3 Alasan UEA Berlakukan Embargo Perdagangan Tanpa Batas kepada Iran - SindoNews
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Kamis, 20 Agustus 2026 - 05:15 WIB

UEA berlakukan embargo perdagangan tanpa batas kepada Iran. Foto/X/@albertdrosphoto
A A A
DUBAI - Uni Emirat Arab (UEA) memberlakukan embargo perdagangan tanpa batas waktu terhadap Iran setelah menuduh pasukan Iran menembakkan dua rudal balistik ke negara tersebut—sebuah tuduhan yang dibantah oleh Teheran.
Dalam sebuah pernyataan pada Rabu pagi, Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil "mengingat adanya eskalasi yang mengganggu perdamaian dan keamanan di kawasan".
"Segala bentuk perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran telah dihentikan hingga pemberitahuan lebih lanjut," tambah pernyataan tersebut.
4 Alasan UEA Berlakukan Embargo Perdagangan Tanpa Batas kepada Iran
1. 530 Rudal Balistik Iran Menarget UEA
Pernyataan itu muncul setelah Kementerian Pertahanan UEA menyebutkan bahwa sistem pertahanan udaranya mendeteksi dua rudal balistik yang diluncurkan dari Iran; satu rudal jatuh di luar perairan wilayah UEA, sementara satu lagi jatuh di dalam perairan tersebut.
Dalam pernyataan lanjutan, kementerian tersebut menyatakan bahwa rudal-rudal itu "menargetkan lalu lintas maritim" dan berjanji akan "menindak tegas setiap upaya yang mengganggu keamanan negara ataupun navigasi maritim di kawasan".
Kementerian Luar Negeri Iran menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya "tidak berdasar". Juru bicara Esmaeil Baghaei mengisyaratkan bahwa insiden itu merupakan "operasi bendera palsu" di tengah perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negaranya. Baghaei memperingatkan bahwa klaim tersebut "bertentangan dengan prinsip hidup bertetangga yang baik" dan mendesak pihak-pihak di kawasan untuk menjauhi apa yang disebutnya sebagai klaim tak berdasar terhadap Teheran, serta berargumen bahwa penilaian yang jujur atas situasi ini juga harus mempertimbangkan "tindakan jahat" AS dan Israel.
Serangan hari Selasa terjadi sehari setelah batas waktu 60 hari untuk pembicaraan damai AS-Iran berakhir tanpa adanya terobosan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari lima bulan tersebut.
Pada enam minggu pertama perang, Iran menargetkan UEA dengan serangan balasan lebih sering dibandingkan negara Teluk lainnya; Iran meluncurkan lebih dari 530 rudal balistik, puluhan rudal jelajah, dan lebih dari 2.200 pesawat nirawak (drone) ke arah apa yang mereka sebut sebagai aset AS. Serangan hari Selasa ini merupakan yang pertama menargetkan UEA sejak bulan Mei, dan terjadi beberapa hari setelah Abu Dhabi menuduh Teheran menyerang dua kapal milik perusahaan negara ADNOC (Abu Dhabi National Oil Company) di Selat Hormuz.
Iran tidak mengakui bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal ADNOC tersebut.
2. Iran Melakukan Blokade Selat Hormuz
Embargo perdagangan ini diberlakukan di tengah blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, di mana Presiden Trump mengisyaratkan peralihan ke arah tekanan ekonomi—alih-alih tekanan militer—untuk memaksa Teheran menerima tuntutan AS.
Mark Kimmitt, seorang pensiunan jenderal AS dan mantan Asisten Menteri Luar Negeri, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa embargo perdagangan UEA dapat memukul Iran lebih keras daripada langkah apa pun yang pernah diterapkan Washington; hal ini dikarenakan Dubai diam-diam telah menjadi mitra dagang terpenting Iran, mengungguli Tiongkok dan Turki dalam memasok sekitar sepertiga dari total impor tahunan Iran.
UEA sempat menghentikan pengiriman kargo langsung antara kedua negara pada awal Maret—hanya beberapa hari setelah perang pecah—dan baru melanjutkan kembali perdagangan pada akhir Juni melalui Pelabuhan Jebel Ali di Dubai.
"Menurut saya, pentingnya perdagangan—baik perdagangan keuangan maupun barang—antara Dubai dan Iran tidak bisa dianggap berlebihan ataupun diremehkan," ujar Kimmitt.
3. Sebagai Langkah Bersama Menekan Iran
Ketergantungan tersebut melampaui sekadar lalu-lalang barang di kapal, mengingat posisi Dubai sebagai pusat keuangan global. Menurut Kimmitt, posisi ini telah lama memberikan cara bagi Iran untuk memindahkan dana secara diam-diam guna menghindari sanksi internasional, sehingga embargo ini memutus jalur yang selama bertahun-tahun menjadi andalan Teheran. "Dalam banyak hal, embargo yang diterapkan UEA bahkan lebih signifikan dampaknya dibandingkan embargo yang diberlakukan oleh Amerika Serikat," ungkapnya.
Mantan jenderal tersebut mengatakan bahwa ia tidak memperkirakan negara-negara Teluk lainnya akan segera mengikuti langkah serupa, seraya memprediksi adanya sikap "menunggu dan melihat" (wait-and-see) meskipun serangan Iran terus berlanjut.
Namun, ia menilai langkah UEA tersebut cukup signifikan hingga dapat ditafsirkan oleh Teheran sebagai tindakan yang nyaris setara dengan tindakan perang, seraya menyamakannya dengan embargo hampir total yang diberlakukan AS terhadap Jepang setelah Perang Dunia II.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rekomendasi
Infografis

4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Terpopuler
1
2
3
4
5





