Menlu Rubio Remehkan Bantuan Rusia pada Iran di Tengah Perang Melawan AS - SindoNews
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 03 September 2026 - 12:55 WIB

Iran tembakkan rudal dengan target pasukan AS di Pangkalan Udara Ali Al-Salem, Kuwait. Foto/Tasnim News Agency
A A A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menganggap remeh laporan sejumlah media tentang bantuan Rusia kepada Iran di tengah perang Teheran melawan Washington. Rubio sesumbar bahwa tidak ada hal yang dapat menghambat tujuan Amerika terkait republik Islam tersebut.
"Jelas, Rusia sudah sangat sibuk dengan Ukraina dan upaya mereka di sana," ujar Rubio dalam wawancara dengan Brian Kilmeade dari Fox News, yang dikutip The Hill, Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Rusia Diam-diam Bantu Iran Membangun Rudal yang Mampu Targetkan Kapal Induk AS
"Namun, saya sudah pernah mengatakannya dan akan mengatakannya lagi: tidak ada bantuan yang diberikan pihak mana pun kepada Iran yang menghambat kemampuan kami untuk bertindak sebagaimana mestinya demi melindungi Amerika Serikat," paparnya.
Kilmeade membacakan sebagian laporan The New York Times yang mengutip pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin saat bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Kirgistan. Saat itu, Putin mengatakan: "Rusia berupaya memberikan bantuan yang Anda butuhkan. Kami telah membahas hal ini dengan Anda dan sedang memasok barang-barang yang diperlukan."
"Tampaknya mereka memberikan koordinat satelit untuk membantu membunuh orang-orang kita, namun kini pihak Rusia sendiri mengatakan secara langsung, 'Kami membantu Anda'," kata Kilmeade kepada Rubio.
Rubio menjawab, "Sayangnya, dalam kasus Iran, kami tidak sejalan dengan Rusia maupun sistem Rusia terkait pandangan mereka terhadap situasi tersebut."
"Putin memiliki masalah-masalahnya sendiri yang menurut saya menyita sebagian besar waktu dan perhatiannya, yaitu perang dengan Ukraina dan—terus terang—dampak serangan Ukraina terhadap ekonomi Rusia yang diperparah oleh sanksi-sanksi yang ada," lanjut diplomat top Amerika tersebut.
AS dan Iran kembali terlibat aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir, di tengah upaya pemerintahan Donald Trump untuk melumpuhkan ekonomi Iran. Presiden Trump pada hari Selasa menyatakan bahwa dia tidak berniat membawa Iran kembali ke meja perundingan setelah enam bulan konflik berlangsung.
Pemerintahan Trump telah mendesak negara-negara lain untuk memutus hubungan keuangan dengan Iran sebagai bagian dari Operation Economic Outcast (Operasi Pengucilan Ekonomi). Mereka menyamakan operasi ini dengan invasi AS ke Normandia pada Perang Dunia II dengan menjulukinya sebagai "Economic D-Day".
Putin telah menegaskan kembali hubungan erat Rusia dengan Iran, dengan berjanji kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada bulan April untuk bekerja sama seiring berlarutnya perang. Dia meminta Araghchi untuk menyampaikan "doa terbaik bagi kesehatan dan kesejahteraan" Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Rusia juga memperoleh keuntungan strategis di tengah konflik AS dengan Iran. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran meningkatkan nilai pasokan minyak Rusia, mengingat selat tersebut merupakan jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia yang keluar dari Timur Tengah. Pasokan senjata AS yang sedianya ditujukan untuk Ukraina dalam menghadapi Rusia kini diprioritaskan untuk konflik dengan Iran, sehingga menciptakan celah dalam penyaluran bantuan ke Kyiv.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

4 Alasan Jepang Jadi Andalan Baru AS di Asia, Garda Terdepan Melawan China
Terpopuler
1
2
3
4
5





