Trump Janji Tak Serang Iran Sebelum Pemilu Sela, Pentagon Tetap Siapkan Opsi Serangan - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kebijakan-Donald-Trump-ke-pelajar-asing.jpg)
Ringkasan Berita:
- Donald Trump menyatakan AS tak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela pada 3 November 2026.
- Pentagon tetap menyiapkan opsi serangan, termasuk operasi militer selama tiga hari.
- Negosiasi masih terkendala isu nuklir dan Selat Hormuz, sementara harga minyak turun.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan militernya tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela Kongres pada 3 November 2026.
Namun, di tengah klaim adanya kemajuan dalam perundingan, Pentagon masih menyiapkan opsi serangan baru terhadap Teheran.
Dalam unggahan di Truth Social pada Kamis (8/10/2026) malam waktu setempat, Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berlangsung produktif.
“Kami sedang melakukan diskusi produktif dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (9/10/2026).
Di balik pernyataan Trump, militer AS ternyata masih menyiapkan kemungkinan melanjutkan operasi tempur terhadap Iran.
Menurut laporan The New York Times, Kamis (8/10/2026), Pentagon telah menyusun rencana serangan yang dapat menyasar gudang rudal dan drone Iran, fasilitas energi, serta sejumlah instalasi militer lainnya.
Salah satu skenario yang dibahas para pejabat senior keamanan nasional AS adalah operasi militer intensif selama sekitar tiga hari.
Rencana itu dibicarakan dalam pertemuan di Camp David pada pekan sebelumnya, dengan Wakil Presiden AS, JD Vance memimpin pembahasan bersama para pejabat terkait.
AS juga bersiap memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.
Baca juga: Trump Janji Tak Serang Iran sebelum Pemilu Sela AS, tapi Isyaratkan soal Operasi Militer Skala Penuh
Laporan The New York Times menyebut tiga kapal induk AS diperkirakan segera berada di kawasan tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, tim keamanan nasional Trump dan Pentagon telah mengajukan lima usulan operasi militer besar terhadap Iran maupun kelompok Houthi di Yaman.
Trump sebelumnya menolak usulan-usulan tersebut.
Meski rencana serangan kembali disiapkan, belum ada keputusan final bahwa AS akan melanjutkan perang.
Pemerintahan Trump masih mempertimbangkan langkah militer sambil membuka peluang penyelesaian melalui perundingan.
Pembicaraan kedua negara memang disebut menunjukkan kemajuan, tetapi persoalan program nuklir Iran masih menjadi ganjalan utama.
Program Nuklir Jadi Batu Sandungan
JD Vance pada Selasa (6/10/2026) mengatakan Iran harus mengurangi kapasitas pengayaan uraniumnya secara signifikan jika ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Sejumlah pakar menilai tuntutan tersebut bisa menandakan perubahan sikap Washington.
Sebelumnya, AS mendesak Iran menghentikan pengayaan uranium sepenuhnya.
Meski demikian, kedua negara masih berbeda pandangan mengenai kapan isu nuklir harus dibahas.
AS ingin persoalan tersebut diselesaikan lebih dahulu, sedangkan negosiator Iran menginginkan pembahasan nuklir ditempatkan pada tahap akhir perundingan.
Baca juga: Zelenskyy Kirim Delegasi ke AS, Desak Trump Perkuat Sanksi terhadap Rusia
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian sebelumnya menyebut negosiasi dengan AS sia-sia.
Pada Senin (5/10/2026), ia menuduh Washington memanfaatkan perundingan sebagai kesempatan untuk menyerang Iran.
Di tengah kebuntuan itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran sedang mempelajari tanggapan AS terhadap proposal tujuh hari untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut kantor berita Iran, Tasnim, Araghchi mengatakan Teheran akan menyampaikan jawaban dalam beberapa hari ke depan.
Ia juga memastikan komunikasi melalui para mediator masih berlanjut.
Ledakan Dilaporkan di Selat Hormuz
Ketegangan belum mereda di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi energi dunia.
Pada Jumat (9/10/2026), media Iran melaporkan ledakan besar di bagian selatan selat tersebut.
Kantor berita Fars, mengutip sumber militer yang tidak disebutkan namanya, menyebut sebuah kapal tanker yang melintas melalui rute tidak resmi diduga menabrak ranjau laut.
Penyebab ledakan itu belum dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia.
Sementara itu, laporan The New York Times menyebut serangan terhadap kapal-kapal tanker meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Kelompok pemantau yang dikelola Angkatan Laut Inggris mencatat sedikitnya 13 kapal diserang sejak September.
Namun, sumber yang mengetahui laporan intelijen menyebut jumlahnya mendekati 20 kapal.
Meski serangan terhadap kapal terus menjadi perhatian, respons militer AS dalam beberapa pekan terakhir cenderung lebih terbatas dibandingkan pada tahap awal perang.
Harga Minyak Turun setelah Pernyataan Trump
Harga minyak turun pada perdagangan Jumat pagi setelah pernyataan Trump meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap pasokan dari Timur Tengah.
Baca juga: Donald Trump Masih Berharap Memenangkan Nobel Perdamaian, Siapa Saja Kandidatnya?
Harga minyak sempat naik pada Kamis karena pasar khawatir pertempuran AS-Iran akan kembali meluas.
Kepastian Trump bahwa AS tidak akan menyerang sebelum pemilu sela kemudian meredakan kekhawatiran tersebut.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)