80% Kapal Pilih Jalur Oman, Apakah Iran Sudah Kehilangan Kendali di Selat Hormuz? -, SindoNews
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 20 Agustus 2026 - 03:30 WIB

Sebanyak 80 persen kapal pilih jalur Oma di Selat Hormuz. Foto/X/Fars
A A A
TEHERAN - Perebutan kendali atas Selat Hormuz menjadi titik fokus dalam perang yang melibatkan Iran. Selama beberapa bulan terakhir, baik Iran maupun Amerika Serikat sama-sama mengklaim memiliki keunggulan—dan retorika yang saling bertentangan ini telah menimbulkan kebingungan serta keraguan yang cukup besar.
Namun, saat ini buktinya jelas: Amerika Serikat, yang berpatroli di selat tersebut dengan angkatan lautnya, semakin menguasai situasi—sementara Iran kehilangan sebagian besar kendalinya atas jalur perairan vital tersebut.
Lebih dari 80% pelayaran kapal yang melintasi Selat Hormuz selama dua minggu terakhir telah mengambil rute Oman—sebuah jalur pelayaran yang disahkan oleh PBB dan ditentang keras oleh Iran—menurut data Kpler, perusahaan yang melacak pergerakan kapal menggunakan transponder dan data satelit.
Iran, yang menyatakan bahwa selat tersebut berada di bawah kendalinya, telah menyerang puluhan kapal yang mencoba melintasi perairan tersebut melalui pesisir utara Oman. Terlepas dari risiko yang ada, sebagian besar kapal belakangan ini memilih untuk mengabaikan tuntutan Iran dan melintasi selat tersebut dengan jaminan perlindungan dari angkatan laut AS.
"Situasi ini semakin menunjukkan bahwa Iran setidaknya telah kehilangan sebagian kendali atas selat tersebut," ujar Homayoun Falakshahi, kepala analisis minyak mentah di Kpler, dilansir CNN.
80% Kapal Pilih Jalur Oman, Apakah Iran Sudah Kehilangan Kendali di Selat Hormuz?
1. Adanya Pergeseran Kendali di Hormuz
Kondisi ini sangat kontras dengan situasi sebulan yang lalu, ketika Kpler mencatat hampir tidak adanya lalu lintas pelayaran melalui rute Oman. Penurunan tajam lalu lintas di rute yang diinginkan Iran tersebut telah menghalangi Iran untuk memungut biaya (tol) atas lalu lintas kapal yang melewati selat itu—seperti yang sempat mereka lakukan pada musim semi lalu.
Berakhirnya Nota Kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran pada minggu ini secara teori memungkinkan Iran untuk kembali memungut biaya pelayaran. Namun, menurut Kpler, tampaknya negara tersebut belum mampu melakukannya.
"Permintaan Iran untuk memungut biaya lintas adalah hal yang tidak ingin dilakukan—dan belum pernah dilakukan—oleh sebagian besar pihak di Timur Tengah," ujar Dan Pickering, pendiri sekaligus kepala investasi di Pickering Energy Partners. "Jadi, rute Oman jelas merupakan pilihan yang paling masuk akal."
2. Berusaha Menghindari Serangan Iran
Menurut Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab telah menyewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC)—jenis kapal tanker minyak terbesar—untuk berlayar keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz, lalu memindahkan muatan minyak ke kapal tanker milik pelanggan di luar zona bahaya di Teluk Oman.
Demi menghindari serangan Iran, mereka mematikan transponder kapal, sering kali selama berminggu-minggu. Praktik yang disebut sebagai "lalu lintas gelap" ini tampaknya juga luput dari pantauan sejumlah layanan pelacakan data seperti Kpler. Meskipun sebagian pergerakan kapal dapat terdeteksi melalui satelit, pelacakan dengan cara-cara konvensional menjadi lebih sulit dilakukan.
Namun, Amerika Serikat—yang memiliki kekuatan militer signifikan di perairan tersebut—memantau setiap kapal yang melintasi selat itu dan melaporkan angka pengiriman minyak yang jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan konvensional sebelumnya.
Menteri Energi Chris Wright pekan lalu menyatakan bahwa total volume minyak yang melintasi selat tersebut maupun yang dialihkan rutenya mencapai sekitar 15 juta barel per hari dalam kurun waktu satu minggu—angka yang jauh lebih mendekati rata-rata 20 juta barel per hari pada masa sebelum perang.
3. Berebut Pengaruh
Hal tersebut mendorong Presiden Donald Trump untuk menyatakan pada hari Senin bahwa Amerika Serikat memiliki "kendali penuh atas selat itu"—sebuah klaim yang patut dipertanyakan dan kerap ia ulang selama konflik berlangsung. Serangan Iran yang terus berlanjut serta arus minyak yang masih jauh di bawah tingkat pra-perang mengindikasikan bahwa Amerika Serikat tidak sepenuhnya menguasai Selat Hormuz.
Namun, Iran pun tidak menguasainya.
"Jika tujuan mereka adalah untuk 'memegang kendali', menurut saya mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar memegang kendali sejak awal," kata Pickering. "Tampaknya tujuan mereka adalah menciptakan efek gentar demi mendapatkan pengakuan bahwa mereka memegang kendali. Saya rasa mereka masih terus berupaya menciptakan efek gentar tersebut."
Akan tetapi, jika kapal-kapal tanker benar-benar berhasil mengangkut minyak melalui selat tersebut dalam jumlah sebesar yang diklaim Amerika Serikat, maka kemampuan Iran dalam menciptakan efek gentar maupun kendalinya atas Selat Hormuz telah berkurang dibandingkan kondisi satu atau dua bulan yang lalu. Situasi semakin rumit karena Oman dan Iran sedang melakukan pembicaraan untuk memulihkan kebebasan navigasi di selat tersebut—tanpa melibatkan Amerika Serikat—hal yang membuat Trump kecewa. Belum jelas bagaimana diskusi-diskusi itu akan memengaruhi lalu lintas minyak atau kendali atas jalur perairan tersebut.
"Saya akan menyikapi semua informasi dan berita utama tersebut dengan sikap hati-hati," ujar Lipow. "Namun, bisa dikatakan bahwa Iran telah kehilangan sebagian kendali atas selat itu."
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Terpopuler
1
2
3
4
5





