Iran Tebar Ancaman Balas Dendam, Trump hingga Pemimpin Eropa Masuk Daftar Target Sasaran - Tribunnews

Ringkasan Berita:
- Iran rilis daftar 13 pemimpin dunia yang disebut bertanggung jawab atas tewasnya Ali Khamenei, termasuk Presiden AS Donald Trump, PM Netanyahu, serta sejumlah pemimpin Eropa.
- Teheran menuding negara-negara Barat turut berperan dalam konflik, memberikan akses wilayah udara bagi operasi militer Amerika Serikat.
- Putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, menegaskan Iran akan membalas kematian ayahnya, memicu kekhawatiran internasional akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, setelah Iran menerbitkan daftar sejumlah pemimpin dunia yang disebut berpotensi menjadi sasaran balas dendam atas tewasnya mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Daftar tersebut dipublikasikan surat kabar pemerintah Iran, Hamshahri melalui sebuah infografis yang diunggah secara daring pada Jumat malam (10/7/2026).
Dalam infografis tersebut, sedikitnya terdapat 13 tokoh dunia yang disebut sebagai pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan Khamenei. Nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada di urutan teratas daftar tersebut.
Selain itu, sejumlah pejabat senior Amerika Serikat juga turut dimasukkan, di antaranya Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Tidak hanya Amerika Serikat dan Israel, beberapa pemimpin negara Eropa juga masuk dalam daftar yang dipublikasikan media Iran tersebut.
Mereka antara lain Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, serta Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Masuknya sejumlah pemimpin Eropa dalam daftar tersebut bukan tanpa alasan. Selama konflik berlangsung, pemerintah Iran menuding negara-negara Eropa gagal mengecam serangan terhadap wilayahnya.
Teheran juga menuduh beberapa negara Eropa secara tidak langsung membantu operasi militer Amerika Serikat dengan memberikan akses penggunaan wilayah udara mereka bagi pesawat militer AS.
Baca juga: Iran Larang Negara-Negara Teluk Jadi Pijakan bagi Serangan AS
Tudingan tersebut semakin memperburuk hubungan diplomatik antara Iran dengan negara-negara Barat yang selama ini telah diwarnai berbagai perselisihan, mulai dari program nuklir Iran hingga berbagai konflik regional di Timur Tengah.
Meski daftar tersebut telah beredar luas, hingga saat ini belum ada indikasi bahwa daftar yang diterbitkan Hamshahri merupakan dokumen resmi pemerintah Iran.
Dalam pesan yang dikutip Straits Times, Mojtaba Khamenei memang menyebut bahwa Iran telah menyusun daftar individu yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Namun ia tidak pernah menyebutkan nama-nama secara spesifik.
Karena itu, para pengamat menilai daftar yang dipublikasikan media tersebut lebih mencerminkan sikap politik kelompok konservatif di Iran dibandingkan kebijakan resmi negara.
Putra Khamenei Bersumpah Akan Balas Kematian Ayahnya
Meski daftar tersebut telah beredar luas, hingga kini belum ada indikasi bahwa daftar yang diterbitkan surat kabar Hamshahri merupakan dokumen resmi pemerintah Iran.
Kendati demikian, kemunculan daftar tersebut mendapat perhatian internasional karena muncul tidak lama setelah pernyataan putra sekaligus penerus politik Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei.
Dalam pesan terbarunya, Mojtaba memang menyebut bahwa Iran telah menyusun daftar individu yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Namun, ia tidak mengungkapkan secara rinci siapa saja nama yang masuk dalam daftar tersebut.
Tak hanya itu, dalam pernyataannya pada 11 Juli, Mojtaba juga menegaskan bahwa pembalasan atas kematian Ali Khamenei merupakan kehendak rakyat Iran dan pada akhirnya akan tetap dilaksanakan.
"Pembalasan dendam adalah kehendak bangsa kita dan pasti harus dilaksanakan," ujar Mojtaba dalam pesannya.
Ia juga memperingatkan bahwa pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ayahnya tidak akan pernah memperoleh akhir hidup yang tenang.
Pernyataan tersebut segera memicu perhatian dan kekhawatiran dunia internasional karena dinilai berpotensi memperburuk situasi keamanan global yang hingga kini masih berada dalam kondisi rentan akibat konflik yang terus berkembang di Timur Tengah.
Keberadaan Mojtaba Khamenei Masih Jadi Sorotan
Di sisi lain, keberadaan Mojtaba Khamenei sendiri masih menjadi sorotan publik internasional. Ia belum terlihat di hadapan publik sejak sebelum perang pecah, sementara sejumlah laporan menyebut dirinya mengalami luka dalam serangan yang menewaskan ayahnya pada hari pertama konflik Timur Tengah pada 28 Februari lalu.
Kemunculan pesan terbaru Mojtaba dinilai menjadi sinyal bahwa kepemimpinan baru Iran kemungkinan akan mengambil sikap yang lebih keras terhadap Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara sekutunya.
Jika retorika balas dendam tersebut berkembang menjadi tindakan nyata, para analis memperingatkan bahwa kawasan Timur Tengah berpotensi menghadapi eskalasi konflik yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya.
(Tribunnews.com / Namira)