Film Dokumenter Gaza 'NAZA' Menang di Venesia, Israel Serukan Cabut Kewarganegaraan sang Sutradara - T
Ringkasan Berita:
- Dokumenter NAZA tentang operasi militer Israel di Gaza meraih penghargaan juri khusus di Festival Film Venesia 2026.
- Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar kemudian menyerukan pencabutan kewarganegaraan sutradara Yuval Abraham dan Rachel Szor serta menuduh mereka melakukan pengkhianatan.
- Militer Israel membantah tuduhan dalam film tersebut, sementara proses pencabutan kewarganegaraan masih memerlukan prosedur hukum.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar menyerukan pencabutan kewarganegaraan dua sutradara Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, setelah film dokumenter mereka tentang operasi militer Israel di Gaza meraih penghargaan di Festival Film Venesia.
Zohar menuduh kedua pembuat film tersebut melakukan "pengkhianatan terhadap negara" melalui dokumenter berjudul NAZA.
"Saya akan segera bertindak untuk mencabut kewarganegaraan Israel dari para kreator tercela ini karena pengkhianatan terhadap negara," tulis Zohar di platform X pada Minggu (13/9/2026), dikutip dari The Guardian.
Seruan tersebut muncul sehari setelah NAZA memenangkan penghargaan juri khusus di Festival Film Venesia pada Sabtu (12/9/2026).
Film berdurasi 80 menit itu juga mendapat tepuk tangan selama 25 menit setelah pemutaran, yang disebut sebagai rekor dalam festival tersebut.
Ungkap Sistem Penargetan AI Israel di Gaza
NAZA berfokus pada penggunaan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan atau AI dalam operasi militer Israel di Gaza.
Baca juga: Gencatan Senjata Kembali Ternoda, Serangan Israel di Gaza Tewaskan 2 Warga Palestina
Film yang diproduksi oleh The Guardian itu dinamai berdasarkan akronim yang disebut digunakan dinas intelijen Israel untuk memperkirakan jumlah warga sipil yang akan tewas dalam serangan udara di Gaza.
Abraham dan Szor mewawancarai 24 informan dari kalangan militer atau intelijen Israel untuk mengungkap cara kerja sistem tersebut.
Dalam salah satu wawancara, seorang sumber mengklaim bahwa persetujuan telah diberikan untuk membunuh 500 orang yang dikategorikan sebagai warga sipil demi membunuh satu anggota Hamas.
Film tersebut dibuat dalam konteks perang Gaza yang dimulai setelah serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Menurut perhitungan Agence France-Presse berdasarkan angka resmi Israel, serangan Hamas menewaskan 1.221 orang dan menyebabkan 251 orang disandera ke Gaza.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 73.000 orang tewas dalam tiga tahun pemboman Israel, dengan sebagian besar korban merupakan warga sipil.
Namun, militer Israel membantah tuduhan yang disampaikan dalam NAZA.
Militer Israel mengatakan mereka "secara kategoris menolak" tuduhan tersebut dan mempertanyakan penggunaan kesaksian anonim dalam film.
Baca juga: Drone Zionis Israel Hantam Gaza, Dua Warga Palestina Tewas, 13 Terluka
Menurut militer Israel, identitas para informan yang memberikan kesaksian tidak dapat diverifikasi.
Menteri Israel Kecam Sutradara
Zohar bukan satu-satunya pejabat Israel yang mengecam Abraham dan Szor.
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir turut menyerang kedua sutradara tersebut setelah NAZA meraih penghargaan di Venesia.
"Anda adalah aib dan memalukan bagi seluruh rakyat Israel. Pergilah!" tulis Ben-Gvir di X.
Ben-Gvir juga mengatakan bahwa Hamas di Gaza akan menyambut kedua sutradara tersebut.
Abraham dan Szor sebelumnya memenangkan Oscar pada 2025 melalui film dokumenter No Other Land, yang mengangkat kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
Baca juga: Sutradara Film No Other Land, Basel Adra Sebut IDF Geledah Rumahnya usai Pemukim Serang Keluarganya
Rumah keluarga Abraham bahkan menjadi sasaran massa sayap kanan setelah pemutaran perdana dunia No Other Land pada 2024.
Kepada The Guardian, Abraham mengatakan dirinya dan Szor mengambil risiko dengan mengkritik sistem yang menurutnya memberikan hak istimewa kepada kelompok Yahudi-Israel.
"Bagi begitu banyak warga Palestina, bukan gerombolan sayap kanan yang datang ke rumah mereka: melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS," kata Abraham.
Ia juga membandingkan situasi yang dihadapi dirinya dengan jurnalis Palestina di Gaza.
"Bayangkan jika seorang jurnalis Palestina di Gaza mencoba melakukan apa yang kami lakukan dan menghubungi pejabat senior Israel. Tidak ada perbandingannya. Mereka kemungkinan besar akan dibunuh," ujarnya.
Bagaimana Kewarganegaraan Bisa Dicabut?
Pencabutan kewarganegaraan secara hukum dimungkinkan di Israel, meski jarang diterapkan.
Mahkamah Agung Israel pada 2022 menegaskan negara dapat mencabut kewarganegaraan seseorang yang dianggap gagal menunjukkan "kesetiaan", termasuk dalam kasus spionase atau pengkhianatan.
Aturan tersebut kemudian diperluas pada 2023 untuk mencakup orang-orang yang dihukum karena "terorisme".
Namun, kewarganegaraan tidak dapat dicabut hanya melalui pernyataan seorang menteri.
Menteri Dalam Negeri Israel harus mengajukan permohonan pencabutan kewarganegaraan, kemudian Menteri Kehakiman memberikan persetujuan dan hakim mengesahkannya.
Hingga Senin (14/9/2026), Abraham dan Szor belum memberikan tanggapan publik mengenai seruan Zohar, Arab News melaporkan.
Kementerian Dalam Negeri Israel juga belum memberikan komentar resmi mengenai permintaan tersebut.
Sementara itu, juri Festival Film Venesia memberikan penghargaan khusus kepada NAZA dengan alasan film tersebut menghadirkan "penyampaian cerita yang mendesak dan berani".
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)