Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Demo Featured Lintas Peristiwa Perancis Spesial

    Prancis Diguncang Demo Akbar, Gedung Dibakar Seribu Lebih Ditangkap - Republika

    7 min read

     Unjuk rasa yang meluas terkait biaya hidup yang semakin mahal di Prancis.

    Petugas kepolisian berhadapan dengan para pengunjuk rasa dalam sebuah demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan pemangkasan layanan publik di Champs-Elysees, Paris, Prancis, 17 Oktober 2026.

    EPA/YOAN VALAT Petugas kepolisian berhadapan dengan para pengunjuk rasa dalam sebuah demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan pemangkasan layanan publik di Champs-Elysees, Paris, Prancis, 17 Oktober 2026.

    REPUBLIKA.CO.ID, PARIS — Gelombang protes kembali mengguncang Prancis. Ratusan ribu orang turun ke jalan pada Sabtu (17/10/2026), memprotes mahalnya biaya hidup, memburuknya layanan publik, serta melemahnya sistem jaminan sosial. Aksi tersebut sekaligus menghidupkan kembali gerakan gilets jaunes atau rompi kuning yang pernah mengguncang pemerintahan Presiden Emmanuel Macron pada 2018.

    Kantor-kantor berita melansir, aksi yang semula berlangsung damai di sejumlah kota kemudian berujung bentrokan antara demonstran dan polisi. Sejumlah bangunan publik dibakar, pertokoan dijarah, dan aparat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

    Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengatakan, lebih dari 1.200 orang ditangkap dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Sebanyak 150 personel kepolisian dilaporkan terluka.

    Di Kota Limoges, gedung balai kota mengalami kerusakan parah akibat kebakaran yang diduga dipicu demonstran bertopeng. Di Marseille, massa sempat menerobos masuk ke gedung balai kota. Sementara di Paris, sejumlah toko dan bank menjadi sasaran penjarahan dan perusakan.

    Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengecam aksi kekerasan tersebut. Ia mengatakan, kelompok perusuh telah membajak demonstrasi yang semestinya menjadi ruang penyampaian aspirasi masyarakat. Pemerintah, kata dia, tidak berencana menetapkan status darurat, tetapi akan menindak tegas para pelaku kekerasan.

    Gelombang protes kali ini berawal dari aksi para pelajar sejak September lalu. Mereka mempersoalkan absennya guru, buruknya fasilitas sekolah, serta kondisi pendidikan yang dinilai semakin tidak memadai.

    Kemarahan tersebut kemudian meluas menjadi gerakan yang menyoroti ketimpangan sosial, lemahnya belanja publik, dan menurunnya kualitas pelayanan negara.

    Seruan untuk menghidupkan kembali gerakan rompi kuning turut memperbesar mobilisasi massa. Gerakan itu pertama kali mencuat pada 2018 sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan sosial dan kenaikan harga bahan bakar.

    Konfederasi Umum Buruh (CGT), salah satu serikat pekerja terbesar di Prancis, turut mendukung demonstrasi tersebut. Mereka menyerukan kenaikan upah dan pensiun, penurunan harga, serta perlindungan terhadap layanan publik yang dibutuhkan masyarakat.

    Berita Terkait

    “Sekarang Tidak Ucapkan Allahu Akbar?” Kesaksian Ungkap Kekerasan Polisi Prancis dalam Demo Pelajar

    Islam - 10 October 2026, 17:37

    Trump Salahkan Islam atas Demonstrasi Pelajar di Prancis

    Internasional - 07 October 2026, 06:43

    AS Kumpulkan Lingkar Kecil NATO, Inggris-Prancis dan Baltik tak Diundang

    Internasional - 06 October 2026, 08:53

    Prancis Harus Puas Imbang Lawan Italia, Belgia dan Polandia Berpesta Gol di UEFA Nations League

    Sport - 03 October 2026, 09:48

    Gol Olise Pastikan Kemenangan Tipis Prancis atas Belgia

    Sport - 29 September 2026, 07:38

    Komentar
    Additional JS