0
News
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional China Featured Greenland Spesial Uni Eropa

    AS dan China Ingin Meminang Greenland, Uni Eropa Pasang Badan - Viva

    5 min read

     

    AS dan China Ingin Meminang Greenland, Uni Eropa Pasang Badan

    Jakarta, VIVA – Di tengah perubahan iklim dan dinamika geopolitik, Greenland, negara otonom di bawah Kerajaan Denmark yang juga negara anggota Uni Eropa, diperebutkan oleh berbagai kekuatan besar dunia.

    Greenland Dihantam Megatsunami Setinggi Hampir 200 Meter

    Terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ngebet mengakuisisi menjadi bagian dari negaranya. Satu di antaranya lantaran wilayah ini memiliki sumber daya mineral yang kaya.

    Greenland menyimpan cadangan mineral penting seperti logam tanah jarang (rare Earth), grafit, dan nikel. Ketiga mineral ini dibutuhkan untuk teknologi modern, mulai dari baterai ponsel pintar dan kendaraan listrik hingga energi baru terbarukan (EBT).

    Tetapkan Garda Revolusi Iran Organisasi Teroris, Teheran: Uni Eropa Salah Strategi

    Secara keseluruhan, 25 dari 34 jenis mineral yang dianggap sebagai bahan baku penting oleh Komisi Uni Eropa ditemukan di Greenland, termasuk grafit, niobium, dan titanium, menurut Survei Geologi Denmark dan Greenland pada 2023.

    Greenland juga diperkirakan memiliki sekitar 36 juta ton logam tanah jarang, meskipun hanya sekitar 1,5 juta ton yang saat ini dianggap sebagai cadangan yang layak secara ekonomi.

    Istana Sebut Negosiasi Tarif Impor AS Kemungkinan Selesai Februari 2026

    Proyek Malmbjerg, yang memperoleh izin eksploitasi selama 30 tahun pada Juni 2025, diproyeksikan dapat memulai operasi penambangan pada 2028 dan berpotensi memasok sekitar 25 persen kebutuhan molibdenum Uni Eropa sekaligus memenuhi 100 persen kebutuhan sektor pertahanan kawasan tersebut.

    Namun, akses terhadap sumber daya mineral Greenland telah menjadi isu penting. Bagi pemerintahan Trump, yang menempatkan ekonomi AS sebagai pusat visi geopolitiknya dan menjadikan upaya memerangi dominasi China di industri logam tanah jarang sebagai prioritas.

    Ketertarikan Donald Trump untuk mengendalikan Greenland "terutama berkaitan dengan akses ke sumber daya mineral dan menghalangi akses China", menurut Steven Lamy, profesor hubungan internasional di Universitas Southern California, seperti dikutip dari situs BBC, Senin, 26 Januari 2026.

    Selama musim panas, pemerintahan Trump menyetujui kemungkinan mendukung proyek pertambangan sebuah perusahaan AS di Greenland, melalui pembiayaan sebesar US$120 juta (Rp2 triliun) dari ekspor-impor Bank of the United States.

    Rencana ini dibangun berdasarkan kesepakatan lain yang telah disepakati pemerintahan Trump dengan Australia dan Jepang, serta perusahaan swasta, untuk mengamankan akses AS terhadap pasokan dan produksi logam tanah jarang.

    Begitu juga Uni Eropa.

    Greenland Resources Inc. mengumumkan pada pekan lalu bahwa pengujian ulang (reassay) sampel inti pengeboran dari endapan molibdenum Malmbjerg di wilayah Greenland timur bagian tengah menunjukkan adanya mineralisasi logam tanah jarang hingga 579,5 bagian per juta (parts per million/ppm) dalam bentuk total rare Earth oxide.

    Temuan baru ini menambah nilai strategis proyek tersebut, yang sebelumnya telah ditetapkan sebagai proyek prioritas dalam RESourceEU Action Plan milik Komisi Uni Eropa.

    Pemerintahan Benua Biru sampai mengalokasikan dana sebesar 3 miliar Euro (Rp59,6 triliun) pada tahun ini untuk mempercepat pengembangan proyek bahan baku kritis melalui inisiatif RESourceEU, dengan proyek Malmbjerg milik Greenland Resources termasuk di antara proyek yang mendapat prioritas pembiayaan.

    Perusahaan tersebut mencatat memiliki rencana kapasitas pengolahan molibdenum selama 20 tahun serta perjanjian penyerapan hasil produksi (offtake) jangka panjang dengan sejumlah perusahaan baja besar di dunia.

    Pencarian logam tanah jarang oleh AS dan Uni Eropa muncul di saat mereka berupaya keras mengurangi ketergantungan pada rantai pasok yang dikuasai China.

    Sebagai informasi, China memberlakukan pembatasan ekspor terhadap tujuh unsur logam tanah jarang berat pada April 2025, disusul pembatasan tambahan pada Oktober 2025 yang mencakup lima unsur lainnya—holmium, erbium, thulium, europium, dan ytterbium seluruhnya terdeteksi dalam sampel Malmbjerg.

    Kendati demikian, memanfaatkan potensi besar tersebut lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Hal itu karena banyaknya tantangan, yang di antaranya, penambangan di Greenland saat ini mahal dan terhambat oleh kondisi cuaca ekstrem, kurangnya infrastruktur, dan minim tenaga kerja profesional.

    Meskipun izin eksplorasi telah diberikan untuk 100 blok pulau tersebut, hanya ada dua tambang yang produktif di Greenland.

    "Greenland telah lama berupaya menarik investasi asing ke industri ekstraktifnya, namun belum banyak berhasil karena prospek bisnisnya memang belum kuat. Memang benar bahwa terdapat sejumlah besar mineral dari berbagai jenis di Greenland. Namun, biaya untuk mengekstraksi mineral-mineral tersebut juga sangat mahal," kata Mikkel Runge Olesen, peneliti senior di Institut Studi Internasional Denmark.


    Komentar
    Additional JS