Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Iran Konflik Timur Tengah PBB Sidang Umum PBB Spesial

    Gelar Perundingan di Momen Sidang Umum PBB, Iran dan AS Fokus Akhiri Perang - SindoNews

    12 min read


    Makin mudah baca berita nasional dan internasional.

    Rabu, 23 September 2026 - 14:26 WIB

    Gelar Perundingan di...

    Gelar perundingan di momen Sidang Umum PBB, Iran dan AS fokus akhiri perang. Foto/X/White House

    A A A

    NEW YORK - Amerika Serikat dan Iran melakukan pembicaraan tidak langsung selama berjam-jam melalui mediator di sela-sela Sidang Umum PBB (UNGA) di New York, namun terdapat perbedaan keterangan mengenai apakah pejabat dari kedua negara bertemu secara langsung.

    Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan bahwa para mediator telah "bergerak bolak-balik" antara delegasi Amerika dan Iran sepanjang hari Selasa.

    "Hari ini, di sela-sela Sidang Umum PBB, kami melakukan pembicaraan panjang dengan delegasi Iran melalui para mediator, yang bergerak bolak-balik di antara kedua belah pihak sepanjang hari," kata Witkoff dalam sebuah unggahan di X, dilansir Al Jazeera.

    "Mereka berhasil menyelesaikan satu putaran diskusi yang kami harap akan terbukti konstruktif dan menjanjikan. Para mediator akan melanjutkan tugas mereka."

    Presiden AS Donald Trump memberikan keterangan yang lebih langsung, dengan mengatakan bahwa Witkoff dan Jared Kushner telah mengadakan pertemuan selama tiga jam dengan para pejabat Iran. "Mereka mengadakan pertemuan yang sangat baik, pertemuan yang sangat produktif," ujar Trump kepada para wartawan di PBB, seraya menambahkan bahwa ia meyakini adanya "momentum yang kuat" menuju sebuah kesepakatan. Trump kemudian mengatakan bahwa pembicaraan masih terus berlangsung dan ia yakin kesepakatan pada akhirnya akan tercapai.

    Media pemerintah Iran menyatakan bahwa persyaratan tersebut mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta pengakhiran perang di wilayah-wilayah yang oleh Teheran disebut sebagai garis depan "perlawanan".

    Asadi juga melaporkan bahwa seorang sumber keamanan Iran mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ada kemungkinan untuk melanjutkan upaya diplomatik jika Washington memenuhi persyaratan dan komitmen Iran.

    Kontak-kontak ini terjadi setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa delegasi Teheran di New York memiliki wewenang penuh untuk melakukan diplomasi, dan menyebut pertemuan PBB tersebut sebagai "peluang emas" bagi Washington untuk kembali ke meja perundingan.

    Pejabat tersebut mengatakan bahwa Iran telah menyerahkan proposal terbarunya kepada Washington melalui pihak penengah pada tanggal 16 September, dan bahwa rincian mengenai kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan dapat dibahas di New York.

    Pejabat itu juga mengatakan bahwa Iran dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika AS melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

    Pembicaraan tidak langsung ini dibarengi dengan upaya diplomatik yang lebih luas yang melibatkan negara-negara Teluk dan negara-negara kawasan lainnya.

    Qatar menyatakan sedang bekerja sama dengan Pakistan untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran, menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, serta mendorong stabilitas kawasan.

    Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, juga bertemu dengan Araghchi di New York pada hari Selasa. Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan bahwa mereka membahas perkembangan di kawasan tersebut, upaya untuk meredakan ketegangan, serta cara-cara menciptakan kondisi yang memungkinkan dilakukannya dialog.

    Oman juga telah terlibat dalam diplomasi maritim terkait jalur perairan tersebut, setelah sebelumnya membahas pengaturan maritim dengan Teheran yang bertujuan untuk memfasilitasi pelayaran melalui selat itu.

    Pada hari Selasa, Trump juga bertemu dengan para pemimpin dan pejabat senior dari negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Turki, Yordania, Suriah, dan Irak untuk membahas masalah Iran serta keamanan kawasan.

    Kerangka kerja keamanan bersama yang melibatkan Iran dan negara-negara Teluk merupakan salah satu isu yang sedang dipertimbangkan, di mana sebuah sumber regional menyebutkan bahwa Teheran sedang meninjaunya.

    Qatar belum memublikasikan usulan tersebut.

    Pembicaraan tidak langsung ini berlangsung beberapa jam setelah Trump memanfaatkan pidatonya di Majelis Umum PBB untuk mengaitkan kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan peringatan lain mengenai eskalasi militer.

    Trump mengatakan bahwa ia menghadapi "keputusan besar" antara mencapai kesepakatan yang memungkinkan Iran untuk bangkit kembali atau mengambil langkah untuk "memusnahkan Republik Islam tersebut". Ia juga menyatakan bahwa Washington sebelumnya telah menawarkan "kerja sama ekonomi penuh" kepada Teheran sebagai imbalan atas penghentian program nuklirnya serta apa yang disebut AS sebagai dukungan Iran terhadap terorisme.

    Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menanggapi hal tersebut dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh media Iran; mereka menyebut ancaman Trump sebagai bukti "kelemahan strategis" dan menyatakan bahwa Iran siap melancarkan "pukulan yang lebih keras, menghancurkan, dan tak terduga" sebagai respons terhadap serangan lebih lanjut.

    Para pejabat AS berulang kali mengisyaratkan adanya kemajuan dalam negosiasi setelah gagalnya nota kesepahaman bulan Juni. Pada awal Agustus, Trump mengatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai parameter untuk kemungkinan kesepakatan dan kemudian menggambarkan pembicaraan mengenai Selat Hormuz "berjalan dengan baik", meskipun masih terdapat perbedaan yang signifikan. Awal bulan ini, ia kembali menyatakan harapannya bahwa perang tersebut "mendekati akhir". Teheran terus mensyaratkan pelonggaran tekanan militer dan pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS bagi pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara Witkoff menyatakan bahwa para mediator akan melanjutkan upaya mereka menyusul pertukaran yang dimediasi pada hari Selasa.

    (ahm)

    wa-channel

    Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari

    Follow

    Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!

    Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya

    Berita Terkait

      Rekomendasi

      Infografis

      7 Alasan Dunia Tak Menghukum...

      7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran

      Terpopuler

      1

      2

      3

      4

      5

      Berita Terkini

      Cara Trump Sambut Xi...

      China Kuasai Komponen...

      Dilema Ekonomi China:...

      Tentara Israel yang...

      Presiden Iran Tantang...

      Terungkap, 8 Tentara...

      Komentar
      Additional JS