Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Banjir Banjir Bandang Bencana Berita Featured Lintas Peristiwa Nepal Spesial

    Nepal Butuh Rp 88 Triliun untuk Pulih dari Banjir Bandang, Buka Donasi dan Terima Bantuan Asing - Kompas

    6 min read

      

    KOMPAS.com - Nepal memperkirakan membutuhkan dana sekitar 4 hingga 5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 70,8 triliun hingga Rp 88,5 triliun untuk membangun kembali wilayah yang terdampak banjir bandang.

    Dikutip dari Reuters, Minggu (30/8/2026), perkiraan tersebut disampaikan Menteri Keuangan Nepal Swarnim Wagle.

    Banjir bandang tersebut menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga, jalan, jembatan, hingga sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air.

    Besarnya kerusakan membuat pemerintah Nepal harus menyiapkan anggaran besar untuk proses pemulihan dan pembangunan kembali wilayah terdampak.

    100 Orang Terjebak di Terowongan yang Terendam Banjir Bandang Nepal

    Di tengah upaya pencarian ratusan orang yang masih hilang, Nepal akhirnya membuka pintu bagi bantuan tenaga ahli dari India, China, Australia, dan Korea Selatan.

    Bantuan tersebut difokuskan pada operasi penyelamatan di terowongan, pengambilan sampel DNA, serta proses identifikasi jenazah, dikutip dari The Straits Times, Sabtu (29/8/2026).

    Pemerintah Nepal juga membuka kanal donasi resmi untuk membantu penanganan bencana dan para korban.

    Baca juga: Nepal Makamkan Ratusan Jenazah Korban Banjir Bandang, Keluarga Bisa Gali Kembali

    Banjir bandang tewaskan ratusan orang

    Bencana yang dipicu runtuhnya gletser tersebut terjadi pada Rabu (26/8/2026).

    Aliran deras yang membawa batu, es, lumpur, dan puing-puing menerjang sistem sungai pegunungan, menewaskan sedikitnya 669 orang di Nepal dan tujuh orang di wilayah Tibet, China.

    Aliran tersebut menyapu bangunan, jembatan, serta sejumlah pembangkit listrik yang berada di sepanjang jalur sungai.

    Hampir 3.000 orang masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.426 orang berada di Nepal dan 554 orang lainnya berada di Kabupaten Gyirong, Tibet.

    Sedikitnya 540 warga negara asing termasuk dalam daftar orang hilang, sebagian besar merupakan peziarah Hindu dari India.

    Tiga hari setelah bencana, pihak berwenang menyatakan sejumlah jenazah yang ditemukan telah mengalami pembusukan sehingga tidak dapat dikenali.

    Jenazah tersebut akan dimakamkan setelah prosedur hukum dipenuhi karena adanya risiko kesehatan serta kekhawatiran mengenai penyebaran penyakit.

    "Sampel DNA akan diambil, dan jenazah akan dimakamkan di lahan terbuka," demikian pernyataan pemerintah distrik Chitwan dalam sebuah pengumuman.

    Baca juga: 3.048 Orang Masih Hilang dalam Banjir Nepal-Tibet, Ini Daftar Asal Negaranya

    Nepal sempat tolak bantuan asing

    Pemerintah Nepal sebelumnya sempat memutuskan tidak meminta bantuan tim pencarian dan penyelamatan internasional untuk menangani bencana banjir bandang Bhote koshi.

    Keputusan tersebut kemudian dibatalkan setelah Nepal mendapat tekanan diplomatik dari sejumlah negara yang warganya termasuk dalam daftar orang hilang.

    Pada 26 Agustus 2026, pemerintah Nepal menyatakan tim penyelamat dalam negeri masih mampu menangani operasi pencarian dan penyelamatan sehingga tidak akan mengizinkan tim penyelamat dari negara lain masuk ke wilayah terdampak.

    Namun, keputusan tersebut hanya bertahan kurang dari sehari.

    Pemerintah Nepal kemudian memutuskan menerima bantuan tenaga ahli asing secara terbatas untuk bidang tertentu, termasuk penyelamatan di terowongan, pengujian DNA, dan pemeriksaan forensik.

    “Kami menerima tekanan besar dari komunitas internasional untuk mengizinkan setidaknya tim pencarian dan penyelamatan serta beberapa ahli karena warga negara mereka juga hilang dalam banjir,” kata seorang pejabat senior pemerintah.

    “Kami mengizinkan sejumlah ahli terbatas di area tertentu," tambahnya.

    Sejumlah negara sebelumnya telah secara terbuka menawarkan bantuan kepada Nepal untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan.

    India, misalnya, menawarkan pengiriman tim penyelamat terowongan, tim medis, serta personel dari Pasukan Tanggap Bencana Nasional India.

    Tawaran tersebut disampaikan Randhir Jaiswal, juru bicara Kementerian Luar Negeri India, pada 28 Agustus 2026.

    Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri India S Jaishankar juga berbicara dengan Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengenai bencana tersebut.

    “Saya berbicara dengan Menteri Luar Negeri Nepal pagi ini. Kami telah memberi mereka berbagai tawaran dukungan. Mereka sedang mengevaluasinya,” tulis Jaishankar di platform media sosial X.

    Baca juga: Desa di Nepal Berubah Jadi Lumpur, Penyintas Kembali untuk Mengais Sisa Harta dan Kenangan

    Jaishankar juga mengatakan bahwa India mengirimkan gelombang keempat bantuan ke Nepal.

    Dalam pengiriman tersebut, turut disertakan tim beranggotakan 11 orang yang terdiri dari dokter, paramedis, serta personel penyelamat untuk mendukung operasi penyelamatan di terowongan.

    Korea Selatan juga menawarkan bantuan tambahan. Pada 27 Agustus, Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun berbicara dengan Khanal dan menyampaikan keprihatinan atas keselamatan warga negara Korea Selatan di Nepal, termasuk sembilan orang yang masih belum dapat dihubungi.

    Cho meminta kerja sama pemerintah Nepal agar Tim Tanggap Cepat Korea Selatan yang dikirim ke lokasi bencana dapat menjalankan operasi pencarian dan penyelamatan.

    “Saya meminta kerja sama penuh dari pemerintah Nepal untuk memastikan bahwa Tim Tanggap Cepat kami, yang dikirim hari ini, dapat dengan lancar melaksanakan operasi pencarian dan penyelamatan,” kata Cho dalam sebuah unggahan di X.

    “Saya menambahkan bahwa kami secara aktif mempersiapkan pengiriman cepat Tim Bantuan Bencana Korea (KDRT)," tambahnya.

    Pihak berwenang Nepal mengatakan dukungan asing hanya akan diterima untuk bidang-bidang yang memang membutuhkan keahlian tambahan.

    “Kami telah mengidentifikasi tiga bidang yang membutuhkan dukungan dan sedang mencari bantuan internasional sesuai dengan kebutuhan,” kata Khanal kepada The Kathmandu Post.

    Tim ahli dari India, China, Australia, dan Korea Selatan nantinya akan diizinkan membantu operasi penyelamatan orang-orang yang diduga masih terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air di distrik Rasuwa dan Nuwakot.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS