AS dan Iran Kembali Saling Serang, China Bereaksi -
HERALD.ID – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara dilaporkan kembali terlibat aksi saling serang. Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran dunia karena berpotensi mengganggu stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
Di tengah situasi tersebut, China mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri serta menghindari langkah-langkah yang dapat memperluas konflik.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan Beijing sangat prihatin atas meningkatnya kembali ketegangan di kawasan Teluk, terutama setelah Amerika Serikat mengumumkan rencana pemberlakuan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz.
“China sangat prihatin atas dimulainya kembali konflik militer di wilayah Teluk,” ujar Lin Jian kepada wartawan di Beijing.
Menurut Lin, seluruh pihak perlu mendengarkan seruan masyarakat internasional untuk menjaga perdamaian dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi.
Ia menegaskan semua pihak harus tetap tenang, menahan diri, mempertahankan gencatan senjata yang telah dibangun sebelumnya, serta mencegah pecahnya konflik yang lebih luas.
“Penghormatan terhadap hak dan kepentingan sah negara-negara pesisir Selat Hormuz, serta dimulainya kembali pelayaran yang normal dan aman di selat tersebut secepat mungkin, adalah apa yang ingin dilihat komunitas internasional,” katanya.
China juga menyerukan agar seluruh pihak mengedepankan dialog guna mencari solusi damai atas konflik yang kembali memanas.
“Pihak-pihak terkait perlu bekerja ke arah yang sama dan mencapai penyelesaian yang tepat,” lanjut Lin.
Pernyataan pemerintah China muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer antara AS dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan itu berpotensi memengaruhi pasokan energi global sekaligus memicu gejolak harga minyak internasional.
Ketegangan terbaru terjadi setelah hubungan kedua negara kembali memburuk menyusul berakhirnya gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi oleh Qatar dan Pakistan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Juli mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak lagi berlaku setelah permusuhan kembali pecah.
Perkembangan tersebut menandai babak baru dalam konflik AS-Iran yang kini kembali menjadi perhatian masyarakat internasional karena dinilai berpotensi mengganggu stabilitas politik dan ekonomi global. (*)