Lalu Lintas Selat Hormuz Menyusut ke Satu Digit, Jalur Vital Minyak Dunia Terancam Lumpuh - SindoNews
Sabtu, 12 September 2026 - 08:28 WIB

Volume pelayaran kapal di Selat Hormuz -urat nadi perdagangan energi global- berada di titik paling kritis. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Volume pelayaran kapal di Selat Hormuz -urat nadi perdagangan energi global- berada di titik paling kritis. Data pelacakan kapal terbaru mencatat pergerakan armada laut yang melintasi titik sempit (chokepoint) tersebut anjlok drastis hingga menyentuh angka satu digit, memicu kekhawatiran baru atas kelumpuhan total pasokan energi dunia .
Berdasarkan data pelacakan kapal pada tengah pekan kemarin, jumlah transit kapal melintasi Selat Hormuz menyusut menjadi hanya 7 kapal, merosot tajam dari 12 kapal pada hari sebelumnya. Angka ini jauh di bawah rata-rata harian 10 hari terakhir yang mencatatkan 14 transit.
Dari total 7 kapal yang terdeteksi melintas, sebanyak 4 kapal bergerak keluar dan 3 kapal memasuki kawasan Teluk. Pemicu utama kekhawatiran pasar adalah absennya armada pemuat gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dari daftar kapal yang berhasil keluar.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Tembus USD100 per Barel, Bisa Lampaui USD120 dalam Waktu Dekat
Dari 4 kapal yang keluar, hanya terdapat satu supertanker Very Large Crude Carrier (VLCC) -Finland Prosperity- yang membawa hampir 2 juta barel minyak mentah. Sisa kapal kargo lainnya yang keluar mencakup dua kapal angkut barang curah (dry bulk) dan satu tanker produk minyak jarak pendek.
Sementara kapal yang masuk terdiri dari satu dry bulk serta dua tanker minyak skala kecil-menengah. Para analis memproyeksikan beberapa kapal mungkin tetap nekat berlayar menembus perairan tersebut dengan mematikan sistem pelacak otomatis (transponder) demi menghindari risiko serangan.
Baca Juga: Balas Serangan AS, Iran Serang 10 Kapal di Dekat Selat Hormuz
Pelabuhan Yanbu Jadi Tumpuan Utama Bypassing Hormuz
Di tengah terancamnya jalur Selat Hormuz, pengiriman minyak mentah dan kondensat Arab Saudi melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah -akses darat utama untuk menghindari titik kritis Hormuz- mulai menunjukkan pemulihan setelah sempat terperosok ke titik terendah dalam 6 bulan pada Agustus lalu.
Data pelacakan dari Vortexa menunjukkan volume pemuatan di Yanbu bangkit menjadi 3,7 juta barel per hari (bpd) pada September, naik dari 3,2 juta bpd pada bulan sebelumnya. Sementara itu, lembaga analisis Kpler memperkirakan kenaikan mencapai 2,9 juta bpd dibanding angka 1,5 juta bpd pada Agustus.
Sebelumnya, pengiriman via Yanbu sempat merosot drastis akibat sengitnya intensitas serangan kelompok Houthi dari Yaman di kawasan Selat Bab el-Mandeb. Adapun lalu lintas di Bab el-Mandeb sendiri relatif stabil dengan 28 kapal melintas, mendekati rata-rata harian 27 kapal.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

32 Negara yang Sudah Lolos ke Piala Dunia 2026
Terpopuler
1
2
3
4
5





