Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Gaza Israel Konflik Timur Tengah Layang-layang Spesial

    Mengapa Layang-Layang Gaza Membuat Israel Gelisah? - Minanews

    9 min read

     



    Gaza, MINA — Layang-layang biasanya identik dengan permainan anak-anak. Namun di tengah aksi pendudukan Israel atas Palestina, benda sederhana yang terbuat dari kertas, plastik, benang, dan rangka ringan itu memiliki sejarah yang jauh lebih rumit.

    Dalam beberapa hari terakhir, layang-layang yang dilaporkan terbang dari Jalur Gaza kembali menjadi perhatian penjajah Israel hingga memicu ancaman perluasan serangan.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz pada Ahad (23/8) memperingatkan bahwa Israel akan mengambil tindakan lebih keras jika peluncuran layang-layang, balon, dan drone dari Gaza terus berlangsung.

    Katz bahkan mengatakan layang-layang dan balon akan diperlakukan seperti drone, terlepas dari apakah benda tersebut membawa bahan peledak atau tidak. Seperti diberitakan Israel & Jewish News, JNS.

    Baca Juga: Israel Ancam Perluas Serangan di Gaza, Sasar Area Peluncuran Layang-Layang

    Ancaman tersebut muncul setelah sejumlah layang-layang ditemukan melintasi perbatasan menuju wilayah Israel. Laporan media-media Israel berbahasa Ibrani menyebutkan, beberapa layang-layang yang ditemukan tidak membawa bahan mencurigakan, layang-layang tersebut hanya diterbangkan oleh anak-anak yang sedang bermain di Jalur Gaza.

    Lantas, mengapa benda sesederhana layang-layang bisa membuat Israel begitu serius? jawabannya tidak sepenuhnya terletak pada benda tersebut, melainkan pada sejarah penggunaannya sebagai alat pembakar. Fenomena ini pertama kali mendapat perhatian besar pada 2018 ketika warga Palestina di Gaza menggunakan layang-layang yang dimodifikasi untuk membawa bahan pembakar ke arah wilayah Israel di sekitar perbatasan.

    Layang-layang tersebut kemudian menjadi bagian dari apa yang dikenal sebagai incendiary kites atau layang-layang pembakar.

    Menurut lembaga kajian keamanan Israel, Institute for National Security Studies (INSS), penggunaan layang-layang pembakar merupakan contoh ekstrem dari apa yang mereka sebut sebagai “technological reduction”, menggunakan teknologi yang sangat sederhana untuk menghadapi lawan yang memiliki teknologi militer jauh lebih maju.

    Baca Juga: Netanyahu Makin Gila, Anak Gaza Main Layang-Layang, Dianggap sebagai Ancaman

    Pada puncaknya pada 2018, fenomena tersebut menyebabkan kebakaran berulang di wilayah Israel yang berdekatan dengan Gaza. INSS mencatat rata-rata sekitar 12 kebakaran per hari pada musim panas 2018 dan memperkirakan lebih dari 32.000 dunam, atau sekitar 8.000 acre, lahan dan tanaman terbakar hingga Desember tahun tersebut.

    Data yang diklaim militer pendudukan Israel melalui IDF bahkan menyebut lebih dari 2.000 kebakaran terjadi di wilayah Israel akibat layang-layang dan balon pembakar selama rangkaian peristiwa tersebut, dengan lebih dari 35.000 dunam atau sekitar 8.500 acre lahan terbakar.

    Senjata Murah yang Menghadapi Sistem Mahal

    Pendudukan Israel memiliki sistem pertahanan udara yang sangat maju. Namun sistem seperti Iron Dome dirancang terutama untuk menghadapi ancaman seperti roket dan proyektil, bukan benda ringan yang terbawa angin.

    Baca Juga: Mesir Serukan AS dan Iran Kembali ke Jalur Negosiasi

    INSS mencatat bahwa layang-layang pembakar memiliki sejumlah kelemahan dibandingkan roket, terutama dalam hal jarak dan ketepatan. Tetapi benda itu juga memiliki keuntungan: biayanya sangat rendah, pembuatannya sederhana, dan tidak dirancang untuk memasuki pola pertahanan udara seperti roket.

    Dengan kata lain, persoalannya bukan apakah Israel mampu menghancurkan sebuah layang-layang. Persoalannya adalah berapa biaya dan sumber daya yang harus dikeluarkan untuk menghadapi ancaman yang sangat murah tersebut.

    Satu pihak mempunyai teknologi militer canggih dan mahal. Pihak lainnya dapat menggunakan benda sederhana untuk menciptakan gangguan, kebakaran, tekanan psikologis, dan perhatian politik.

