Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran setelah Desakan Diplomasi dari Arab Saudi dan Pakistan - Tribunnews
SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah sejumlah negara di Timur Tengah meminta Washington memberikan ruang bagi upaya penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Keputusan tersebut diumumkan Trump pada Sabtu (1/8/2026), di tengah laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah mempertimbangkan operasi militer besar-besaran yang menyasar sejumlah fasilitas energi strategis Iran, termasuk pembangkit listrik dan kilang minyak.
Salah satu pemimpin yang aktif melakukan pendekatan diplomatik adalah Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Berdasarkan laporan Axios, Mohammed bin Salman menghubungi Trump untuk meminta penjelasan mengenai rencana operasi militer tersebut sekaligus mendorong Washington menahan diri agar konflik tidak semakin meluas.
Menurut sejumlah pejabat Amerika Serikat, Arab Saudi khawatir Iran akan melakukan serangan balasan terhadap fasilitas-fasilitas penting di negara-negara Teluk apabila Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Kekhawatiran tersebut dinilai berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Selain Arab Saudi, Pakistan juga melakukan upaya diplomatik.
Trump mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bersama Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir meminta Amerika Serikat menunda penggunaan kekuatan militer terhadap Iran dan memberikan kesempatan bagi proses negosiasi.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan keputusan menangguhkan serangan diambil setelah muncul kemajuan dalam pembahasan kerangka kesepakatan dengan Iran.
Menurut Trump, pembahasan tersebut mencakup sejumlah isu utama, di antaranya pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, aman, dan bebas dari ancaman, serta penyelesaian persoalan terkait program nuklir Iran.
"Saya memilih memberikan kesempatan kepada para pihak untuk mencapai kesepakatan," tulis Trump.
Meski demikian, Trump menegaskan penundaan serangan bergantung pada kesediaan Iran memenuhi persyaratan yang diajukan Amerika Serikat serta tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.
Dalam unggahan sebelumnya, Trump menyebut pengeboman terhadap Iran ditangguhkan selama dua pekan dengan syarat Teheran segera membuka Selat Hormuz secara penuh, aman, dan tanpa ancaman terhadap pelayaran internasional.
Ia juga mengklaim Israel mendukung upaya penyelesaian tersebut dan meminta seluruh pihak memanfaatkan kesempatan itu untuk merampungkan kesepakatan.
Baca juga: AS dan Israel Bersiap Serang Pembangkit Listrik hingga Kilang Minyak Iran, Teheran Ancam Balasan
Ketegangan Sempat Meningkat
Keputusan Trump membatalkan serangan diambil setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran apabila Teheran tidak membuka Selat Hormuz.
Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Sejumlah laporan media juga menyebut Amerika Serikat dan Israel sempat membahas kemungkinan menyerang berbagai fasilitas energi Iran.
Di sisi lain, Israel meningkatkan kesiapsiagaan sistem pertahanannya untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan dari Teheran.
Pemerintah Iran sebelumnya telah menegaskan akan memberikan respons tegas terhadap setiap serangan yang dilakukan Amerika Serikat maupun Israel.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga melakukan komunikasi dengan sejumlah negara di kawasan guna membahas perkembangan situasi serta peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Meski rencana serangan telah dibatalkan, Trump menegaskan opsi militer belum sepenuhnya dikesampingkan.
Pemerintah Amerika Serikat tetap menempatkan pasukan dalam kondisi siaga sebagai langkah antisipasi apabila perundingan gagal atau Iran tidak memenuhi kesepakatan yang sedang dibahas.