Sosial Media
Opsi Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Ibaraki Jepang Spesial

    3 Orang Tewas di Pantai Ibaraki, Jepang Pasang Peringatan Bahaya Arus Balik dalam Bahasa Indonesia - Tribunnews

    6 min read

     

    Ibaraki Shimbun A-A+ POSTER PERINGATAN - Poster dalam berbagai bahasa memperingatkan bahaya arus rip di sepanjang pesisir Kashimanada. Dalam foto, tanjung buatan 'Headland' menjorok ke laut di kota Kashima Ibaraki-ken. (Ibaraki Shimbun) 
    Ringkasan Berita:
    • Tiga orang tewas terseret arus balik (rip current) di sekitar headland pesisir Ibaraki, Jepang, selama Juli-Agustus 2026
    • Polisi menyebut arus dapat berubah mendadak, berkecepatan hingga 2 meter per detik, dan sulit dilawan bahkan oleh perenang berpengalaman 
    • Peringatan bahaya kini dipasang dalam bahasa Indonesia dan sejumlah bahasa asing lainnya

    Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

    TRIBUNNEWS.COM, TOKYO  — Tiga orang meninggal dunia akibat kecelakaan air di sekitar tanjung buatan (headland) di pesisir Prefektur Ibaraki, Jepang, selama Juli hingga Agustus 2026.

    Kepolisian Prefektur Ibaraki memperingatkan masyarakat agar tidak mendekati kawasan tersebut karena rawan rip current atau arus balik yang sangat kuat dan dapat menyeret perenang ke tengah laut.

    Jumlah korban meninggal akibat kecelakaan air di sekitar headland pada musim panas tahun ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

    “Arus di tempat tersebut dapat berubah secara mendadak dan menjadi sangat kompleks. Ini merupakan kawasan berbahaya. Kami meminta masyarakat untuk tidak mendekatinya,” demikian peringatan kepolisian.

    Baca juga: TKI asal Sragen Tewas Tenggelam di Jepang, Diduga Tak Didaftarkan Asuransi Selama Bekerja

    Warga Vietnam Turut Menjadi Korban

    Kawasan sekitar headland sebenarnya telah dinyatakan terlarang untuk dimasuki maupun digunakan untuk berenang. Namun, hingga 20 Agustus 2026, tiga kecelakaan fatal tetap terjadi.

    Pada 26 Juli 2026, seorang pria berusia 50-an tahun asal Prefektur Chiba meninggal dunia setelah terseret ombak di pantai Kota Kashima.

    Kemudian pada 8 Agustus 2026, seorang pria warga negara Vietnam berusia 20-an tahun tersapu ombak ketika berenang di pantai Kota Hokota.

    Sehari kemudian, seorang perempuan berusia 20-an tahun asal Kota Ishioka, Prefektur Ibaraki, tenggelam di pantai lain yang juga berada di Kota Hokota.

    Polisi menduga ketiga korban terseret arus balik yang terbentuk di sekitar headland.

    Arus Sangat Kuat, Perenang Berpengalaman Pun Sulit Melawan

    Headland merupakan struktur yang dibangun menjorok ke laut, salah satunya untuk membantu mencegah pengikisan pantai.

    Saat ini terdapat 34 headland di sepanjang pesisir Kashimanada, mulai dari Kota Kamisu hingga Kota Oarai.

    Namun, struktur tersebut juga dapat memicu terbentuknya arus balik yang kuat. Kecepatan arus di kawasan tersebut dapat mencapai dua meter per detik.

    Kekuatan arus bahkan disebut sangat besar sehingga perenang Olimpiade sekalipun akan kesulitan berenang melawannya.

    Berdasarkan data kepolisian, selama 10 tahun hingga 2025 tercatat 128 kecelakaan air di laut Ibaraki pada musim panas, yakni periode Juni hingga Agustus.

    Sebanyak 45 kecelakaan terjadi di sekitar headland. Dari kejadian tersebut, total 23 orang meninggal dunia atau dinyatakan hilang.

    Baca juga: Jepang Siapkan Generasi Baru Petani, Sekolah Pertanian Ajarkan Budidaya Padi Berbasis Data

    Sepuluh Korban Merupakan Warga Asing

    Dari seluruh korban meninggal dan hilang selama 10 tahun terakhir, sebanyak 10 orang merupakan warga negara asing.

    Karena itu, Pemerintah Prefektur Ibaraki bersama kepolisian memperkuat penyampaian informasi keselamatan dalam berbagai bahasa.

    Poster bertuliskan “Berbahaya” dan “Jangan berenang” dalam bahasa Indonesia, Thailand, serta sejumlah bahasa lainnya telah dipasang di sekitar seluruh headland.

    Petugas juga melakukan patroli pantai dan membagikan selebaran peringatan dalam enam bahasa. Selebaran tersebut dilengkapi gambar yang menjelaskan bahaya serta arah pergerakan arus balik.

    Pengawasan kawasan pesisir juga dilakukan menggunakan helikopter dan kapal patroli.

    Jika Terseret Arus, Berenang Sejajar dengan Pantai

    Ketua Oarai Surf Life Saving Club, Masatoshi Adachi, mengingatkan masyarakat agar tidak panik jika terseret arus dan tidak mencoba berenang langsung melawan arus menuju pantai.

    “Jika merasa terseret ke arah laut, berenanglah sejajar dengan garis pantai untuk keluar dari arus balik,” kata Adachi.

    Arus balik biasanya memiliki lebar sekitar 10 hingga 30 meter. Karena itu, berenang ke arah samping dinilai lebih efektif daripada berusaha langsung kembali ke daratan.

    Orang yang tidak yakin dengan kemampuan berenangnya disarankan mengapung untuk menghemat tenaga. Jika memiliki ban atau alat bantu apung, sebaiknya tetap digunakan sambil menggerakkan satu tangan secara lebar sebagai tanda meminta pertolongan.

    Pejabat Kepolisian Ibaraki, Takahito Someya, juga meminta masyarakat tidak memaksakan diri masuk ke laut untuk menyelamatkan korban.

    “Walaupun melihat seseorang terseret arus, jangan mencoba menolong secara paksa. Segera hubungi polisi atau Penjaga Pantai Jepang,” imbaunya.

    Komentar
    Additional JS