Iran Dihujani Serangan, Trump Ngaku Ingin Berdiplomasi saat Militer AS Terus Gempur Teheran - Era Kini
WASHINGTON, (ERAKINI) - Kontradiksi kembali mewarnai kebijakan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Di tengah rentetan serangan militer yang terus menghantam berbagai wilayah strategis Republik Islam, Presiden AS, Donald Trump, justru mengklaim masih membuka pintu diplomasi dengan Teheran.
Pernyataan tersebut disampaikan Gedung Putih pada Kamis saat hubungan kedua negara kembali memanas akibat operasi militer Amerika yang berlangsung tanpa henti selama beberapa hari terakhir.
Meski Washington terus meningkatkan tekanan militer, pemerintah AS mengakui bahwa komunikasi dengan Iran masih berjalan dan peluang perundingan belum sepenuhnya tertutup.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan Presiden Trump tetap bersedia menempuh jalur diplomatik meskipun ketegangan terus meningkat. "Presiden akan meminta pertanggungjawaban mereka ketika mereka mengingkari janji yang mereka sampaikan kepada Amerika Serikat. Namun, pada saat yang sama, beliau selalu terbuka terhadap diplomasi," ujar Leavitt kepada wartawan.
Ia juga mengklaim bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung. "Mereka telah menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan dengan Presiden. Kami sedang berkomunikasi dengan mereka, namun sekali lagi, Presiden tidak akan membiarkan mereka menembaki kapal-kapal di selat tersebut tanpa menanggung konsekuensinya," katanya.
Pernyataan mengenai diplomasi itu muncul ketika militer Amerika justru melanjutkan operasi tempurnya terhadap Iran untuk malam kelima secara berturut-turut. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan terbaru dilakukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran.
Operasi yang dimulai sekitar pukul 18.00 GMT itu menargetkan sejumlah kawasan strategis yang memiliki nilai penting bagi pertahanan Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa proyektil-proyektil Amerika menghantam Pulau Qeshm serta wilayah di sekitar Bandar Abbas, lokasi pelabuhan terbesar Iran yang juga menjadi salah satu pusat aktivitas Angkatan Laut dan Garda Revolusi Iran di kawasan Selat Hormuz.
Serangan tersebut semakin memperburuk situasi setelah kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Juni lalu berada di ambang kehancuran akibat terus berlanjutnya aksi militer Washington.
Tak hanya itu, Trump juga mengancam akan memperluas operasi militernya dengan menyasar infrastruktur vital Iran apabila Teheran menolak kembali ke meja perundingan. "Minggu depan situasinya akan menjadi sangat buruk bagi mereka," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Di tengah tekanan militer dan ancaman yang terus meningkat, Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan hanya akan memiliki arti apabila seluruh pihak benar-benar menghormati dan menjalankan isi perjanjian tersebut.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, menekankan bahwa perjanjian tidak dapat dijadikan alat tekanan sepihak. "Sebuah kesepakatan hanya memiliki makna jika klausul-klausulnya sah dan benar-benar dilaksanakan," tegas Ghalibaf.
Pernyataan itu mencerminkan sikap Teheran yang menolak tunduk pada tekanan militer sembari tetap menuntut penghormatan terhadap komitmen yang telah disepakati sebelumnya.
Perselisihan antara kedua negara kembali berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia. Meski sempat dibuka kembali setelah kesepakatan sementara antara Iran dan Amerika Serikat pada Juni lalu, Teheran pekan lalu menegaskan bahwa jalur tersebut dapat kembali ditutup selama agresi militer terhadap Iran masih berlangsung. "Sampai AS mengakhiri agresinya," demikian posisi yang disampaikan Iran terkait kemungkinan penutupan kembali Selat Hormuz.
Sementara itu, Amerika Serikat juga kembali memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran, sebuah langkah yang dipandang Teheran sebagai bentuk tekanan ekonomi dan militer terhadap kedaulatan negara tersebut.
Di tengah meningkatnya konflik, Trump menyambut kabar mengenai seorang warga negara Amerika yang disebut telah dibebaskan dari Iran sebagai bentuk niat baik. Pengacara hak asasi manusia, Jared Genser, mengidentifikasi perempuan tersebut sebagai Dena Karari. Menurut Genser, Karari telah berada di Iran sejak Desember 2024 akibat tuduhan yang dianggap tidak berdasar. "Terjebak di Iran sejak Desember 2024 akibat tuduhan palsu" dan kini "dalam keadaan aman serta sedang dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat," katanya.
Namun, pemerintah Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan tidak ada pembebasan sebagaimana yang diberitakan oleh pihak Amerika.
Di tengah ancaman Washington untuk memperluas serangan hingga menyasar pembangkit listrik dan jembatan, militer Iran mengeluarkan peringatan tegas. Juru bicara markas besar militer Iran menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur vital negara itu akan memicu konsekuensi besar bagi kawasan. "Seluruh infrastruktur di kawasan tersebut akan dihancurkan," tegasnya.