Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Donald Trump Featured Gas Rusia Spesial Ukraina

    Berubah Sikap, Trump Ingin Gas Rusia Dijual Lagi ke Eropa lewat Ukraina - Kompas

    6 min read

     

    WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendorong agar penjualan gas alam Rusia ke Eropa kembali dilakukan melalui jaringan pipa yang melintasi Ukraina.

    Rencana tersebut menjadi bagian dari negosiasi untuk mencapai gencatan senjata di sektor energi menjelang musim dingin, menurut pejabat AS, Eropa, dan Ukraina yang mengetahui pembicaraan tersebut.

    Gagasan itu disampaikan utusan Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, dalam kunjungan mereka ke Moskwa dan Kyiv pada September. Salah satu skemanya adalah menjual gas Rusia melalui perantara dari AS untuk menghindari sanksi Eropa.

    Baca juga: Gencatan Senjata Terlama Rusia-Ukraina Berakhir, Moskwa Tolak Perpanjang

    Orang-orang yang mengikuti pembahasan mengatakan skema tersebut juga dapat menciptakan peluang bisnis yang menguntungkan bagi investor AS.

    Trump Peringatkan Ukraina agar Segera Berdamai dengan Rusia: Jika Tidak Akan Sangat Buruk!

    Namun menurut aturan Uni Eropa (UE) saat ini, seluruh pembelian gas alam Rusia harus dihentikan secara bertahap hingga akhir 2027.

    Para pemimpin negara-negara besar Eropa juga telah menyatakan tidak berminat kembali bergantung pada pasokan energi Rusia yang dipandang sebagai ancaman strategis utama.

    Jadi insentif Putin

    Presiden Rusia Vladimir Putin ketika bertemu perwakilan Amerika Serikat untuk merundingkan perdamaian dengan Ukraina, di Kremlin, Moskwa, 2 Desember 2025.

    Lihat Foto

    Menurut para perunding AS, yang dikutip The Wall Street Journal, Minggu (1/11/2026), kembalinya Rusia ke pasar gas alam Eropa dapat menjadi insentif kuat bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyetujui gencatan senjata.

    Jaringan pipa era Uni Soviet yang mengalirkan gas dari ladang Urengoi di Siberia menuju Eropa melalui Ukraina juga dapat memberikan pemasukan bagi Kyiv melalui biaya transit.

    Pejabat Gedung Putih mengusulkan agar hasil penjualan gas Rusia ke Eropa disimpan dalam rekening escrow di yurisdiksi pihak ketiga untuk mencegah Kremlin menggunakan pendapatan tersebut membiayai perang.

    AS juga berusaha meyakinkan para pemimpin Eropa bahwa skema tersebut dapat menurunkan harga energi menjelang musim dingin, ketika cadangan gas Eropa berada pada level musiman terendah dalam beberapa tahun.

    Namun, rencana tersebut menghadapi penolakan kuat dari Eropa.

    Komisaris Energi UE Dan Jorgensen mengatakan larangan impor gas Rusia seharusnya bersifat permanen.

    "Saya tentu tidak akan mempercayai Rusia. Bahkan jika besok terjadi perdamaian, yang tentu kita semua harapkan," kata Jorgensen dalam wawancara dengan sebuah surat kabar Hungaria pada Oktober.

    Baca juga: WNI Muhammad Taufiq Direkrut Jadi Tentara Rusia, Tewas di Pertempuran Pertama

    Perbedaan sikap Trump

    Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) berpose di podium di landasan pacu setelah tiba di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson di Anchorage, Alaska, Jumat (15/8/2025). Putin berada di Alaska atas undangan Trump dalam kunjungan pertamanya ke negara Barat sejak ia memerintahkan invasi Ukraina tahun 2022.

    Lihat Foto

    Rencana pemerintahan Trump juga berbanding terbalik dengan sikap Trump pada masa jabatan pertamanya.

    Saat itu, Trump berulang kali mengkritik Kanselir Jerman Angela Merkel karena membangun pipa Nord Stream 2 dari Rusia. Trump memperingatkan bahwa proyek tersebut akan membuat Jerman menjadi "tawanan Rusia".

    Pada akhir 2019, pemerintahannya bahkan menjatuhkan sanksi terhadap proyek Nord Stream 2.

    Kini, AS melihat kemungkinan dibukanya kembali Nord Stream sebagai bagian penting dari kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina sekaligus menyelesaikan persoalan Rusia dengan sekutu-sekutu Eropa AS.

    Namun, menghidupkan kembali Nord Stream akan membutuhkan waktu cukup lama. Nord Stream 1 menghentikan pengiriman gas pada Agustus 2022, sedangkan Nord Stream 2 tidak pernah beroperasi. Kedua pipa itu rusak parah akibat ledakan bawah laut pada September 2022.

    Sebaliknya, jaringan pipa yang melewati Ukraina dan terhubung ke Slovakia, Austria, serta Jerman dapat kembali beroperasi hampir seketika.

    Aliran gas dalam jumlah terbatas masih berlangsung melalui jaringan tersebut hingga dihentikan pada Januari 2025.

    Saat ini, hanya sekitar 11 persen gas alam Eropa yang berasal dari Rusia, turun dari 45 persen sebelum perang. Gas alam cair (LNG) dari AS menyumbang sekitar 30 persen konsumsi Eropa.

    Posisi Eropa juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi. Pengiriman LNG Qatar masih tertahan di Teluk Persia, sementara perang dengan Iran turut mendorong kenaikan harga energi global.

    Menurut UE, Eropa telah mengeluarkan tambahan 100 miliar euro atau sekitar Rp 2 kuadriliun untuk energi akibat perang dengan Iran.

    Baca juga: Diplomat Eropa Tolak Foto Bersama Menlu Rusia di KTT G20, AS Batalkan Sesi Pemotretan

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Trump "Main Dua Kaki": Rangkul Rusia, tapi Siapkan Serangan ke Iran

    Komentar
    Additional JS