Trump Targetkan Perang Selesai setelah Pemilu Sela, Pakar Sebut Iran Ingin Perberat Biaya Perang AS - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Wibawanto-menilai-strategi-Iran-berfokus-pada-endurance-bi.jpg)
Ringkasan Berita:
- Trump menegaskan perang dengan Iran akan segera berakhir setelah pemilu sela, sambil menolak kemungkinan Iran memiliki senjata nuklir.
- Pakar Wibawanto Nugroho Widodo menilai strategi Iran berfokus pada endurance, biaya perang, dan kontrol eskalasi untuk menekan AS.
TRIBUNNEWS.COM - Presiden AS Donald Trump menjadikan perang dengan Iran sebagai fokus utama pidatonya di konvensi partai untuk pemilihan paruh waktu, Rabu (9/9/2026) lalu.
“Apakah ada di sini yang berpikir bahwa Iran seharusnya memiliki senjata nuklir? Ada?” tanya Trump kepada hadirin di American Airlines Center, Dallas, mengutip NBCnews.com.
Para hadirin menjawab dengan lantang dan tegas: “Tidak!”
Trump juga mengulangi klaim yang ia sampaikan kepada wartawan sebelumnya pada hari itu.
“Perang akan segera berakhir setelah pemilihan,” kata Trump.
“Mereka sangat berharap kita kalah, sehingga mereka dapat berurusan dengan Demokrat yang bodoh dan lemah dan mereka dapat memiliki bom nuklir mereka. Tetapi kita tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Sementara itu, tensi konflik antara Iran dan AS kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan, termasuk buntut serangan terhadap kapal tanker Iran.
Pakar geopolitik dan keamanan nasional sekaligus Ketua Bidang Kebijakan Luar Negeri DPP IK Lemhanas RI, Wibawanto Nugroho Widodo, menilai strategi Iran saat ini tidak semata-mata berfokus pada kekuatan misil.
Menurut Wibawanto, terdapat tiga faktor penting yang akan menentukan bagaimana Iran memetakan target berikutnya, yakni kemampuan bertahan atau endurance, biaya perang (cost), serta kemampuan mengendalikan eskalasi.
"Ini tuh bukan hanya masalah perang misil ya, ini adalah kontestasi terhadap endurance, terhadap cost, dan juga kemampuan untuk mengontrol eskalasi," ujar Wibawanto dalam dialog Kompas Petang, Kamis (10/9/2026).
Ia menjelaskan, ketiga faktor tersebut menjadi penentu tercapainya kemenangan strategis, bukan sekadar unggul dalam kekuatan militer konvensional.
Pertama, Iran harus memperhitungkan pihak mana yang lebih mampu menanggung biaya politik, ekonomi, dan militer akibat perang.
Kedua, biaya perang harus tetap diperhitungkan apakah masih sesuai dengan anggaran, prioritas, serta tujuan strategis yang hendak dicapai secara politik.
Sementara faktor ketiga adalah pengendalian eskalasi.
Menurut Wibawanto, strategi tersebut digunakan untuk meningkatkan tekanan dan kekerasan terhadap lawan tanpa kehilangan kendali atas eskalasi.
Ia menilai, Iran untuk saat ini masih belum akan menjadikan wilayah daratan AS sebagai sasaran utama.
Sebaliknya, Iran diperkirakan akan terus menyasar aset-aset strategis militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Kekuatan Iran
Kekuatan Iran juga tidak hanya dapat dilihat dari jumlah misil yang dimiliki, menurut Wibawanto.
Daya tembak, kemampuan rudal dan drone melakukan serangan secara simultan, kemampuan bertahan dari serangan balasan, serta keberadaan peluncur dan sistem komando turut menjadi faktor penting.
Selain itu, Iran masih memiliki jaringan proxy dan berbagai bentuk tekanan yang tersebar di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Salah satu sasaran Iran sebelumnya adalah pangkalan militer AS di Yordania.
Menurut Wibawanto, serangan tersebut merupakan bagian dari upaya Iran menguji kemampuan bertahan sekaligus mengganggu jaringan militer AS di kawasan.
"Jadi, yang akan disasar oleh Iran selanjutnya itu adalah apa pun yang menjadi footprint militer dari Amerika, yaitu bisa Jordan, bisa Bahrain, bisa Qatar, bisa Kuwait, bisa UAE dan instalasi-instalasi militer lainnya," jelasnya.
Tidak hanya instalasi militer, Iran juga berpotensi menargetkan negara-negara yang menjadi sekutu AS di Timur Tengah, seperti Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.
Aset nonnegara yang berkaitan dengan kepentingan AS juga dinilai dapat menjadi sasaran, termasuk infrastruktur minyak, kapal tanker, jalur pelayaran, hingga objek yang melintasi Selat Hormuz.
Namun, Wibawanto menegaskan bahwa tujuan Iran bukan semata-mata untuk menghancurkan seluruh aset AS.
"Masalahnya ini bukan apakah habis ini akan diserang Saudi Arabia. Jadi lebih kepada pressure point yang strategis untuk menambah biaya politik, ekonomi, dan militer Amerika," ujarnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)