Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Dunia Internasional Featured Iran Konflik Timur Tengah Qatar Spesial

    Qatar Minta Warga Berlindung dari Rentetan Rudal Iran, Terdengar Ledakan, Puing-puing Berjatuhan - Tribunnews

    13 min read

     


    11:33 Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia
    Ringkasan Berita:
    • Amerika Serikat (AS) memperluas kampanye serangan udaranya terhadap Iran.
    • Iran meluncurkan serangan rudal baru terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Qatar.
    • Kementerian Dalam Negeri Qatar mengatakan puing-puing yang berjatuhan melukai seorang anak.

    TRIBUNNEWS.COM - Qatar dua kali memperingatkan warga untuk berlindung karena rentetan rudal Iran menargetkan negara tersebut, Jumat (17/7/2026).

    Amerika Serikat (AS) memperluas kampanye serangan udaranya terhadap Iran pada Jumat pagi dengan menghantam lebih banyak jembatan dan meruntuhkan sebuah menara di pelabuhan utama Iran.

    Hal itu sebagai bagian dari ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mulai menyerang infrastruktur guna menekan Teheran agar melonggarkan cengkeramannya di Selat Hormuz.

    Setelah itu, Iran meluncurkan serangan rudal baru terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Qatar, mediator utama dalam perang tersebut.

    Di Qatar, warga mendengar ledakan di atas kepala saat pertahanan udara menembak untuk mencegat rudal-rudal tersebut.

    Dilansir AP News, Kementerian Dalam Negeri Qatar mengatakan puing-puing yang berjatuhan melukai seorang anak.

    Qatar, bersama dengan Pakistan, adalah mediator kunci dalam upaya mengakhiri perang Iran.

    Namun, pembicaraan telah gagal karena cengkeraman Iran di Selat Hormuz.

    Iran juga menargetkan Bahrain dan Kuwait pada Jumat pagi.

    Militer Yordania mengatakan telah mencegat tiga rudal yang diluncurkan Iran pada Jumat pagi.

    Ledakan juga terdengar pada Jumat pagi di Irbil dan Sulaymaniyah di wilayah Kurdi semi-otonom Irak utara ketika pertahanan udara menargetkan tembakan yang datang.

    Belum ada laporan langsung mengenai kerusakan apa pun.

    Baca juga: Eskalasi Perang Iran Guncang Pasar Energi Global, Selat Hormuz Terganggu, Harga Minyak Dunia Naik

    Pada hari Jumat juga, sebuah kapal tanker diserang saat melintasi Selat Hormuz dengan mengambil rute terdekat ke Oman, kata militer Inggris.

    Laporan dari pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris Raya menyatakan bahwa kapal tersebut mengalami kerusakan ringan tanpa ada awak kapal yang terluka.

    Iran telah menyerang kapal tanker yang melintas di rute dekat Oman, tetapi belum segera mengakui adanya serangan tersebut.

    AS dan Iran Saling Serang

    Gencatan senjata sementara yang disepakati bulan lalu telah runtuh, dan kawasan itu telah mengalami serangan bolak-balik selama beberapa hari oleh AS dan Iran saat mereka memperebutkan kendali Selat Hormuz.

    Pejabat Iran mengatakan serangan AS telah menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya, dengan korban jiwa baru dilaporkan dalam serangan hari Jumat.

    Ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Teheran secara efektif menutup selat tersebut untuk lalu lintas pelayaran, sebuah langkah yang menyebabkan harga minyak melonjak dan memberi Iran pengaruh besar dalam negosiasi.

    Dalam pidato utamanya di hadapan publik Amerika, Trump bersikeras bahwa perang berjalan dengan baik.

    “Kita juga meraih kemenangan besar di Iran, dan Anda akan segera melihat hasil dari kerja keras itu,” kata Trump.

    Baca juga: Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Suriah, Ancam Hentikan Ekspor Minyak Lewat Selat Hormuz

    LEBIH DALAM - Tangkap layar Khbrn, Kamis (16/7/2026) yang menunjukkan titik serangan Amerika di Iran. Ibu kota, Teheran, juga kena bom.
    LEBIH DALAM - Tangkap layar Khbrn, Kamis (16/7/2026) yang menunjukkan titik serangan Amerika di Iran. Ibu kota, Teheran, juga kena bom. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

    AS Perluas Serangan

    Amerika Serikat (AS) mengintensifkan serangannya yang menargetkan Iran pada Kamis (16/7/2026) pagi waktu setempat.

    Serangan AS menghantam target lebih jauh ke utara, sementara pasukan AS juga menembaki sebuah kapal yang dituduh mencoba menerobos blokade angkatan lautnya terhadap Republik Islam tersebut.

    Iran langsung membalas dengan tembakan rudal dan drone yang menargetkan Bahrain, Yordania, dan Kuwait sebelum fajar.