    Dampaknya Bukan Hanya pada Lahan

    Baca Juga: Jepang Hibah 500 Juta Yen untuk Pangan dan Gizi Palestina

    Pada 2018, kebakaran akibat layang-layang dan balon pembakar tidak hanya merusak lahan pertanian. IDF menyebut kebakaran juga merusak rumah kaca, kandang ayam, peralatan pertanian, serta reservoir air. Militer Israel pada Juli 2018 memperkirakan kerugian mencapai lebih dari 2,2 juta dolar AS.

    Namun penelitian INSS menunjukkan bahwa dampak fenomena tersebut tidak hanya bersifat material. Ada dampak psikologis akibat layang-layang tersebut.

    Penduduk di wilayah sekitar Gaza menghadapi ancaman kebakaran yang datang dari udara dengan cara yang sulit diprediksi. INSS menyebut penggunaan layang-layang pembakar telah menimbulkan ketakutan dan rasa tidak berdaya di kalangan penduduk wilayah yang berdekatan dengan Gaza.

    Layang-layang 2026 dari Gaza

    Baca Juga: Pelapor Khusus PBB Desak Pembentukan Pasukan Perlindungan Internasional di Gaza dan Tepi Barat

    Layang-layang yang muncul dalam berita Agustus 2026 tidak otomatis merupakan layang-layang pembakar seperti yang digunakan pada 2018. Dalam perkembangan terbaru, Israel menyebut adanya peluncuran layang-layang, balon, dan drone dari Gaza.

    Tetapi laporan mengenai layang-layang yang ditemukan pada akhir pekan menunjukkan bahwa sebagian di antaranya tidak membawa bahan peledak. Media Israel juga melaporkan bahwa IDF menemukan beberapa layang-layang yang tidak memiliki benda mencurigakan.

    Yang membuat Israel bereaksi keras adalah rekam jejak penggunaan layang-layang sebagai alat pembakar pada masa lalu, ditambah kekhawatiran bahwa benda-benda tersebut dapat menjadi bagian dari ancaman yang lebih luas bersama balon dan drone.

    Bantahan Hamas

    Baca Juga: Israel Larang Dua Anggota Parlemen Eropa Masuk ke Wilayah Palestina yang Diduduki

    Hamas mengatakan layang-layang yang diterbangkan dari Gaza merupakan mainan anak-anak dan menuduh Israel menggunakan isu tersebut sebagai alasan untuk melanjutkan serangan. Pernyataan itu muncul setelah ancaman Netanyahu dan Katz untuk mengambil tindakan lebih keras terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab atas peluncuran.

    Bagi seorang anak, layang-layang mungkin hanya permainan. Bagi masyarakat Gaza, ia dapat menjadi simbol kreativitas dan kebebasan di tengah keterbatasan.

    Bagi Israel, terutama setelah pengalaman 2018, layang-layang dapat dipandang sebagai potensi ancaman yang tidak boleh dibiarkan. Sedangkan bagi pengamat konflik, fenomena tersebut menjadi contoh bagaimana perang asimetris tidak selalu membutuhkan teknologi canggih.

    Ancaman yang Kecil, Dampak yang Besar

    Baca Juga: Aktivis Israel Protes Perlakuan Buruk terhadap Perempuan Palestina di Penjara Damon

    Peristiwa terbaru memperlihatkan bagaimana sebuah benda sederhana dapat kembali memicu ketegangan. Pada 23 Agustus, serangan udara Israel di Gaza menewaskan sedikitnya dua orang, termasuk seorang anak berusia empat tahun, dan melukai tujuh orang lainnya menurut pejabat kesehatan Palestina yang dikutip Reuters. Israel mengatakan serangan tersebut berkaitan dengan peluncuran balon, drone, dan layang-layang dari Gaza.

    Ironi Layang-Layang Gaza

    Israel memiliki salah satu kekuatan militer paling maju di kawasan. Tetapi sejarah konflik menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu datang dalam bentuk rudal atau pesawat tempur.

    Kadang-kadang ia datang dalam bentuk benda yang sangat sederhana. Layang-layang tidak memiliki mesin, tidak memiliki radar, tidak memiliki sistem pemandu, dan tidak memiliki teknologi tinggi.

    Baca Juga: Serangan Israel Tewaskan Dua Warga Palestina di Gaza

    Namun ketika benda itu pernah digunakan untuk membawa api melintasi perbatasan, dampaknya cukup untuk membuat lahan terbakar, masyarakat resah, dan pemerintah harus mencari cara baru untuk meresponsnya.

    Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Mengapa Israel takut pada layang-layang?” melainkan:, “Mengapa sebuah benda yang begitu sederhana mampu menciptakan kegelisahan dan persoalan yang begitu kompleks bagi negara dengan teknologi pertahanan yang diklaim sangat maju saat ini. []

    Mi’raj News Agency (MINA)

    Baca Juga: Hamas: Israel Gunakan Layang-layang sebagai Dalih Serang Gaza

    Komentar
    Additional JS