Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Inggris Rusia Spesial

    Rusia Makin Kaya Saat Dikepung Sanksi Perang, Inggris Malah Merosot, Kok Bisa? - Tribunnews

    8 min read

     

    × Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia

    Rusia Makin Kaya Saat Dikepung Sanksi Perang, Inggris Malah Merosot, Kok Bisa?
     

    Ringkasan Berita:
    • Laporan UBS Global Wealth Report 2026 mencatat kekayaan bersih rumah tangga di Inggris turun 23,2 persen sepanjang 2020–2025, menjadi penurunan terdalam di antara negara-negara maju yang disurvei.
    • UBS menilai inflasi tinggi, krisis energi, lemahnya kenaikan harga properti, serta kinerja pasar saham menjadi faktor utama penyebab penurunan tersebut.
    • Sebaliknya, Rusia mencatat pertumbuhan kekayaan rata-rata per orang dewasa sebesar 36,9% selama periode yang sama, tertinggi kedua setelah Korea Selatan.

    TRIBUNNEWS.COM - Laporan tahunan lembaga keuangan global, UBS Global Wealth mencatat Inggris mengalami penurunan kekayaan rumah tangga paling tajam di antara negara-negara berpendapatan tinggi sejak pandemi Covid-19.

    Merujuk pada  UBS Global Wealth Report 2026, dalam periode 2020 hingga 2025, rata-rata kekayaan bersih per orang dewasa di Inggris menyusut 23,2% secara riil.

    Baca juga: Perang Satelit: Rusia Bangun Rassvet Tantang Starlink Milik Elon Musk

    Di sisi lain, laporan yang sama menempatkan Rusia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan kekayaan rumah tangga tercepat di dunia selama lima tahun terakhir.

    UBS Soroti Penurunan Kekayaan Rumah Tangga Inggris

    Laporan tahunan UBS mengukur kekayaan bersih rumah tangga (household net wealth), yaitu total nilai aset seperti rumah, tabungan, dan investasi setelah dikurangi seluruh kewajiban atau utang.

    Survei tersebut mencakup 56 negara dan wilayah, yang mewakili lebih dari 90% total kekayaan global.

    Menurut UBS, rata-rata kekayaan per orang dewasa di Inggris turun 23,2% sepanjang 2020–2025, menjadi penurunan terbesar di antara negara-negara maju yang masuk dalam penelitian.

    Sementara itu, kekayaan median per orang dewasa turun menjadi sedikit di atas 95.500 pound sterling atau sekitar US$126.500, sehingga rata-rata warga Inggris hanya sedikit lebih kaya dibandingkan warga Prancis, namun masih berada di bawah Italia dan Belanda.

    Inflasi dan Krisis Energi Jadi Faktor Utama

    Kepala Ekonom UBS, Paul Donovan, menyebut lonjakan inflasi pascapandemi menjadi penyebab utama menyusutnya kekayaan rumah tangga di Inggris.

    Menurutnya, kondisi tersebut semakin diperburuk oleh krisis energi yang terjadi setelah eskalasi konflik Ukraina pada 2022.

    Selain itu, Donovan juga menilai pertumbuhan harga properti di Inggris relatif lemah, sementara pasar saham domestik tertinggal dibandingkan pasar saham Amerika Serikat.

    Krisis Biaya Hidup Masih Membayangi

    Temuan UBS muncul ketika Inggris masih menghadapi tekanan biaya hidup.

    Data resmi yang dirilis pemerintah menunjukkan pendapatan riil rumah tangga yang dapat dibelanjakan (real household disposable income) kembali menurun pada kuartal pertama 2026 di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih lambat.

    Laporan tersebut juga terbit beberapa hari setelah Perdana Menteri Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya di tengah meningkatnya tekanan politik.

    Meski pemerintah sebelumnya menyebut inflasi mulai melandai dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) lebih baik dari perkiraan, sejumlah pengamat menilai banyak rumah tangga belum merasakan perbaikan taraf hidup akibat tingginya biaya hidup, kenaikan pajak, dan terus melemahnya daya beli.

    Kapal tanker pengangkut minyak milik Rusia yang tengah melintas lepas pantai Yaman menjadi sasaran salah tembak rudal Houthi. Foto: Al Arabiya.
    Kapal tanker pengangkut minyak milik Rusia yang tengah melintas lepas pantai Yaman. Foto: Al Arabiya. (Al Arabiya)

    Rusia Catat Pertumbuhan Kekayaan Terbesar Kedua

    Berbeda dengan Inggris, UBS melaporkan Rusia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan kekayaan paling tinggi selama periode 2020–2025.

    Rata-rata kekayaan per orang dewasa di Rusia meningkat 36,9% secara riil, menempatkannya di posisi kedua setelah Korea Selatan.

    Pencapaian tersebut dicatat terjadi meskipun Rusia telah menghadapi berbagai sanksi ekonomi dari negara-negara Barat selama lebih dari empat tahun.

    Laporan UBS tidak merinci secara khusus faktor-faktor yang mendorong kenaikan kekayaan rumah tangga Rusia dalam ringkasan temuan tersebut.

    Meski begitu, sejumlah analis menyebut kinerja ekonomi Rusia dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh sejumlah faktor yang muncul di tengah konflik dan sanksi Barat.

    Salah satunya adalah lonjakan harga energi. Pada awal perang, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global membuat harga minyak dan gas melonjak tajam.

    Kondisi ini memberikan keuntungan besar bagi Rusia karena tetap dapat mengekspor energi dengan harga tinggi, terutama ke negara-negara seperti China dan India.

    Faktor berikutnya adalah meningkatnya aktivitas industri pertahanan. Belanja pemerintah yang besar untuk memproduksi senjata, amunisi, dan kendaraan tempur mendorong perputaran uang di dalam negeri, meningkatkan aktivitas manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja.

    Dampaknya, indikator ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang kuat meski sebagian besar ditopang oleh belanja negara.

    Selain itu, mundurnya banyak perusahaan multinasional Barat dari Rusia membuka ruang bagi pelaku usaha domestik.

    Kekosongan pasar tersebut dimanfaatkan perusahaan lokal untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan omzet, dengan persaingan dari pemain asing yang jauh berkurang.

    Meski demikian, banyak ekonom menilai pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi yang sehat.

    Mereka menilai kinerja tersebut rentan karena dibayangi inflasi yang tinggi, lemahnya produktivitas sektor sipil, serta ketergantungan yang besar terhadap sektor energi dan belanja pertahanan.

    Krisis bahan bakar yang baru-baru ini dilaporkan media Barat menjadi indikasi dari kerentanan ini, meski sejumlah pihak menilai kalau laporan kelangkaan bahan bakar di Rusia terlalu di besar-besarkan.

    Ketergantungan ini dinilai dapat menjadi tantangan bagi keberlanjutan ekonomi Rusia dalam jangka panjang.

    Sebagai informasi, UBS Global Wealth Report merupakan laporan tahunan yang banyak dikutip media, lembaga riset, dan akademisi.

    Kredibilitas mereka berfokus pada menganalisis kekayaan rumah tangga di puluhan negara, menggunakan indikator household net wealth (aset dikurangi utang), mencakup lebih dari 90% kekayaan global, serta menyusun laporan berdasarkan data dari berbagai sumber resmi, seperti bank sentral, lembaga statistik nasional, dan organisasi internasional.

    (oln/rt/berbagai sumber/*)

    Komentar
    Additional JS