Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Iran Ancam Tahan dan Sita Kapal yang Langgar Aturan di Selat Hormuz - detik

    3 min read

     


    Teheran -

    Iran mengancam akan menahan atau menyita kapal-kapal yang tidak memenuhi aturan perlintasan yang ditetapkan Teheran di Selat Hormuz. Otoritas Teheran juga memperingatkan bahwa kapal-kapal tidak taat aturan itu dapat dikenai denda.

    Ancaman terbaru Iran ini dilontarkan saat situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital untuk pasokan minyak dan gas global, masih memanas di tengah perebutan kendali antara Teheran dan Amerika Serikat (AS) yang berperang sejak akhir Februari lalu.

    Dalam peringatan yang disampaikan via media sosial X, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (24/8/2026), Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) menegaskan bahwa kapal-kapal yang gagal mematuhi aturan di Selat Hormuz dapat dikenai denda, ditahan atau disita pada pelayaran berikutnya.

    SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

    PGSA mengimbau perusahaan-perusahaan yang mengangkut kargo dari atau ke kawasan Teluk untuk memeriksa daftar terbaru kapal-kapal yang dituduh melakukan pelanggaran, sebelum menyewa kapal mana pun.

    Disebutkan juga oleh PGSA bahwa kapal-kapal yang bekerja sama dengan kapal lainnya yang sudah tercantum dalam daftar pelanggaran itu, juga akan dimasukkan ke dalam daftar tersebut mulai Minggu (23/8) waktu setempat.

    Hal tersebut berlaku untuk kapal-kapal yang terlibat dalam pemindahan kargo dari kapal-ke-kapal, transshipment, dan operasi-operasi serupa lainnya.

    Transshipment merupakan proses memindahkan barang, kargo, atau muatan dari satu sarana angkut ke sarana angkut lainnya di titik transit atau pelabuhan perantara sebelum muatan itu melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir.

    PGSA menambahkan bahwa kapal-kapal yang ingin namanya dihapus dari daftar pelanggaran tersebut harus mengajukan permohonan resmi yang menjelaskan alasan penghapusan.

    Konflik Timur Tengah masih jauh dari akhir, meskipun Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu, dengan dimediasi Pakistan dan Qatar. MoU itu mengatur soal negosiasi berkelanjutan menuju kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik secara permanen.

    Namun negosiasi berujung buntu setelah muncul perselisihan mengenai pelaksanaan MoU dan pengaturan pelayaran di Selat Hormuz.

    Iran bersikeras agar kapal-kapal yang melintasi jalur perairan yang berbatasan langsung dengan wilayah daratannya itu untuk mematuhi aturan-aturan yang ditetapkannya. Sedangkan AS menegaskan kebebasan navigasi di jalur perairan strategis tersebut,

    Simak juga Video: Iran: Selat Hormuz Gak Ada Masalah Sampai 28 Februari 2026

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

    Komentar
    Additional JS