Kapasitas Produksinya Diragukan, Dassault Aviation Malah Makin Agresif Promosi dan Kini Ketambahan Order dari Serbia -
Kapasitas Produksinya Diragukan, Dassault Aviation Malah Makin Agresif Promosi dan Kini Ketambahan Order dari Serbia

ZONAJAKARTA.COM - Di tengah muncul keraguan tentang kapasitas produksinya, Dassault Aviation justru makin agresif menawarkan jet tempur buatan mereka, Rafale.
Dassault Aviation sebelumnya aktif menawarkan Rafale kepada Kazakhstan.
Namun, upaya Prancis untuk mendapat pelanggan baru dari negara Asia Tengah itu gagal, meski sang presiden, emmanuel Macron, sempat mengunjungi negara tersebut.
Selasa (27/8/2024), Kazakhstan mengumumkan tetap setia membeli pesawat dari Rusia dan mengakuisisi 6 Su-30SM.
Gagal di Kazakstan, Dassault Aviation mendapat rezeki dari Serbia.
BACA JUGA: Kehadiran Rafale Indonesia Terancam Terlambat karena Dassault Aviation Kebanjiran Order
Media Serbia, balkaninsight.com, sebelumnya juga sudah mengabarkan bahwa Serbia setuju untuk membeli Rafale dari Prancis.
Presiden Serbia, Aleksandar Vucic mengatakan telah membuat persetujuan dengan Prancis untuk akuisisi Rafale.
Sementara defencesecurityasia.com, Rabu (28/8/2024) memberitakan, Serbia telah setuju untuk membeli 10 sampai 12 unit Rafale.
Kontrak pembelian itu mencapai 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 52,4 triliun.
Diharapkan, kesepakatan itu mencapai final saat Presiden Prancis, Emmanuel Macron, berkunjung ke Serbia, Kamis (29/8/2024).
BACA JUGA: Rafale Dikalahkan Su-30 di Kazakhstan
Pada kunjungan itu, Macron dan Presiden Serbia Alexandar Vucic dijadwalkan juga akan membahas kerja sama ekonomi, energi, dan pertahanan.
Serbia memang sedang gencar meningkatkan alutsistanya.
Beberapa tahun terakhir, Serbia membeli banyak senjata, termasuk sistem pertahanan udara Pantsir dari China.
meski Serbia mengutuk invasi Rusia ke Ukraina, namun Presiden Alekzandar Vucic tidak tergabung dalam Uni Eropa atau negara lain untuk menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Rusia.
Serbia masih memiliki hubungan dekat dengan Rusia.
Selain itu, Serbia juga memiliki kerja sama dengan China, termasuk dalam bidang pertahanan.
Dengan tambahan pesanan dari Serbia, berarti kewajiban Dassault Aviation akan semakin besar dalam memproduksi Rafale.
BACA JUGA: Rusia Merekrut Warga Indonesia untuk Jadi Tentara Bayaran dalam Perang Lawan Ukraina
Sampai 2030 saja, Dassault Aviation setidaknya harus memproduksi 174 unit Rafale beru, termasuk 42 unit untuk Indonesia.
Dengan masuknya Serbia, berarti akan ada tambahan 10 sampai 12 order, atau mencapai 186 unit.
Belum lagi pesanan baru bisa muncul dari beberapa negara yang saat ini sedang didekati Prancis.
Menurut media Prancis, La Tribune, Prancis sudah mengantisipasi lonjakan order pesawat generasi 4,5 tersebut. CEO Dassault Aviation, Eric Trappier mengatakan, perusahaannya akan berusaha meningkatkan produksi sampau 4 unit Rafale per bulan.
"Kami sedang bergerak dari kemampuan memproduksi kurang dari 1 unit per bulan pada 2020 menjadi tiga unit per bulan. Saat ini, kami sudah mampu memproduksi 2 unit Rafale per bulan," kata Eric Trappier.
BACA JUGA: Beli 8 Jet F-35B tapi Singapura Malah Tutup Pangkalan Udara, Ternyata Sejengkal Tanah Adalah Emas
Tahun ini saja, Dassault Aviation mendapat 18 pesanan Rafale.
Sedangkan pesanan tahun 2023 sebanyak 60 unit dan tahun 2022 sebanyak 92 unit.
Selain itu, Angkatan udara Prancis juga sudah memesan 42 Rafale.
Sedangkan Arab Saudi juga sedang mempertimbangkan untuk membeli Rafale sebanyak 54 unit.
Sehingga, Dassault Aviation akan berada pada periode paling sibuk sampai 2030.
Indonesia dijanjikan akan mendapatkan Rafale pertamanya pada tahun 2026.
Setelah itu, diperkirakan seluruh 42 jet tempur Rafale yang dipesan Indonesia akan lengkap terkirim pada 2030. ***