Iran dan Oman Makin Dekat Capai Kesepakatan Buka Selat Hormuz, Akankah Perang Segera Mereda? - Jawa Pos
JawaPos.com - Iran dan Oman dilaporkan semakin dekat mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Jika terealisasi, langkah ini berpotensi meredakan konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan sekaligus memulihkan arus distribusi minyak dan gas global.
Menurut dua pejabat kawasan yang berbicara kepada The Associated Press (AP), rancangan kesepakatan mengatur agar kapal yang menuju Teluk Persia memasuki perairan melalui jalur yang berada di bawah kendali Iran, sementara kapal yang keluar akan melintasi jalur yang diawasi Oman.
Meski demikian, kesepakatan tersebut masih menghadapi hambatan besar. Salah satu syarat utama dari pihak Iran adalah Amerika Serikat mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menegaskan tidak akan menyetujui kesepakatan yang memberikan kendali Selat Hormuz kepada Iran.
AS Sebut Negosiasi Mengalami Kemajuan
Di tengah proses diplomasi yang terus berlangsung, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan bisa segera tercapai.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi pembicaraan antara Iran dan Oman menunjukkan perkembangan positif, meski belum mencapai tahap akhir.
"Ada kemajuan yang dibuat dalam pembicaraan antara Iran dan Oman, tetapi belum finalitas," kata Rubio.
Senada dengan itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat cukup besar.
"Ada kemungkinan kita memiliki kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka selat dan bergerak menuju posisi yang lebih normal dalam konflik ini," ujar Bessent kepada CNBC.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka, meskipun berbagai perbedaan kepentingan antara Washington dan Teheran belum sepenuhnya terselesaikan.
Diketahui, selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Sebelum perang pecah pada Februari lalu, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam dunia dikirim melalui selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Sejak konflik meningkat, serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz praktis lumpuh. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global serta mendorong kenaikan biaya pengiriman dan risiko perdagangan internasional.
Apabila kesepakatan benar-benar tercapai, pembukaan kembali Selat Hormuz diperkirakan akan menjadi salah satu langkah penting untuk memulihkan jalur perdagangan energi sekaligus mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, di saat upaya diplomasi terus berlangsung, konflik di kawasan belum sepenuhnya mereda.
Di Gaza City, ratusan warga menghadiri pemakaman massal bagi lebih dari 100 korban yang tewas akibat serangan Israel pada awal konflik. Sementara itu, di Beirut digelar acara peringatan bagi para korban ledakan pelabuhan Beirut tahun 2020.
Di Yaman, kelompok Houthi juga mengklaim telah meluncurkan serangan ke sebuah bandara di Arab Saudi, menandakan ketegangan di kawasan masih terus berlangsung meski negosiasi terkait Selat Hormuz menunjukkan perkembangan positif.