arktik, tambang Qaqortorsuaq hanya dapat diakses dengan kapal atau helikopter, sekitar 80 kilometer di sebelah barat Kangerlussuaq, tanpa akses jalan darat. Tambang ini menambang anortosit, mineral industri yang digunakan untuk serat kaca dan bahan bangunan, dengan tantangan logistik tinggi karena pengiriman suku cadang peralatan bisa memakan waktu satu hingga dua minggu.
"Kami harus memikirkan segalanya karena tidak bisa langsung telepon dan harap suku cadang datang pagi harinya," ujar Direktur Pelaksana Lumina, Bent Olsvig Jensen, saat dikunjungi Business Insider pada Juni lalu, dikutip Minggu (11/1/2026).
Baca Juga: AS Akan Beli Greenland, Setiap Warganya Diimingi Rp1,6 Miliar
Produksi di tambang ini dimulai pada 2008 setelah melalui 11 tahun eksplorasi dan beroperasi 24 jam sepanjang tahun. Target produksi ditetapkan mencapai 400.000 ton pada 2026. Namun, meski mendapat dukungan dana ekuitas swasta dari Kanada dan Swiss melalui Cordiant Capital serta Apex, tambang tersebut belum mencapai titik impas, kata Ketua Kehormatan Cordiant Capital James Kiernan.
Minat strategis Amerika Serikat terhadap sektor tambang Greenland meningkat seiring negosiasi investasi di sejumlah proyek mineral. CEO Amaroq Minerals mengatakan kepada CNBC pada Rabu bahwa perusahaannya tengah berunding dengan lembaga AS terkait kontrak pengambilan hasil tambang, bantuan infrastruktur, dan fasilitas kredit untuk operasi emas, tembaga, dan tanah jarang. Lumina sendiri telah memperoleh surat kesepakatan senilai 125 juta dolar AS dari Export-Import Bank AS serta menerima kunjungan delegasi pemerintah Jepang pada November 2025.
Baca Juga: Sejarah Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland, dari Abad ke-19 hingga Era Trump
Perhatian geopolitik tersebut mencerminkan persaingan global dalam mengamankan pasokan mineral kritis sebagai alternatif rantai pasok China. Greenland diketahui menyimpan 25 dari 34 mineral krusial versi Komisi Eropa, termasuk unsur tanah jarang yang dibutuhkan untuk industri pertahanan dan teknologi hijau. Namun, pengembangannya membutuhkan waktu panjang. "Butuh 16 tahun untuk kembangkan tambang, mulai dari ide pertama hingga tambang nyata," kata Menteri Sumber Daya Alam Greenland Naaja Nathanielsen pada Juni.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, Menteri Luar Negeri Denmark dan perwakilan Greenland di Amerika Serikat dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pekan depan. Menanggapi wacana penguasaan wilayah oleh Washington, pemimpin Greenland menegaskan, "kami tidak ingin jadi orang Amerika, kami ingin jadi orang Greenland," sementara sejumlah anggota Kongres AS menyebut diplomat Denmark dan Greenland menegaskan wilayah itu tidak untuk dijual.
(nng)