Iran Kunci Selat Hormuz, Kapal Asing Tak Boleh Lewat Tanpa Persetujuan Teheran - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/situasi-tegang-di-kawasan-Selat-Hormuz.jpg)
SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat.
Iran menegaskan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi dan izin dari Teheran, sekaligus memperingatkan bahwa jalur pelayaran strategis itu tidak akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi komitmen yang sebelumnya telah disepakati.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, Sabtu, 30 Agustus.
Menurut Gharibabadi, Iran sebenarnya telah mencapai pemahaman dengan Oman mengenai pengaturan transit kapal di Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut belum otomatis diterapkan.
Pelaksanaannya, kata dia, sangat bergantung pada pemenuhan kewajiban pihak lain, terutama Amerika Serikat.
Baca juga: Iran Tegaskan Tetap Bertahan Hadapi Sanksi AS
“Setiap kali kondisi dan kewajiban yang harus dipenuhi Amerika dilaksanakan, Republik Islam Iran juga siap mengambil langkahnya terkait Selat Hormuz,” ujar Gharibabadi.
Sebaliknya, jika Washington tidak mengambil tindakan apa pun, Iran tidak akan terburu-buru membuka selat tersebut.
“Iran tidak memiliki alasan untuk tergesa-gesa membuka selat dan akan melanjutkan langkah-langkah pertahanannya,” katanya.
Iran: Selat Hormuz Masih Tertutup
Gharibabadi juga membantah klaim bahwa kapal-kapal masih dapat melintasi Selat Hormuz secara bebas.
Ia menegaskan, kondisi di jalur pelayaran tersebut masih berada dalam kendali penuh Iran.
“Selat itu sepenuhnya diblokade,” ujarnya.
Jika ada kapal yang tetap melintas, menurut Gharibabadi, kapal tersebut hanya dapat melakukannya melalui koordinasi dengan Iran.
“Tidak ada kapal yang dapat transit di Selat Hormuz tanpa koordinasi Iran,” tegasnya.
Ia mengatakan angkatan bersenjata Iran mengetahui setiap pergerakan kapal di kawasan tersebut dan terus menjalankan tugasnya.
“Angkatan bersenjata kami memiliki kesadaran penuh terhadap setiap pergerakan di selat dan menjalankan misi mereka dengan sebaik-baiknya,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran masih mempertahankan posisi kerasnya di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Washington Dituding Mengkhianati Diplomasi
Selain persoalan Selat Hormuz, Gharibabadi juga menanggapi paket sanksi terbaru yang dijatuhkan Amerika Serikat terhadap Iran.
Ia mengatakan sanksi tersebut bukan sesuatu yang baru bagi Teheran.
“Iran sepenuhnya siap menghadapi hal itu,” ujarnya.
Namun, Gharibabadi menuding Washington justru menjadi pihak yang berulang kali meninggalkan jalur diplomasi.
Menurutnya, jika Amerika Serikat benar-benar ingin kembali ke meja perundingan, Washington harus memahami bahwa Iran tidak pernah melanggar nota kesepahaman Islamabad.
Sebaliknya, kata dia, Amerika Serikat telah mengkhianati diplomasi dan meja perundingan untuk ketiga kalinya dalam 16 bulan.
Qatar dan Pakistan Coba Menjembatani
Di tengah kebuntuan tersebut, Qatar dan Pakistan disebut tengah memainkan peran sebagai mediator.
Gharibabadi mengatakan kedua negara sedang menilai kemungkinan kembalinya para pihak pada komitmen yang tertuang dalam MoU Islamabad.
Iran, menurut dia, telah menjelaskan kepada kedua negara tersebut bahwa Teheran sebenarnya sudah mempersiapkan mekanisme yang diperlukan melalui pemahamannya dengan Oman.
Namun, Iran tidak akan menjadi pihak yang terlebih dahulu menjalankan kewajiban untuk membuka Selat Hormuz.
“Kami tidak akan mengambil langkah pertama dalam melaksanakan kewajiban terkait pembukaan selat,” katanya.
Gharibabadi menegaskan, Amerika Serikatlah yang terlebih dahulu menghentikan pelaksanaan kewajibannya.
“Washington harus kembali pada komitmen tersebut. Kami telah menjelaskan secara tepat langkah-langkah apa yang harus dilakukan Amerika,” ujarnya.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekan
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis karena menjadi salah satu pintu utama lalu lintas energi dunia. Karena itu, setiap ancaman terhadap kebebasan pelayaran di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap perdagangan dan pasar energi global.
Pernyataan terbaru Teheran memperlihatkan bahwa Iran masih menggunakan kendali atas kawasan Selat Hormuz sebagai salah satu kartu penting dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.
Pesan Iran pun jelas: selat tidak akan dibuka hanya karena Washington menginginkannya.
Teheran menunggu langkah dari Amerika Serikat terlebih dahulu.
Dan selama tuntutan Iran belum dipenuhi, Iran mengatakan mereka tidak akan terburu-buru mengubah kebijakan di Selat Hormuz.(*)