Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Konflik Timur Tengah Lebanon Spesial Tepi Barat UNESCO

    UNESCO Tetapkan 6 Situs di Tepi Barat dan Lebanon sebagai Warisan Dunia yang Terancam Punah - Tribunnews

    7 min read

     

    Tangkapan Layar YouTube Al Jazeera A-A+ WARISAN UNESCO. - Reruntuhan situs arkeologi Sebastia di dekat Nablus, Tepi Barat yang diduduki, yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia dalam Bahaya bersama lima kastil di Lebanon melalui prosedur darurat akibat ancaman konflik yang terus berlangsung. 
    Ringkasan Berita:
    • UNESCO menetapkan enam situs bersejarah di Tepi Barat yang diduduki dan Lebanon sebagai Warisan Dunia dalam Bahaya melalui prosedur darurat.
    • Keputusan itu diambil karena konflik yang dinilai mengancam kelestarian situs-situs tersebut, termasuk Sebastia dan lima kastil di Lebanon selatan.
    • Israel menolak keputusan itu dan menyebut penetapan tersebut bermuatan politik serta mengabaikan hubungan sejarah Yahudi dengan kawasan tersebut.

    TRIBUNNEWS.COM - Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan enam situs bersejarah di Tepi Barat yang diduduki dan Lebanon sebagai Situs Warisan Dunia dalam Bahaya.

    Keputusan tersebut diambil dalam sidang Komite Warisan Dunia UNESCO di Busan, Korea Selatan, pada Jumat (24/7/2026), melalui prosedur darurat karena dampak konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

    Enam lokasi yang ditetapkan terdiri atas situs arkeologi Sebastia di Tepi Barat yang diduduki serta lima kastel bersejarah di wilayah Gunung Amel, Lebanon selatan, termasuk Kastel Beaufort yang baru-baru ini direbut pasukan Israel.

    Keputusan itu disahkan meski Kementerian Luar Negeri Israel melakukan kampanye agar usulan tersebut ditolak.

    Sebastia Dinilai Terancam Proyek Israel

    Sebastia terletak di dekat Kota Nablus dan dikenal sebagai Samaria kuno, ibu kota Kerajaan Israel pada masa Alkitab.

    Situs tersebut menyimpan peninggalan dari Zaman Besi, Romawi, Bizantium hingga Islam.

    Tradisi Kristen dan Islam juga meyakini Yohanes Pembaptis dimakamkan di kawasan tersebut.

    Pemerintah Palestina pertama kali mengajukan Sebastia sebagai Situs Warisan Dunia pada 2012.

    Menurut Al Jazeera, Palestina menilai kawasan itu membutuhkan perlindungan karena Israel berencana mengambil alih sekitar 200 hektare lahan di sekitarnya untuk dijadikan taman nasional.

    Baca juga: Di Forum UNESCO, Indonesia Tegaskan Hak Jurnalis atas Kompensasi dari Platform Digital dan AI

    Rencana tersebut mencakup pembangunan pagar, jalan khusus bagi warga Israel, serta penerapan tiket masuk yang dinilai dapat mengganggu aktivitas ekonomi dan pariwisata masyarakat Palestina.

    UNESCO menyebut keutuhan Sebastia kini terancam oleh proyek pengembangan tersebut sehingga memenuhi syarat untuk memperoleh perlindungan darurat.

    Lima Kastel Lebanon Masuk Daftar Bahaya

    Selain Sebastia, UNESCO juga menetapkan lima kastel bersejarah di kawasan Gunung Amel, Lebanon selatan.

    Salah satunya adalah Kastel Beaufort atau Qalaat al-Shakif, benteng era Perang Salib yang direbut pasukan Israel pada Mei lalu saat operasi militer melawan Hizbullah.

    DW melaporkan, UNESCO menilai benteng-benteng tersebut mengalami kerusakan dan menghadapi ancaman serius akibat konflik sehingga layak masuk dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya.

    Kementerian Kebudayaan Lebanon menyatakan salah satu benteng, yaitu Benteng Shamaa, telah hancur akibat pemboman Israel.

    Pemerintah Lebanon juga memperingatkan Kastel Beaufort berada dalam ancaman.

    Namun Israel membantah tuduhan tersebut.

    Pemerintah Israel menuduh Hizbullah memanfaatkan Kastel Beaufort sebagai posisi militer dengan membangun jaringan terowongan di bawah kawasan itu.

    Delegasi Lebanon menolak tuduhan tersebut dan menegaskan seluruh kastel hanya digunakan untuk kepentingan budaya dan pariwisata sejak Israel menarik pasukannya dari Lebanon selatan pada 2000.

    Israel Kecam Keputusan UNESCO

    Penetapan tersebut kembali memperlihatkan ketegangan hubungan antara Israel dan UNESCO.

    Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar mengecam keputusan itu dan menilai penetapan Sebastia bertujuan menghapus hubungan historis bangsa Yahudi dengan wilayah tersebut.

    Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel juga menyebut nominasi Palestina sebagai bentuk "persenjataan warisan budaya".

    Baca juga: Prabowo Bentuk Komisi Khusus UNESCO, Fadli Zon Ditunjuk Jadi Panglima

    Seorang anggota delegasi Israel yang hadir sebagai pengamat di Busan mengatakan politisasi telah merusak kredibilitas UNESCO.

    Israel keluar dari UNESCO pada 2019 dengan alasan badan PBB tersebut bersikap bias terhadap negaranya.

    Warisan Budaya Terancam Konflik

    Delegasi Palestina menyambut baik keputusan tersebut.

    Perwakilan Palestina di UNESCO menyebut penetapan itu sebagai bentuk pengakuan terhadap upaya warga Sebastia menjaga situs bersejarah meski menghadapi pendudukan dan berbagai pembatasan.

    Sementara itu, Menteri Kebudayaan Lebanon Ghassan Salame menyebut keputusan UNESCO sebagai pencapaian penting untuk melindungi warisan sejarah negaranya.

    Awal pekan ini, kota kuno Tyre di Lebanon juga lebih dulu dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya.

    Investigasi citra satelit menunjukkan adanya pola pembongkaran dan kerusakan yang meluas di kawasan tersebut akibat konflik yang terus berlangsung.

    (Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

    Komentar
    Additional JS