6 Negara yang jadi Sasaran Rudal Iran dalam Sepekan, Pangkalan Militer AS Langsung Luluh Lantak - Tribunnews
Ringkasan Berita:
- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis daftar negara yang menjadi sasaran rudal mereka dalam sepekan terakhir.
- Serangan yang bertajuk Operasi Nasr 2 ini, dilancarkan sebagai respons atas gelombang serangan udara dan operasi militer terbaru yang digelar pasukan AS di wilayah selatan Iran.
- Berdasarkan rilis IRGC, keenam negara tersebut adalah Yordania, Bahrain, Kuwait, Oman, Suriah, hingga Qatar.
TRIBUNNEWS.COM - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan daftar negara yang menjadi target rudal mereka dalam sepekan terakhir.
Keenam negara tersebut menjadi lokasi berdirinya pangkalan militer Amerika Serikat (AS).
Serangan yang bertajuk Operasi Nasr 2 ini, dilancarkan sebagai respons atas gelombang serangan udara dan operasi militer terbaru yang digelar pasukan AS di wilayah selatan Iran.
Berdasarkan rilis IRGC yang dihimpun WANA, keenam negara tersebut adalah Yordania, Bahrain, Kuwait, Oman, Suriah, hingga Qatar.
Di Bahrain, serangan Iran dilaporkan menghantam Markas Besar Armada Kelima AS, fasilitas radar peringatan dini C-RAM, gudang senjata, serta fasilitas pemeliharaan helikopter di Pangkalan Udara Shaikh Isa.
Selain itu, IRGC mengklaim menembak pusat data intelijen militer Batelco dan jaringan pusat AI utama di negeri tersebut.
Sementara di Kuwait, gelombang rudal dan drone Iran menyasar Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber.
Serangan tersebut diklaim merusak radar strategis FPS, sistem rudal pertahanan Patriot, unit peluncur HIMARS, hingga markas logistik Angkatan Darat AS di Mina Abdullah serta dermaga dukungan bahan bakar di Pelabuhan Al Ahmadi.
Di Yordania, Pangkalan Udara Muwaffaq Al Salti (Azraq) dan Pangkalan Udara Pangeran Hassan menjadi sasaran empuk.
IRGC mengklaim berhasil menghancurkan beberapa jet tempur jenis F-15, F-16, dan F-35, hanggar drone MQ-9, serta tangki penyimpanan bahan bakar dan depot rudal utama milik AS.
Tidak hanya pangkalan udara besar, serangan Iran juga menjangkau titik-titik pengawasan laut dan udara AS di kawasan Teluk Persia.
Baca juga: Nyawa 50 Ribu Tentara AS Terancam, Media Sebut Trump Kesulitan Hadapi Serangan Iran
Di Oman, radar pengawas maritim di Salamah Rocks serta sistem radar udara di Ghanam dilaporkan tak luput dari gempuran.
Lalu di Suriah, IRGC mengklaim menggempur pusat komando Operasi Khusus AS di Pangkalan Al-Tanf, melumpuhkan helikopter tempur, dan menyebabkan tewasnya sejumlah prajurit AS.
Sementara di Qatar, serangan dikabarkan menyasar sistem radar jarak jauh dan pesawat tanker pengisi bahan bakar udara di Pangkalan Udara Al Udeid.
Melalui pernyataan resminya, IRGC memberikan peringatan terbuka kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk yang menampung basis militer AS.
Teheran menegaskan, setiap wilayah yang dijadikan pijakan oleh Washington untuk menyerang infrastruktur maupun warga sipil Iran akan mendapatkan balasan yang setimpal.
100 Prajurit AS Terluka
Dalam sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh Pentagon, sebanyak 100 tentara AS terluka dalam beberapa serangan udara Iran.
Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell mengatakan, hampir 100 orang terluka dan 96 persen di antaranya telah kembali bertugas.
"Mereka bertekad untuk kembali berperang. Sebagian besar cedera yang dialami adalah gegar otak ringan," ucap Parnell kepada CBS News.
Sistem Analisis Korban Pertahanan (DCAS) militer mencatat 413 anggota militer AS terluka dalam pertempuran sejak awal konflik AS-Iran.
Di tempat lain di situs web DCAS, militer mencatat 427 cedera.
Baca juga: Perang Iran-AS Memasuki Babak Baru, Teheran Deklarasikan Perang Total, Diplomasi Terancam Gagal
Sekitar 14 warga AS telah tewas, tidak termasuk kematian akhir pekan lalu.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah bersumpah untuk membalas kematian pasukannya di Yordania dan Irak.
"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat!" tegas Trump.
Dia mengatakan arahan itu telah disampaikan kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, dan para pemimpin militer lainnya.
Gedung Putih mengatakan pada hari Senin (20/7/2026), Trump akan menghadiri upacara pemindahan jenazah para anggota militer yang gugur secara terhormat.
(Tribunnews.com/Whiesa)