Analis: China Kian Berpengaruh terhadap Kapabilitas Militer Iran dan Pakistan -
Analis menilai China semakin berpengaruh terhadap kapabilitas militer Iran dan Pakistan. Foto/Military Watch Magazine
JAKARTA - Konflik yang baru-baru ini melibatkan Iran kembali menyoroti peran China dalam dinamika keamanan kawasan Timur Tengah. Pakar geopolitik asal Italia, Sergio Restelli, menilai Beijing selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat kemampuan militer Iran dan Pakistan, dua negara yang disebutnya sebagai lawan strategis utama Israel.
Dalam analisisnya yang dipublikasikan di situs ToI, Senin (3/8/2026), Restelli menyebut pengaruh China tidak dibangun melalui aliansi militer atau pengerahan pasukan seperti Amerika Serikat (AS) maupun Rusia. Sebaliknya, Beijing mengandalkan kerja sama industri, transfer persenjataan, teknologi dwiguna (dual-use technology), investasi ekonomi, serta dukungan diplomatik.
Baca Juga: Rudal Iran Makin Akurat Gempur Pangkalan AS, Benar Canggih atau Dibantu Rusia dan China?
"China jarang berada di pusat krisis Timur Tengah, tetapi keputusan-keputusan jangka panjangnya telah membantu membentuk lingkungan strategis yang kini semakin sulit dikelola Israel," ujar Restelli.
Menurutnya, pendekatan tersebut secara bertahap memperkuat negara-negara yang memiliki kepentingan untuk membatasi pengaruh Israel dan AS di kawasan.
Pakistan Jadi Mitra Militer Terdekat China
Restelli menilai Pakistan merupakan contoh paling jelas dari strategi tersebut. Selama lebih dari tiga dekade, China disebut telah menjadikan Pakistan sebagai mitra militer terdekatnya.
Angkatan Udara Pakistan kini banyak mengoperasikan pesawat tempur buatan China, termasuk JF-17 dan J-10CE. Sementara itu, Angkatan Laut-nya tengah memperkuat armada dengan kapal selam dan fregat produksi China. Kerja sama kedua negara juga mencakup sistem rudal dan pertahanan udara.
Menurut Restelli, sejumlah kajian dari lembaga-lembaga Barat menyimpulkan bahwa bantuan China memainkan peran penting dalam modernisasi militer Pakistan.
Hubungan Strategis dengan Iran
Sementara itu, hubungan China dengan Iran berkembang melalui jalur yang berbeda. Di tengah pembatasan akibat sanksi internasional, Beijing disebut tetap menjadi salah satu mitra strategis utama Teheran.
Restelli mengatakan perusahaan-perusahaan China memasok berbagai teknologi dwiguna, peralatan industri, dan komponen yang berkaitan dengan sektor-sektor penunjang industri pertahanan Iran.
Hubungan tersebut semakin erat setelah kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama strategis selama 25 tahun pada 2021 yang mencakup sektor energi, infrastruktur, teknologi, hingga keamanan.
Di sisi lain, Iran dan Pakistan juga terus memperluas kerja sama keamanan, terutama di kawasan perbatasan yang menghadapi ancaman kelompok pemberontak. Menurut Restelli, pertukaran intelijen serta mekanisme koordinasi militer antara kedua negara semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir.
China Berada di Pusat Hubungan Strategis
Restelli menilai China berada di pusat hubungan strategis antara Iran dan Pakistan. Meski tidak terdapat bukti publik mengenai adanya mekanisme intelijen trilateral yang secara khusus ditujukan kepada Israel, dia menilai Beijing berada dalam posisi yang memungkinkan memperoleh manfaat dari arus informasi yang lahir dari hubungan pertahanannya dengan kedua negara.
Menurutnya, latihan militer bersama, dialog pertahanan, kerja sama teknologi, dan konsultasi keamanan menciptakan saluran pertukaran informasi yang sebelumnya tidak tersedia.
Bagi Israel, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan teoritis. Restelli menyoroti jaringan kelompok proksi Iran yang tersebar di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman, sementara Pakistan merupakan salah satu negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia Islam serta memiliki senjata nuklir dan kemampuan rudal yang maju.
Dia juga menyebut China terus memberikan dukungan berupa teknologi militer, pengaruh diplomatik, dan kerja sama ekonomi kepada Teheran maupun Islamabad.
Restelli turut mengemukakan dugaan yang berkembang di kalangan pengamat bahwa sebagian teknologi nuklir Iran kemungkinan berasal dari Pakistan dengan dukungan diam-diam dari China. Namun, dia mengakui tidak terdapat bukti konkret yang dapat mengonfirmasi asumsi tersebut.
Pengaruh terhadap Keseimbangan Kekuatan Kawasan
Meski demikian, Restelli menilai kondisi tersebut tidak berarti China menginginkan konfrontasi langsung dengan Israel. Beijing masih memiliki hubungan dagang dengan Israel dan selama ini cenderung menghindari keterlibatan langsung dalam konflik militer di Timur Tengah.
Menurutnya, kepentingan utama China tetap berfokus pada pengamanan pasokan energi, perluasan Belt and Road Initiative (BRI), serta mengurangi dominasi strategis Amerika Serikat di kawasan.
Namun, dia menilai dampak dari kebijakan tersebut tetap signifikan.
"Niat tidak selalu menentukan hasil akhirnya. Dengan memperkuat basis industri dan teknologi Iran sekaligus menjadikan Pakistan sebagai salah satu operator terbesar peralatan militer buatan China, Beijing telah menggeser keseimbangan kekuatan di kawasan," tutur Restelli.
Dia menambahkan bahwa perubahan tersebut memengaruhi perhitungan keamanan Israel, terlepas dari apakah hal itu memang menjadi tujuan utama China atau bukan.
Restelli juga berpendapat bahwa penggunaan persenjataan, teknologi, maupun satelit yang dipasok kepada Iran berpotensi memberikan manfaat, baik secara langsung maupun tidak langsung, bagi kelompok-kelompok seperti Hamas.
"Yang hilang hanyalah sidik jari Beijing pada senjatanya," imbuh dia.
Dampak Melampaui Timur Tengah
Menurut Restelli, implikasi hubungan China dengan Iran dan Pakistan tidak berhenti di Timur Tengah. Dia menilai Beijing kini memandang persaingan global sebagai persoalan yang saling terhubung, bukan sekadar rangkaian krisis regional yang berdiri sendiri.
Dalam konteks tersebut, hubungan China dengan Iran dan Pakistan berjalan seiring dengan kemitraannya bersama Rusia, Korea Utara, serta sejumlah negara lain yang dinilai menantang tatanan internasional saat ini.
Bagi Israel, kata Restelli, penilaian terhadap ancaman keamanan tidak lagi cukup hanya berfokus pada Iran maupun kelompok-kelompok proksinya. Faktor eksternal yang memasok teknologi, kapasitas industri, serta dukungan diplomatik juga perlu diperhitungkan.
"China mungkin jarang terlihat di medan perang, tetapi pengaruhnya tampak pada sistem persenjataan, kapasitas industri, dan daya tahan strategis negara-negara yang kepentingannya sering kali berseberangan dengan Israel," pungkas Restelli.
(mas)