Mojtaba Khamenei Kembali Nyatakan Dukungan kepada Hizbullah, Desak Israel Stop Serang Lebanon - Tribunnews
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kembali menegaskan dukungan Teheran kepada Hizbullah
Tayang:
HO/IST/Press TV
IRAN DUKUNG HIZBULLAH - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Ali Khamenei yang tewas oleh serangan AS sebagai pemimpin baru Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kembali menegaskan dukungan Teheran kepada Hizbullah
Ringkasan Berita:
- Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kembali menegaskan dukungan Teheran kepada Hizbullah dan mendesak penghentian tanpa syarat serangan Israel terhadap Lebanon.
- Iran menyatakan penghentian agresi Israel dan terjaganya integritas wilayah Lebanon menjadi syarat utama bagi setiap kesepakatan damai.
- Meski telah ada perjanjian kerangka kerja yang dimediasi Amerika Serikat, Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah Lebanon selatan.
TRIBUNNEWS.COM - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, pada Minggu (27/7), kembali menegaskan dukungan Teheran terhadap kelompok Hizbullah Lebanon serta menyerukan penghentian secara menyeluruh dan tanpa syarat atas serangan Israel ke Lebanon.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan di platform media sosial X sebagai tanggapan atas surat pernyataan kesetiaan yang dikirim Sekretaris Jenderal Hizbullah beserta para anggotanya.
Dalam pernyataannya, Khamenei mengatakan Republik Islam Iran menetapkan pelestarian integritas teritorial Lebanon dan penghentian penuh agresi Israel sebagai syarat utama bagi setiap kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Ia juga menyebut Hizbullah sebagai 'batu karang yang tak tergoyahkan' sekaligus pelopor kelompok-kelompok yang menentang serangan Israel.
Baca juga: UNESCO Tetapkan 6 Situs di Tepi Barat dan Lebanon sebagai Warisan Dunia yang Terancam Punah
Selain itu, Khamenei menyatakan bahwa masyarakat dunia telah jenuh terhadap apa yang ia sebut sebagai tirani dan penindasan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Menurutnya, tidak ada jalan lain selain "jihad dan perlawanan" dalam menghadapi situasi tersebut.
Di sisi lain, konflik di Lebanon masih terus berlangsung. Berdasarkan data resmi pemerintah Lebanon, sejak 2 Maret serangan Israel telah menewaskan 4.330 orang dan melukai 12.236 lainnya.
Sementara itu, pada 26 Juni lalu, Lebanon dan Israel menandatangani perjanjian kerangka kerja yang dimediasi AS mengenai penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki.
Namun, kesepakatan tersebut tidak menetapkan tenggat waktu penarikan.
Perjanjian itu mengaitkan penyelesaian proses penarikan dengan pengambilalihan penuh tanggung jawab keamanan oleh tentara Lebanon di wilayah yang ditinggalkan pasukan Israel serta pelucutan senjata kelompok-kelompok non-negara, termasuk Hizbullah.
Hingga kini, Israel masih mempertahankan kehadirannya di sejumlah wilayah Lebanon selatan, baik yang telah didudukinya selama beberapa dekade maupun wilayah yang direbut dalam konflik yang berlangsung antara Oktober 2023 hingga November 2024.
(*)