    Negara-negara ini diketahui memiliki pangkalan militer Amerika Serikat.

    Para pejabat Iran mengatakan serangan AS telah menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.

    Diberitakan AP News, serangan juga mencapai daerah-daerah di sekitar ibu kota Iran, Teheran, untuk pertama kalinya dalam gelombang kekerasan terbaru ini.

    Ketika AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Teheran secara efektif menutup selat tersebut untuk lalu lintas pengiriman, sebuah langkah yang menyebabkan harga minyak, pupuk, dan banyak barang lainnya melonjak jauh di luar kawasan dan memberi Iran pengaruh besar dalam negosiasi.

    Baca juga: Iran Minta Houthi Tutup Jalur Laut Merah jika AS Serang Jaringan Listriknya, Pasokan Energi Terancam

    Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, mengisyaratkan rezim teokrasi Iran akan terus memperjuangkan selat tersebut, dan menggambarkan kendali Teheran atas jalur air itu pada hari Kamis sebagai "pencapaian yang sangat berharga."

    Serangan udara AS pada Kamis pagi menghantam sekitar Teheran, menurut laporan media pemerintah.

    Laporan itu menyebutkan serangan AS menargetkan provinsi Semnan, tempat produksi rudal balistik dan program luar angkasa Iran.

    Media Iran juga melaporkan serangan pada Kamis pagi di sekitar provinsi Hamedan, Hormozgan, Khuzestan, Lorestan, Markazi, dan Sistan dan Baluchistan.

    Pada Rabu (15/7/2026), AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran di siang hari, yang semakin menunjukkan peningkatan intensitas serangan.

    Serangan terhadap Pulau Greater Tunb, sebuah titik strategis di Selat Hormuz, menargetkan pertahanan dan situs rudal Iran, kata Komando Pusat.

    AS Blokade Selat Hormuz

    Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa (14/7/2026) pagi.

    Serangan terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington "memperbarui" blokade terhadap Iran di Selat Hormuz.

    Donald Trump secara terpisah mengisyaratkan Amerika Serikat akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal lain untuk jalur aman, yang membalikkan kebijakan AS selama ratusan tahun yang mendukung kebebasan navigasi di seluruh dunia.

    Iran membalas dengan serangan yang menargetkan Bahrain dan dua kapal tanker yang terkait dengan Uni Emirat Arab yang melintas di Selat Hormuz, menewaskan satu pelaut dan melukai delapan lainnya.

    ALTERNATIF SELAT HORMUZ - Tangkap layar Google Maps memperlihatkan Laut Merah dan Selat Hormuz.
    ALTERNATIF SELAT HORMUZ - Tangkap layar Google Maps memperlihatkan Laut Merah dan Selat Hormuz. (Tangkap Layar Google Maps)

    Serangan-serangan ini terjadi ketika Iran dan AS sama-sama bersaing untuk menguasai Selat Hormuz yang dulunya dilalui seperlima dari seluruh minyak mentah dan gas alam pada masa damai.

    Harga minyak mentah Brent acuan naik ke level tertinggi satu bulan di atas $84 pada perdagangan Selasa pagi, masih jauh di bawah hampir $120 yang dicapai pada puncak perang tetapi mengancam akan membuat biaya di mana-mana menjadi lebih tinggi.

    Pada Senin (13/7/2026), Trump mengatakan kepada pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt kesepakatan yang dicapai bulan lalu "dirancang untuk menguji" Iran.

    “Mereka tidak menghormati hasil tes tersebut,” kata Trump, seperti diberitakan AP News.

    Di sisi lain, Iran menegaskan mereka berhak mengatur lalu lintas melalui Selat Hormuz dan berpotensi mengenakan biaya sesuai dengan kesepakatan perdamaian sementara. Namun AS membantah hal itu.

    Militer Amerika dan Organisasi Maritim Internasional PBB telah berupaya membangun jalur melalui selat di sepanjang pantai Oman yang berada di luar kendali Iran.

    Iran telah menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur tersebut, dengan alasan AS melanggar kesepakatan perdamaian sementara.

    AS kemudian menyerang Iran sebagai balasan, yang memicu serangan Iran terhadap negara-negara Arab sekutu AS.

    Baku tembak dalam beberapa hari terakhir telah menimbulkan keraguan lebih lanjut terhadap kesepakatan perdamaian sementara.

    AS telah mencabut blokade yang diberlakukannya pada pertengahan April 2026 sebagai bagian dari kesepakatan itu, yang juga menyerukan agar selat tersebut dibuka kembali sepenuhnya.

    Namun, kini AS kembali menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran.

    “Kami memberlakukan kembali blokade Iran,” kata Trump di media sosial.

    “Semua negara lain akan memiliki hak penggunaan Selat yang adil dan terbuka," jelasnya.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Komentar
    Additional JS