Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Amerika Serikat Berita Featured Iran Konflik Timur Tengah Spesial

    Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran: Selat Hormuz Lebih Penting daripada Puluhan Bom Atom - Tribunnews

    9 min read

     


    11:33 Tok! 2 Sosok WNA Bakal Resmi Dinaturalisasi Jadi WNI & Bermain Sepak Bola untuk Timnas Indonesia
    Ringkasan Berita:
    • Negara-negara Barat menuduh Iran berupaya menciptakan bom atom.
    • Namun, Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai dan sipil.
    • Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk ekspor minyak dan gas dari Teluk.

    TRIBUNNEWS.COM - Penasihat pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Mohsen Rezaei, mengatakan Selat Hormuz lebih penting daripada “puluhan bom atom".

    Mohsen Rezaei pun bersumpah untuk melindungi jalur air vital tersebut.

    Selat Hormuz merupakan jalur utama untuk ekspor minyak dan gas dari Teluk, dan penutupannya selama perang telah berdampak besar pada ekonomi dunia.

    Iran bersikeras untuk mengendalikan jalur pelayaran dan berencana untuk mengenakan biaya, sebuah sikap yang ditolak Amerika Serikat (AS).

    Negara-negara Barat menuduh Iran berupaya menciptakan bom atom, tetapi Teheran bersikeras program nuklirnya adalah untuk tujuan damai dan sipil.

    “Jalur strategis ini lebih penting daripada puluhan bom atom, dan Republik Islam Iran akan melindunginya,” kata Mohsen Rezaei, Minggu (12/7/2026), seperti dikutip oleh kantor berita ISNA.

    Sementara itu, Iran mengumumkan akan menutup Selat Hormuz pada hari Minggu.

    Iran juga meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara tetangganya di Teluk, sebagai balasan atas serangan baru AS setelah serangan oleh pasukan Iran terhadap sebuah kapal dagang yang ditinggalkan dalam keadaan terbakar oleh awaknya.

    Ketegangan tersebut mengancam kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri perang Timur Tengah, yang meletus pada akhir Februari 2026 dengan serangan besar-besaran AS-Israel yang menewaskan mantan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.

    Hambatan utama untuk mencapai kesepakatan akhir adalah masa depan Selat Hormuz, yang ditutup Iran untuk pelayaran komersial selama perang.

    Pentagon mengatakan telah menyerang Iran pada Minggu pagi setelah Korps Garda Revolusi Islam menembaki kapal kontainer terdaftar di Siprus yang menurut mereka berlayar melalui "rute yang tidak sah" melalui Selat Hormuz.

    Baca juga: Produksi Drone Naik Tiga Kali Lipat, Iran: Kami Telah Hitung dan Pantau Akurat Kelemahan Musuh

    IRGC kemudian mengatakan mereka telah mengenai kapal kedua, menurut media pemerintah, menuduhnya "melanggar peraturan."

    Media Iran melaporkan ledakan di Bandar Abbas, Sirik, Jask, dan di Pulau Qeshm serta di provinsi Khuzestan, yang berbatasan dengan Irak, tanpa laporan langsung tentang korban jiwa.

    Beberapa jam kemudian, sirene serangan udara berbunyi di atas Bahrain, sementara Qatar mengatakan telah mencegat serangan rudal, dengan Doha mengatakan tiga orang terluka.

    Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional UEA kemudian mengatakan pada hari Minggu ancaman rudal yang terdeteksi pagi ini berada di luar perbatasan UEA dan mencatat situasinya tetap stabil.

    Kuwait juga mengatakan sedang berupaya mencegat serangan, sementara Yordania mengatakan tiga rudal Iran jatuh di wilayahnya.

    Lokasi di Musandam, Oman, telah menjadi sasaran serangan drone, lapor kantor berita negara.

    TERABAS BLOKADE AS - Ilustrasi kapal-kapal tanker di Selat Hormuz. Dilaporkan, kapal berentitas Iran mampu menerabas blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat.
    TERABAS BLOKADE AS - Ilustrasi kapal-kapal tanker di Selat Hormuz. Dilaporkan, kapal berentitas Iran mampu menerabas blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat. (HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

    Pernyataan IRGC

    Iran mengatakan menutup Selat Hormuz setelah sebuah kapal berlayar melalui rute yang tidak disetujui dan tertabrak, Minggu.

    Iran memperingatkan bahwa setiap pembalasan atas insiden tersebut akan ditanggapi dengan "respons yang keras."

    Beberapa kapal disebut mencoba untuk melewati jalur air tersebut melalui "rute yang tidak sah" dan mengabaikan peringatan untuk memperbaiki haluan mereka.

    Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz sebelum perang, dan blokade efektif Iran terhadap jalur air tersebut telah menyebabkan harga energi melonjak, yang memicu inflasi global.

    Menurut Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Selat Hormuz ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut dan sampai berakhirnya campur tangan Amerika Serikat (AS) di wilayah itu.

    "Sebuah kapal yang telah membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya tertabrak dan dihentikan," kata IRGC dalam sebuah pernyataan, tanpa memberikan detail tentang kapal tersebut, dilansir Al Arabiya.

    "Tindakan agresi terhadap Iran akan ditanggapi dengan respons yang keras, dan pangkalan musuh baru di wilayah tersebut akan menjadi sasaran," lanjut IRGC.

    IRGC juga mengumumkan mereka telah mengenai kapal kedua di Selat Hormuz.

    “Kapal kedua yang dituduh melanggar peraturan di Selat Hormuz telah diserang,” kata IRCG dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah, IRIB.

    AS Minta Iran Setop Serang Kapal

    Amerika Serikat menuntut agar Iran secara terbuka menyatakan akan menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, dan semua jalur akan dibuka tanpa biaya tol melalui jalur air tersebut.

    Hal ini sebagaimana disampaikan para pejabat senior AS kepada wartawan pada Jumat (10/7/2026).

    Baca juga: Putaran Ketiga Serangan AS Hantam Lebih dari 140 Target Iran: Selat Hormuz Ditutup Lagi

    Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Jumat AS dan Iran telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan meskipun terjadi peningkatan permusuhan minggu ini, sekaligus menyatakan berakhirnya gencatan senjata.

    Sebuah sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters Iran, AS, Qatar, dan Pakistan telah sepakat untuk bernegosiasi dalam panggilan telepon yang coba diatur oleh para mediator untuk hari Sabtu, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berada di Oman.

    Araghchi dan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi bertemu di Oman untuk bertukar “pandangan tentang mekanisme yang tepat untuk jalur aman kapal melalui Selat Hormuz,” menurut pernyataan dari menteri luar negeri Iran.

    Kantor berita negara Oman kemudian mengatakan para negosiator Oman dan Iran akan melanjutkan pembicaraan “pada tingkat teknis dan politik.”

    Oman membantu menengahi pengakhiran perang yang telah menggoyahkan stabilitas Teluk dan menaikkan harga di seluruh dunia sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Komentar
    Additional JS