Iran Serang Kuwait, Harga Minyak Brent Dekati 100 Dollar AS - Kompas
NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (3/9/2026), di tengah berlanjutnya serangan Iran terhadap sejumlah negara sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah Kuwait mencegat rudal dan drone yang masuk ke wilayahnya.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak dunia, terutama yang melintasi Selat Hormuz.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Menguat Tembus 95 Dollar AS, Ini Pendorongnya

Lihat Foto
Mengacu pada data perdagangan yang dikutip CNBC, harga minyak mentah Brent naik 57 sen menjadi 96,20 dollar AS per barrel. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus level 97 dollar AS per barrel pada awal perdagangan.
8 Raksasa Minyak Pesta Cuan dari Perang Iran, Kok Bisa?
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 85 sen menjadi 91,86 dollar AS per barrel.
Dengan penguatan tersebut, harga minyak dunia telah meningkat lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini.
Kenaikan harga minyak terjadi ketika ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat. AS dan Iran saling melancarkan serangan militer sepanjang pekan ini, untuk pertama kalinya sejak Juli 2026.
Baca juga: Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Tembus 90 Dollar AS
Dalam perkembangan terbaru, angkatan bersenjata Kuwait menyatakan negaranya menghadapi agresi Iran yang terus berlangsung.
Pertahanan udara Kuwait dilaporkan terlibat dalam upaya menghadapi rudal dan drone yang masuk ke wilayah negara tersebut.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar minyak karena kawasan Teluk merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.

Lihat Foto
Selat Hormuz jadi perhatian pasar
Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pasar adalah kondisi Selat Hormuz.
Baca juga: Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 2,5 Persen
Selat yang berada di antara Iran dan Oman tersebut merupakan jalur strategis bagi lalu lintas minyak dunia. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 20 juta barrel minyak mentah dan produk minyak melintasi selat tersebut setiap hari.
Di tengah konflik yang berlangsung, arus minyak melalui Selat Hormuz tetap berjalan.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, lebih dari 17 juta barrel minyak telah melintasi Selat Hormuz pada Senin.
Menurut Wright, volume tersebut merupakan rekor pada masa perang dan berlangsung di bawah perlindungan militer AS.
Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Pulau Kharg Iran, Harga Minyak Naik
“Lebih dari 17 juta barrel minyak melintasi Hormuz pada Senin,” kata Wright kepada CNBC.
Pergerakan kapal dan aliran minyak melalui Selat Hormuz menjadi penting bagi pasar karena gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi pasokan minyak global.
AS sendiri melakukan operasi militer dengan tujuan mengurangi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam memantau arah harga minyak dunia.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 1 Persen Usai AS Serang Iran
Konflik AS-Iran berlanjut
Kenaikan harga minyak berlangsung ketika konflik antara AS dan Iran memasuki babak baru.
Kedua negara telah saling melakukan serangan militer sepanjang pekan ini. Aksi militer tersebut merupakan yang pertama terjadi sejak Juli 2026.
Serangan Iran terhadap negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan terhadap infrastruktur energi maupun jalur transportasi minyak.

Lihat Foto
Kuwait menjadi salah satu negara yang terdampak perkembangan terbaru konflik tersebut. Angkatan bersenjata Kuwait menyebut negara itu menghadapi agresi Iran yang terus berlangsung.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun, Pasar Pantau Nasib Selat Hormuz
Pertahanan udara Kuwait disebut telah menghadapi rudal dan drone yang masuk ke wilayah negara tersebut.
Situasi tersebut berlangsung ketika pasar minyak masih mencermati kemungkinan konflik berkembang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Trump: konflik tak akan berlangsung lama
Di tengah meningkatnya ketegangan dan harga minyak, Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tidak memperkirakan konflik yang sedang berlangsung akan berkembang menjadi perang kembali.
Trump juga memberikan sinyal bahwa pertempuran saat ini kemungkinan tidak akan berlangsung terlalu lama.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 2 Persen, Pasar Khawatir Perundingan AS-Iran Buntu
“Menurut saya, tidak akan lama lagi,” ujar Trump mengenai pertempuran tersebut.
“Saya tidak tahu berapa lama lagi mereka bisa bertahan,” lanjutnya.
Pernyataan Trump tersebut disampaikan ketika harga minyak dunia telah menguat lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini.
Pasar minyak masih menghadapi ketidakpastian terkait perkembangan konflik dan keamanan jalur perdagangan minyak melalui Selat Hormuz.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun, Investor Pantau Pembicaraan Iran-Oman soal Selat Hormuz
Di sisi lain, arus minyak melalui selat tersebut masih berlangsung.
Lebih dari 17 juta barrel minyak tercatat melintasi Selat Hormuz pada Senin (1/9/2026) di bawah perlindungan militer AS, dibandingkan sekitar 20 juta barrel minyak mentah dan produk minyak per hari yang melintasi jalur tersebut sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026.
Perkembangan konflik AS-Iran, serangan terhadap negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk, serta keamanan Selat Hormuz menjadi faktor yang terus diperhatikan pasar minyak dunia.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT