Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Iran terima respons AS soal rencana 7 hari Selat Hormuz - Antara News

    2 min read


    Seyed Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, menggelar konferensi pers di area pernyataan pers Dewan Keamanan di Markas Besar PBB, New York City, AS, pada 25 September 2026. ANTARA/Selçuk Acar - Anadolu Agency /pri. (ANTARA/Selçuk Acar - Anadolu Agency /pri.)

    Teheran (ANTARA) - Iran mengungkapkan telah menerima respons dari Amerika Serikat (AS) terkait usulan rencana tujuh hari yang ditawarkan Teheran untuk menghentikan permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz.

    Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan pada Rabu (30/9) bahwa respons tersebut telah diterima pemerintah Iran dan disampaikan dalam rapat kabinet.

    Dalam unggahannya di platform media sosial X, Mohajerani menyebut Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengumumkan bahwa Teheran telah menerima usulan dari pihak AS dalam rapat kabinet yang berlangsung pada Rabu.

    Respons Washington itu datang setelah Iran pada Selasa (22/9), di sela-sela Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, menyampaikan proposal rencana tujuh hari kepada AS melalui sejumlah mediator.

    Proposal tersebut ditujukan untuk menghentikan permusuhan sekaligus membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

    Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel meningkat sejak 28 Februari, ketika Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Teheran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut.

    Di tengah eskalasi tersebut, Iran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.

    Upaya meredakan konflik sebelumnya sempat menghasilkan nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni antara AS dan Iran mengenai penghentian perang di kawasan tersebut di seluruh front, termasuk Lebanon.

    Berdasarkan MoU itu, kedua pihak dijadwalkan menggelar perundingan dalam waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir. Namun, tenggat tersebut berakhir pada 17 Agustus tanpa kejelasan mengenai kelanjutan proses perundingan.

    Situasi kembali menjadi perhatian setelah eskalasi terbaru antara kedua negara memunculkan ketidakpastian mengenai nasib jalur diplomasi yang sebelumnya telah dibangun.

    Kini, diterimanya respons AS atas proposal tujuh hari Iran membuka kembali ruang bagi pembahasan mengenai penghentian permusuhan dan status Selat Hormuz, meski belum ada rincian mengenai isi respons maupun langkah lanjutan yang akan diambil kedua pihak.

    Komentar
    Additional JS