Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Donald Trump Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    AS dan Iran Kembali Saling Serang, Trump Ancam Kemusnahan - Liputan6

    7 min read

     

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

    Sejak akhir pekan ini, AS telah dua kali menyerang Iran.

    Liputan6.com, Teheran - Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan pada Selasa (1/9/2026) malam bahwa pihaknya telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap sasaran militer Iran. Target serangan mencakup fasilitas pertahanan udara, sistem radar, dan aset maritim.

    Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS mengenai sejumlah lokasi sipil di sepanjang pesisir selatan negara itu.

    Salah satu serangan menghantam sebuah rumah yang tengah digunakan untuk menggelar pesta pernikahan di Kuhestak, Iran selatan. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan Ahmad Nafisi mengatakan lima orang, termasuk seorang anak, tewas dan sedikitnya 68 lainnya terluka.

    "Jangan salah: kejahatan-kejahatan ini tidak akan dibiarkan tanpa hukuman," kata Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi melalui X.

    Juru bicara CENTCOM Kapten Tim Hawkins mengatakan pihaknya mengetahui laporan mengenai korban sipil tersebut. Namun, ia menekankan bahwa laporan itu "berasal dari media pemerintah Iran".

    "Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, berbeda dengan IRGC," kata Hawkins seperti dilaporkan Associated Press.

    CENTCOM mengatakan serangan terbaru dilakukan sebagai tanggapan atas upaya Iran menyerang kapal-kapal komersial dan pasukan AS di Timur Tengah.

    Presiden Donald Trump memberikan penjelasan tambahan dalam wawancara melalui telepon dengan Fox News. Menurut Trump, salah satu sasaran serangan adalah radar-radar Iran yang tengah dibangun kembali.

    "Mereka mencoba membangun kembali radar mereka karena mereka tidak bisa melihat apa pun," klaim Trump. "Kami menunggu sampai radar itu hampir selesai dibangun, lalu kami menghantamnya."

    Trump memperingatkan Iran agar tidak membalas serangan tersebut.

    "Jika mereka membalas, mereka akan dihantam jauh lebih keras. Jika berlanjut hingga ketiga kalinya, mereka akan benar-benar musnah sebagai sebuah negara," ancam Trump melalui Fox News.

    Kendati demikian, Iran tetap melancarkan serangan balasan menggunakan rudal balistik ke Yordania. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim telah menargetkan pangkalan udara Prince Hassan dan pangkalan Marinir AS bernama "Camp Titin" di sepanjang pesisir Teluk Aqaba.

    Militer Yordania mengatakan berhasil menembak jatuh 10 rudal, sedangkan tiga rudal lainnya jatuh di daerah yang tidak berpenghuni. Sejumlah ledakan yang diduga berasal dari upaya pencegatan rudal terlihat di atas Aqaba.

    Serangan Iran juga dilaporkan menyasar negara lain di kawasan. Militer Kuwait mengatakan melalui X bahwa sistem pertahanan udaranya mencegat serangan drone "menyusul agresi kriminal Iran".

    Iran mengaku pula telah melancarkan serangan drone terhadap pasukan AS di Bahrain. Namun, belum ada konfirmasi langsung dari Bahrain.

    Pertempuran pada Selasa terjadi hanya dua hari setelah AS melancarkan serangan terhadap Iran pada Minggu (30/8). Serangan pada Minggu mengakhiri satu bulan tanpa aksi militer dan kembali membuka kemungkinan konflik berlangsung secara penuh.

    Perang Iran telah mendorong lonjakan harga minyak dunia dan menimbulkan persoalan politik bagi Partai Republik menjelang pemilihan sela Kongres pada November.

    Target Serangan AS

    Ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah pesisir selatan Iran, termasuk kota pelabuhan Bandar Abbas yang menjadi lokasi fasilitas angkatan laut dan angkatan udara, serta Pulau Qeshm di Selat Hormuz.

    Sejumlah saksi di Bandar Abbas mengatakan kepada Associated Press bahwa ledakan kali ini lebih kuat dibandingkan pada Minggu. Mereka mengaku melihat asap membubung dari bagian timur kota yang berada di tepi Selat Hormuz.

    Televisi pemerintah Iran mengatakan serangan AS menghantam sebuah pabrik tepung ikan di Pulau Qeshm serta sejumlah lokasi sipil di Provinsi Hormozgan.

    Sebuah dermaga nelayan dan menara milik Ports and Maritime Organization di Sirik disebut termasuk di antara lokasi yang terkena serangan.

    Televisi pemerintah Iran juga melaporkan militer AS menyerang Bandara Jiroft, sebuah bandara sipil di Provinsi Kerman, Iran tengah.

    Menurut laporan tersebut, sebuah proyektil menghantam area di luar landasan pacu. Tidak ada korban maupun kerusakan pada infrastruktur bandara.

    Serangan dilaporkan turut mengenai jaringan listrik di Provinsi Hormozgan. Televisi pemerintah Iran mengutip Tavanir, perusahaan pengelola jaringan listrik negara itu, yang mengatakan sejumlah bagian jaringan listrik terkena serangan.

    Pihak berwenang tengah berupaya memulihkan aliran listrik yang padam akibat serangan tersebut.

    Di tengah serangan itu, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran dan komando gabungan militernya mengatakan pasukan Iran akan melancarkan apa yang mereka sebut sebagai "serangan telak dan menghancurkan" terhadap AS.

    Kantor berita pemerintah IRNA mengutip pernyataan IRGC menyebutkan bahwa serangan AS justru semakin memperkuat tekad Iran.

    IRGC bahkan mengatakan Iran semakin memperketat penutupan Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan secara efektif telah ditutup Teheran sejak perang dimulai.

    Iran Siap Hidupkan Lagi Gencatan Senjata dengan AS

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Dok. handout by Khamenei.ir/via AFP)

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan pada Selasa, sebelum serangan terbaru terjadi, bahwa Republik Islam siap kembali menjalankan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai dengan AS pada Juni jika Washington juga melakukan hal yang sama.

    "Jika AS kembali menjalankan komitmennya dalam memorandum kesepahaman, Republik Islam Iran akan segera melakukan hal yang sama," kata Pezeshkian dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgizstan, sebagaimana dikutip media pemerintah Iran.

    Kesepakatan sementara pada Juni tersebut menyerukan gencatan senjata segera dan membuka periode 60 hari untuk perundingan yang bertujuan mencapai kesepakatan lebih luas. Namun, kesepakatan itu segera runtuh setelahnya.

    Sebelum aksi militer kembali berlangsung, pemerintahan Trump sempat berupaya menekan Iran melalui jalur ekonomi. Washington berpandangan bahwa tekanan terhadap sasaran ekonomi tertentu melalui kampanye isolasi finansial dapat membawa Teheran ke titik menyerah.

    Namun, pertempuran kini kembali berlangsung ketika persediaan rudal pencegat canggih milik AS terus menipis dan perang tersebut tidak populer di kalangan banyak warga AS.

    Trump pada Senin mengakui bahwa serangan tambahan terhadap Iran mungkin diperlukan.

    Sejak serangan kembali berlangsung, militer AS menyebut operasi militernya terhadap Iran masih berskala terbatas.

    Kembalinya konflik terbuka berisiko memperburuk situasi di kawasan. Sejak perang dimulai, Iran telah menargetkan pangkalan militer dan infrastruktur AS di negara-negara Teluk.

    Komentar
    Additional JS