Inggris Minta Komunitas Muslim Irit Air saat Wudhu, Komunitas Asia saat Cuci Beras - AFU

Penulis: Erik Erfinanto
JAKARTA, AFU.ID - Pemerintah Inggris melalui regulator industri air meminta masyarakat menggunakan air secara lebih hemat, termasuk komunitas Muslim saat berwudhu dan komunitas Asia ketika mencuci beras. Imbauan tersebut merupakan bagian dari program “Water Efficiency in Faith and Diverse Communities” yang didanai Ofwat, regulator layanan air Inggris. Program ini melibatkan perusahaan air, organisasi keagamaan, serta kelompok masyarakat untuk mendorong penggunaan air yang lebih efisien tanpa mengganggu praktik keagamaan maupun kebiasaan budaya.
Salah satu proyek percontohan dilakukan di Cambridge melalui kerja sama South Staffordshire Water, Fakultas Divinity University of Cambridge, Cambridge Central Mosque yang dikenal sebagai masjid ramah lingkungan pertama di Inggris, serta sejumlah organisasi dan perusahaan air lainnya. Dalam proyek tersebut, umat Islam di Cambridge didorong menggunakan sekitar satu liter air untuk berwudhu sebelum salat. Ofwat menyebut penggunaan air mengalir untuk wudhu dapat mencapai hingga 12 liter, terutama karena wudhu dilakukan lima kali sehari.
Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan botol berisi satu liter air berpotensi menghemat hingga 55 liter air per orang setiap hari. Secara keseluruhan, program wudhu tersebut diperkirakan menghemat hingga 5.900 liter air per hari di Cambridge. Anjuran itu juga sejalan dengan praktik yang secara umum dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW, yang disebut menggunakan tidak lebih dari sekitar satu liter air untuk berwudhu.
Ofwat merekomendasikan agar panduan penghematan air tersebut disebarluaskan melalui saluran televisi Islam. Namun, program itu juga mengingatkan perusahaan air agar tidak memberikan kesan bahwa umat Islam merupakan kelompok yang lebih banyak membuang-buang air dibandingkan masyarakat lainnya. Selain komunitas Muslim, program tersebut menyasar komunitas Asia melalui kampanye penghematan air saat memasak dan mencuci beras. Menurut laporan The Telegraph, salah satu inisiatif tersebut menggunakan dana pembayar pajak sebesar 270 ribu poundsterling dan melibatkan koki selebritas Ping Coombes, pemenang MasterChef 2014.
Dalam sebuah video di YouTube, Coombes menjelaskan bahwa mencuci beras lima hingga tujuh kali sampai air terlihat jernih merupakan kebiasaan yang umum dilakukan. Namun, ia mengatakan dirinya hanya mencuci beras dua kali. Program tersebut kemudian menuai kritik. Sejumlah pihak menilai perusahaan air seharusnya lebih memprioritaskan perbaikan infrastruktur yang mengalami kebocoran daripada mengarahkan masyarakat untuk mengubah kebiasaan sehari-hari maupun praktik budaya dan keagamaan.
Penelitian Greenpeace UK pada Juli menemukan sekitar 2,87 miliar liter air hilang setiap hari akibat kebocoran pipa di Inggris dan Wales. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1.150 kolam renang ukuran Olimpiade. Studi itu juga menyebut volume air yang terbuang melalui kebocoran pipa lima kali lebih besar dibandingkan jumlah air yang dapat dihemat melalui larangan penggunaan selang air. Menteri bayangan untuk Cabinet Office, Mike Wood, mengkritik penggunaan dana publik untuk program tersebut. Menurut dia, penghematan air merupakan tujuan yang baik, tetapi persoalan yang lebih besar adalah penggunaan uang pembayar pajak untuk program yang berupaya mengubah kebiasaan keagamaan dan budaya masyarakat.
Ofwat membantah bahwa program tersebut bertujuan mengatur praktik keagamaan atau kebiasaan masyarakat. Juru bicara Ofwat mengatakan cuaca kering berkepanjangan pada musim panas menjadi pengingat bahwa semua orang perlu menggunakan air secara lebih efisien karena air merupakan sumber daya yang terbatas. Menurut Ofwat, proyek percontohan itu dilakukan bersama perusahaan air, organisasi amal, dan berbagai kelompok agama untuk memberikan saran penghematan air yang relevan dan praktis bagi setiap komunitas. Program tersebut berakhir pada April 2025 dan, menurut Ofwat, tidak pernah menentukan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan masyarakat serta tidak mengganggu ibadah maupun kebiasaan keagamaan.
Kampanye penghematan air tersebut berlangsung di tengah upaya pemerintah Inggris mendorong masyarakat mengurangi konsumsi air. Pada Juni, pemerintah meluncurkan kampanye senilai 75 juta poundsterling bertajuk “Let's Save Water”, yang mengajak masyarakat melakukan perubahan kecil dalam aktivitas sehari-hari untuk mengurangi penggunaan air. (EER)